Supeltas, Kenapa Mereka Muncul?

supeltas

Bagi masyarakat yang hidup di daerah padat yang rawan akan kemacetan, mungkin pernah menjumpai seseorang yang ikut ‘membantu’ tugas Polantas untuk mengatur lalulintas di titik-titik tertentu, misalnya di simpang tak bersinyal atau U-turn. Sebutan populer untuk orang tersebut adalah Pak Ogah. Entah darimana sebutan itu berasal dan siapa yang memulainya. Dalam membantu memperlancar lalulintas, Pak Ogah ini hanya bermodal tongkat dengan bendera kecil di ujung sebagai alat untuk memberi aba-aba pada pengendara. Untuk yang agak bermodal, biasanya menggunakan tongkat senter/tongkat lalin dan ditambah peluit. Mereka kemudian mendapatkan receh dari para pengendara yang merasa terbantu. Dewasa ini, keberadaan mereka boleh dikatakan semakin serius dengan adanya pergantian sebutan mereka dari Pak Ogah menjadi SUPELTAS atau Sukarelawan Pengatur Lalulintas. Selain perubahan sebutan, mereka juga dilengkapi dengan seragam, yaitu safety vest dengan tulisan SUPELTAS di punggung, topi, tongkat lalin, bendera lalin, dan peluit. Siapa yang memulai terbentuknya Supeltas? Saya mencoba mencari sumbernya tetapi belum menemukan informasi yang jitu. Beberapa sumber menyebutkan bahwa mereka bermula dari Satlantas Polresta Surakarta, Jawa Tengah. Tetapi yang jelas, para Supeltas ini di bawah naungan Satlantas Polres masing-masing daerah.

Secara pribadi, saya mengapresiasi langkah Satlantas Polres untuk membina para sukarelawan ini dalam membantu menertibkan dan mengatur laulintas. Apalagi sesuai namanya, para Supeltas ini dilarang menerima uang dari pengguna jalan. Walaupun kadang-kadang masih juga ada penngguna jalan yang memberikan uang dan diterima juga oleh para Supeltas ini. Namanya juga duit. Dengan adanya Supeltas ini, sebenarnya mengindikasikan beberapa hal yang terjadi di masyarakat kita. Pertama, bagi masyarakat di perkotaan yang identik dengan kemacetan, waktu adalah emas. Bukan sekedar uang lagi. Mereka harus secara efisien dan efektif memanfaatkan waktu. Termasuk dalam berkendara di jalan raya. Hal ini menyebabkan terjadinya aksi saling serobot di jalan raya, terutama di simpang tak bersinyal atau titik putar balik (U-turn). Akibatnya tak jarang terjadi kecelakaan lalulintas. Kondisi seperti inilah yang mengilhami beberapa orang untuk mengatur lalulintas di area-area rawan tersebut dengan harapan adanya imbalan receh.

uturn-model

Kedua, adanya kejadian kecelakan di titik-titik persilangan jalan yang kemudian memunculkan Supeltas, juga menunjukkan bahwa kurangnya pra-sarana dalam mengatur lalulintas. Pra-sarana semacam APILL kadang tidak ada di setiap persimpangan. Tentu saja dengan pertimbangan volume kendaraan yang melintas. Tetapi menurut hemat saya, selagi ada persilangan jalan (simpang), terutama di perkotaan, tetap harus diberikan APILL. Sekalipun hanya sekedar lampu kuning berkedip. Selain APILL, sebagian besar titik putar balik (U-turn) di Indonesia tidak atau kurang mengikuti kaidah geometri jalan. Kalau kita perhatikan, titik putar balik biasanya hanya sebuah area dimana terdapat bukaan pembatas jalan sepanjang sekian meter. Hal ini menyebabkan saat sebuah kendaraan akan memutar balik, maka otomatis 1 lajur jalan akan tidak berfungsi. Coba lihat gambar ilustrasi. Saat kendaraan A akan memutar balik, maka kendaraan B di belakangnya otomatis terhalang. Belum lagi saat ada kendaraan dari arah sebaliknya. Kendaraan C dan D mungkin akan berhenti karena melihat kendaraan yang akan memutar balik. Tetapi kendaraan E belum tentu siap untuk berhenti. Terlebih lagi apabila kendaraan E adalah sepeda motor. Disinilah kecelakaan sering terjadi. Bagaimana seharusnya geometri jalan untuk U-turn yang ideal? Silakan browsing di Google.

Ketiga, kemunculan Supeltas juga mengindikasikan bahwa kurangnya edukasi berlalulintas bagi pengguna jalan. Coba renungkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • Bagaimana aturan saat akan berpindah lajur?
  • Bagaimana aturan saat akan mendahului?
  • Bagaimana aturan saat memasuki jalan dari posisi parkir?
  • Bagaimana aturan di roundabout (bundaran)?
  • Bagaimana saat mendekati zebra cross? dll

Mungkin bagi sebagian orang sudah memahami betul bagaimana peraturan berlalulintas. Tetapi kadang sudah memahami pun belum tentu mengaplikasikan di jalan raya. Belum lagi ditambah penerapan pra-sarana yang kurang sesuai fungsinya. Misalnya, adakah yang mengetahui hukum lalulintas saat kendaraan berada/akan memasuki roundabout (bundaran)? Semua kendaraan yang akan memasuki bundaran diwajibkan untuk memberikan kesempatan pada kendaraan yang ada di bundaran untuk melintas terlebih dahulu. Kenyataannya? Wooooh…semua kendaraan berebut untuk melintas. Mungkin bisa dipahami untuk area bundaran yang selalu padat lalulintasnya. Karena kalau menunggu sampai kondisi kosong tentu tidak mungkin. Tetapi kadang untuk bundaran yang tergolong sepi juga masih sering terdapat kendaraan yang seenaknya menerobos masuk ke area bundaran tanpa melihat kendaraan yang tengah melintas. Ada yang pernah melakukannya?

