Rumah Minimalis, Antara Keinginan dan Kemampuan

Kita sering mendengar bahwa manusia mempunyai berbagai macam kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan tersebut secara umum digolongkan menjadi kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Seiring dengan berjalanannya waktu, kebutuhan-kebutuhan dari berbagai golongan tersebut kadang berubah posisi. Misalnya handphone yang dalam 1-2 dekade lalu masih berada di golongan kebutuhan tersier atau sekunder, sekarang menjadi golongan kebutuhan primer. Tetapi, ada 3 macam kebutuhan yang akan selalu ada di satu golongan primer, yaitu papan, sandang, dan pangan. Perjalanan hidup seseorang di dunia ini akan selalu berkaitan dengan ketiga kebutuhan primer tersebut. Pangan jelas dibutuhkan bagi semua makhluk hidup. Tanpa pangan, sudah tentu kehidupan akan berakhir. Sandang juga dibutuhkan bagi semua makhluk hidup yang mempunyai akal sehat dan logika. Sedangkan untuk papan atau tempat tinggal, normalnya tentu akan dibutuhkan bagi setiap manusia. Sekalipun hanya emperan toko untuk sekedar tidur dan berteduh. Tetapi apabila kita berbicara normal, tentu setiap orang mempunyai keinginan masing-masing tentang tempat tinggal idamannya. Dewasa ini banyak tempat tinggal dengan berbagai jenis, mulai dari yang on the ground (di atas tanah), highrise building, sampai rumah terapung. Semua mempunyai karakteristik masing-masing dan tentunya kesesuaian dengan penghuninya. Ada satu tipe rumah yang populer saat ini, baik yang on the ground, highrise building, atau rumah terapung, yaitu tipe minimalis, atau sebenarnya penyebutan yang lebih tepat adalah rumah dengan gaya minimalis. Gaya seperti apakah itu?

Saya mau gaya rumah minimalis. Begitu kira-kira ucapan yang sering di dengar para developer, pemborong, kontraktor, arsitek, interior designer, dll tentang keinginan seorang calon pemilik rumah. Sebenarnya apa itu rumah minimalis? Menilik dari susunan bahasa, maka “rumah minimalis” mempunyai rumus DM alias Diterangkan Menerangkan. Subyek “rumah” diterangkan oleh sebuah keterangan yaitu “minimalis”. Jadi, penekanan pada kalimat “rumah minimalis” adalah pada  segi keterangannya yaitu kata “minimalis”. Apa makna dari minimalis? Secara umum, minimalis adalah sebuah keterangan yang menunjukkan sebuah kondisi/bentuk/keadaan yang bersifat minimal atau sederhana. Keterangan minimalis awalnya tidak untuk bidang arsitektur, tetapi untuk sebuah seni rupa yang menggunakan pola/bentuk dasar dari sebuah benda. Bentuk-bentuk tersebut antara lain adalah persegi, segitiga, dan bulat. Dari situlah kemudian kata minimalis ini menyebar ke berbagai aspek, termasuk arsitektur bangunan. Di Indonesia, gaya rumah seperti ini sedang mewabah dimana-mana. Secara umum, rumah minimalis ini tidak perlu membangun/membuat sesuatu yang berada di luar fungsi. Misalnya, dinding luar rumah tidak perlu diberi ornamen/profil tetapi hanya berupa dinding polos saja. Ataupun pagar rumah yang hanya berupa jeruji besi kotak tanpa adanya ornamen lengkung, bunga, ujung tombak, dll. Tetapi apakah sebenarnya yang membuat orang-orang tertarik dengan rumah bergaya ini? Mari kita urai bersama.

Hampir semua developer di Indonesia menawarkan rumah dengan gaya minimalis. Hanya segelintir saja yang menyediakan bergaya lainnya, misalnya Mediterranean, Victorian, Art Deco, atau Colonial. Rumah bergaya Minimalis memang lebih mudah untuk dibangun, baik dari segi perencanaan maupun pengerjaan di lapangan. Secara kasat mata, tentu diiringi dengan biaya yang lebih murah. Sebelumnya, mari kita simak gaya-gaya rumah yang populer sebelum era minimalis merebak.