Penggunaan pra-sarana yang kurang tepat juga menunjukkan bahwa otoritas pengatur lalulintas mungkin juga kurang begitu memahami fungsi dari setiap instrumen lalulintas.  Paling sering terjadi di lapangan adalah penggunaan ZEBRA CROSSING dan PELICON CROSSING (biasa diucapkan PELICAN) secara bersamaan. Tujuan dibuatnya Zebra Crossing berupa garis-garis putih/kuning di jalan raya adalah supaya pengendara kendaraan dapat melihat dari kejauhan bahwa area tersebut sering digunakan untuk menyeberang. Oleh karena itu, diharapkan para pengendara untuk mengurangi kecepatan dan kemudian berhenti apabila melihat ada orang yang akan menyeberang. Secara hukum lalulintas, apabila sudah ada yang bersiap di ujung Zebra Crossing untuk menyeberang, maka kendaraan yang melintas wajib untuk berhenti. Untuk di daerah yang agak ramai kendaraan melintas, dibuatlah yang namanya PELICON CROSSING yang merupakan kepanjangan dari PEdestrian LIght CONtrolled Crossing. Instrumen dari Pelicon Crossing adalah lampu lalin yang berkedip-kedip dengan warna Amber (kuning) dan akan berubah menjadi Red (merah) saat ada penyeberang yang menekan tombol di tiang lampu. Dan kendaraan yang melintas wajib berhenti. Marka di jalan pun hanyalah dua buah garis lurus melintang sebagai batas area menyeberang. Yang terjadi di lapangan adalah, sudah ada instrumen Pelicon Crossing, tetapi masih ditambah dengan Zebra Crossing. Hal ini juga jamak terjadi di simpang bersinyal. Dimana sudah terdapat APILL (lampu merah) tetapi masih diberi Zebra Crossing untuk penyeberang. Untuk simpang dengan APILL berjadwal, misalnya jam 23.00 – 05.00 hanya menyala kuning berkedip, maka Zebra Crossing layak diberikan karena tidak ada instrumen untuk menghentikan kendaraan yang melintas. Namun apabila APILL tersebut beroperasi selama 24 jam, maka tidak diperlukan Zebra Crossing. Bisa dipahami? Setidaknya itulah pengetahuan yang pernah saya dapatkan waktu sekolah dulu.

Kesimpulannya, ada tiga penyebab yang membuat Pak Ogah atau Supeltas muncul di masyarakat. Kepribadian dalam berlalulintas, kondisi pra-sarana lalulintas, dan edukasi lalulintas di masyarakat. Semua itu kemudian memunculkan kesempatan untuk mengais rejeki bagi para Pak Ogah. Namun beberapa hal yang harus ditekankan, antara lain:

  • Apakah keberadaan para Supeltas ini resmi terdaftar di otoritas yang berwenang?
  • Apakah dengan menjadi Supeltas dan mengenakan seragam mereka kemudian berhak untuk menghentikan laju kendaraan?
  • Apakah para Supeltas ini telah melewati pendidikan (setidaknya short course) tentang lalulintas? Seperti apa kualifikasinya?
  • Adakah konsekuensi hukum terhadap Supeltas saat terjadi kecelakaan yang mungkin sedikit banyak disebabkan oleh mereka?

Pertanyaan-pertanyaan di atas hanyalah beberapa dari sekian banyak pertanyaan lainnya mengenai Supeltas. Saya sendiri pernah melihat seorang Pak Ogah (karena tidak mengenakan seragam Supeltas) menyebabkan terjadinya kecelakaan. Orang tersebut hanya memberikan aba-aba dengan bendera seadanya agar kendaraan berhenti dan memberikan kesempatan kendaraan dari arah sebaliknya melakukan putar balik. Kemudian apa yang terjadi? Sebuah kendaraan roda dua tidak mampu berhenti (menurut saya wajar karena jarak yang dekat) dan menabrak kendaraan yang putar balik. Hal ini terjadi karena Pak Ogah hanya berfikir untuk mencarikan kesempatan pada kendaraan tertentu untuk putar balik/melintas dan kemudian mendapatkan imbalan tanpa memikirkan kendaraan lainnya. Semoga para Supeltas yang telah diberikan pemahaman berlalulintas dan benar-benar sukarela (tanpa imbalan), mampu memberikan ‘pelayanan’ yang maksimal terhadap masyarakat. Mungkin sekali waktu mereka perlu diberi apresiasi dari pihak terkait. Karena tidak mudah untuk berdiri sepanjang hari di jalan raya tanpa adanya kejelasan mengenai rejeki mereka. Sukarelawan juga butuh makan bosss…

Sumber foto: http://i1228.photobucket.com/albums/ee447/hafid7xdism/Supeltas.jpg

Ilustrasi: MazGan

Advertisements

About MazGan

Be a Better Human Komentator Segalanya
This entry was posted in Umum and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s