med

Mediterranean Style

Rumah dengan gaya Mediterania akan sangat mudah dikenali di Indonesia. Gaya rumah seperti ini sempat booming di berbagai developer. Namun untuk saat ini, hanya developer di tingkat real estate saja yang kadang masih menggunakan rumah dengan gaya seperti ini. Tentu kaitannya dengan biaya pembangunan yang cukup tinggi. Ciri utama rumah dengan gaya Mediterania adalah atap rumah yang menggunakan genteng tanah liat atau genteng beton berwarna bata, jendela/pintu yang diberi aksen lengkung, penggunaan besi tempa untuk pagar atau teralis, penggunaan profil/ornamen/batu alam pada dinding, jendela, pintu, dan juga terdapat banyak lubang angin. Selain itu, biasanya area yang rawan terkena air hujan atau terik matahari akan diberi kanopi yang cukup lebar untuk menghalangi air hujan atau paparan sinar matahari yang berlebihan. Gaya rumah ini mengadopsi pada karakteristik rumah-rumah di daerah Mediterania yang memang beriklim panas. Oleh karena itu, gaya rumah ini cocok untuk digunakan di daerah beriklim tropis seperti Indonesia. Material pembangunan yang berupa tanah liat (bata) membuat rumah dengan gaya ini semakin populer di Indonesia.

8a54d19c397223861715a31d30ac3dcb

Victorian Style

Rumah dengan gaya Victorian agaknya susah dijumpai di Indonesia. Rumah dengan gaya seperti ini erat kaitannya dengan budaya British. Ciri utama rumah dengan gaya Victorian adalah adanya bentuk-bentuk dasar (bulat, segitiga, persegi) yang disatukan seolah-olah berimpitan. Rumah dengan gaya seperti ini mengadopsi dari bentuk kastil atau istana kerajaan di wilayah Great Britain. Selain bentuknya yang menjulang tinggi, rumah dengan gaya ini biasanya mempunyai jendela gantung atau biasa disebut Bay Window, yaitu jendela yang menjorok ke arah luar. Rumah bergaya Victorian juga mempunyai teras yang berdiri sendiri alias tidak menyatu dengan bangunan utama.

southern-colonial-house-style-southern-colonial-style-house-southern-colonial-style

Colonial Style

Selain rumah bergaya Mediterania, terdapat satu gaya lagi yang cukup populer di Indonesia, yaitu gaya Colonial. Ciri dari rumah bergaya Colonial adalah bentuknya yang simetris, mempunyai pintu utama di bagian tengah, mempunyai jumlah jendela/bouven yang cukup banyak, dan yang paling kentara adalah penggunaan pilar-pilar batu di depan rumah. Di Indonesia, kadang pilar-pilar batu tersebut digantikan oleh beton atau kayu persegi. Durasi penjajahan Belanda yang cukup lama membuat rumah bergaya Colonial ini cukup banyak tersebar di seluruh nusantara. Bahkan bangunan-bangunan peninggalan era Colonial di Indonesia pun masih cukup banyak yang dalam kondisi prima.

top-modern-minimalist-house-design-examples1

Minimalist Style

Gaya-gaya rumah yang telah dijabarkan sebelumnya, tentu tidak akan mudah untuk dimiliki bagi setiap kalangan. Biaya yang tinggi akan mengiringi rumah-rumah dengan gaya tersebut. Selain itu, tidak akan mudah juga untuk dibangun apabila sumber daya yang ada tidak memadai, baik tenaga kerja maupun material. Oleh karena itu, muncullah gaya rumah Minimalis yang kemudian populer di masyarakat. Bentuk-bentuk yang digunakan sangat sederhana. Tidak ada permainan bentuk lengkung, ornamen dinding, kanopi lebar, atau atap yang tumpang tindih. Jendela dan pintu pun amat sederhana, hanya berupa persegi. Teralis jendela atau pagar yang digunakan juga hanya menggunakan bentuk jeruji sederhana. Tanpa adanya hiasan ornamen dan tanpa finishing khusus misalnya besi tempa. Gaya rumah Minimalis ini benar-benar menerapkan prinsip 3T dalam dunia konstruksi, yaitu Tepat Guna, Tepat Biaya, dan Tepat Waktu. Untuk memberikan sentuhan artistik, biasanya rumah bergaya Minimalis hanya mengandalkan permainan cat pada dindingnya. Tentu saja gaya Minimalis disini adalah sebuah gaya yang memang diberikan sebagai sentuhan fasad sebuah rumah, bukan karena membangun rumah ‘seadanya’ dengan tujuan yang penting layak ditempati.

Dengan menjamurnya rumah bergaya Minimalis di Indonesia, belum bisa dipastikan apakah memang karena didasari oleh keinginan si pemilik rumah ataukah karena adanya keterbatasan dari segi biaya. Apabila kita melihat di berbagai developer, dengan luas bangunan yang sama, maka rumah bergaya Minimalis akan mempunyai harga yang (biasanya) lebih murah daripada gaya lainnya, misalnya Mediterania. Masuk akal, karena gaya Minimalis tidak membutuhkan bentuk atau hiasan rumit di sekujur bangunan. Wajar apabila rumah bergaya Minimalis akhirnya banyak dipilih oleh calon pemilik. Dengan harga yang lebih murah, tentu ini juga akan memudahkan developer dalam menjual rumah. Sebuah situasi yang win-win solution. Tetapi apakah rumah bergaya minimalis akan cocok di Indonesia? Sekali lagi, yang dimaksud gaya Minimalis disini adalah sentuhan pada fasad bangunan, bukan sebuah kondisi asal bangun dan asal bisa ditempati.

Beberapa developer yang menawarkan rumah bergaya Minimalis, terkadang tidak memberikan fasilitas yang memadai pada bangunannya. Misalnya minimnya lubang udara (bouven) atau tidak adanya kanopi yang memadai pada sebuah jendela atau teras. Kondisi seperti itu dikarenakan di daerah asal berkembangnya gaya Minimalis ini mempunyai empat musim. Semakin banyak atap (kanopi), maka akan semakin banyak salju menumpuk. Semakin banyak lubang angin, maka semakin banyak panas yang terbuang keluar saat musim dingin. Dengan kondisi seperti itu, maka wajar rumah yang dibangun cukup sederhana dan tanpa variasi fasad. Hal ini tentu akan menimbulkan masalah untuk dibangun di daerah beriklim tropis basah seperti Indonesia. Saat musim kemarau, maka hawa di dalam rumah akan terasa panas karena kurangnya aliran udara. Belum lagi saat musim hujan tiba, ketiadaan/kurang memadainya kanopi jendela/teras akan menyebabkan air hujan mudah masuk ke dalam rumah melalui celah jendela atau pintu saat hujan turun disertai angin. Berbeda dengan rumah bergaya Mediterania yang mempunyai banyak lubang angin dan menggunakan kanopi luas di setiap jendela. Jadi apabila menilik dari gaya yang ada, maka sebenarnya rumah bergaya Mediterania-lah yang lebih cocok untuk dibangun di Indonesia. Belum lagi budaya Indonesia yang artistik tentu kurang cocok dengan konsep Minimalis. Apabila ingin dengan gaya yang lebih cocok lagi, tentu dengan gaya rumah asli Indonesia semisal Joglo, Limas, atau Tongkonan. Tapi sepanjang sejarah developer, sepertinya belum ada/sangat jarang yang menawarkan perumahan dengan gaya rumah tradisional. Jadi yang dibicarakan di sini adalah gaya rumah dengan pengaruh dari luar. Untuk mengantisipasi kekurangan pada gaya Minimalis, biasanya akan dipadukan dengan dengan bentuk atau konsep dari gaya-gaya lainnya. Ini artinya sebuah rumah tidak bisa dikatakan 100% bergaya Minimalis. Dengan bercampurnya berbagai gaya rumah yang dikarenakan kebutuhan dan fungsi, maka sebuah rumah biasanya akan kehilangan karakter atau ciri khas, namun bukan berarti rumah tersebut jelek.

Setelah melalui uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa rumah dengan 100% berkonsep Minimalis akan kurang begitu cocok saat diterapkan di Indonesia. Apabila ingin diterapkan maka harus diikuti dengan adaptasi terhadap iklim yang berlaku. Bisa jadi akan memunculkan sebuah gaya baru, dimana gaya rumah semacam Colonial atau Mediterania juga mempunyai perubahan-perubahan mengikuti wilayah penerapan gaya rumah tersebut. Pada dasarnya, masyarakat Indonesia menyukai hal-hal yang mempunyai nilai artistik tinggi. Termasuk dalam pembangunan tempat tinggal. Hal ini bisa dilihat dari rumah-rumah tradisional yang mempunyai kerumitan tinggi dalam pembangunannya. Baik dari segi konstruksi maupun finishing, misalnya dengan memberikan sentuhan ukiran, ornamen, atau lukisan pada bangunan rumah. Jadi, sebenarnya dapat dijawab alasan penerapan rumah bergaya Minimalis di Indonesia, yaitu lebih kepada faktor ekonomi.

Sumber foto:

Advertisements

About MazGan

Be a Better Human Komentator Segalanya
This entry was posted in Umum and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s