Menghapus Calo Dengan Keteguhan Hati

Setiap adanya sebuah hajatan massal yang mengharuskan orang membeli tiket, maka orang-orang yang menamakan dirinya makelar tiket gelap alias calo pasti ikut bertebaran. Terlebih lagi hajatan tersebut merupakan hal yang telah men-darahdaging di masyarakat, misalnya pertandingan sepakbola. Ya, hajatan semifinal AFF Suzuki Cup 2016 pun tak lepas dari berita tentang calo. Calo mungkin bisa diberantas. Saya bilang mungkin, bukan tidak mungkin ataupun pasti bisa. Jadi berada di grey area. Apa sebab? Karena praktik percaloan bukanlah hal fisik yang bisa diberantas begitu saja layaknya kasus tiket palsu. Praktik percaloan adalah sebuah gaya hidup masyarakat dimana ada segelintir orang yang berusaha memanfaatkan suatu momen untuk meraup keuntungan berlebih. 

Lantas, bagaimana hukumnya? Saya sendiri tidak paham apakah ada peraturan mengenai larangan penjualan tiket ke tangan kedua, ketiga, dst. Mungkin saja ada peraturan tersebut. Saya sendiri kadang menyuruh orang untuk antri membeli tiket. Dan saya memberi uang lelah untuk jasa antri-nya. Memang tak lebih dari 10% dari total harga tiket. So, apakah orang yang saya suruh itu termasuk calo? Menurut saya tidak. Bedanya adalah di akad jual beli. Untuk kasus ini, dari awal saya sudah bilang akan memberi upah sekian rupiah tapi tolong antrikan tiket. Sedangkan untuk calo, tidak ada kesepakatan di awal mengenai seberapa banyak kelebihan harganya. Yang ada hanyalah calo menetapkan harga dan terjadilah proses negoisasi sampai transaksi. Inilah yang disebut penjualan kedua dan diharamkan.

Jika tujuannya hanya untuk mencegah tiket palsu, maka itu merupakan hal yang mudah untuk dilakukan. Sistem barcode atau hologram sudah mampu menekan peredaran tiket palsu. Sedangkan untuk calo, siapa yang bisa mencegah? Panitia pelaksana? Polisi? Menpora? atau Presiden? Tidak satupun. Hanya satu pihak yang bisa mengurangi praktik percaloan. Siapa? Suporter itu sendiri. Apabila ada yang bertanya, bagaimana caranya suporter bisa mencegah praktik percaloan? Apakah dengan mengeroyok calo? Bukan. Caranya dengan tidak membeli tiket dari calo. Momen yang jarang terjadi, sudah jauh-jauh datang, punya uang lebih, adalah beberapa alasan umum kenapa masih banyak juga suporter yang nekat membeli lewat calo. Disinilah kenapa dibutuhkan keteguhan hati untuk melewatkan momen yang sudah diperjuangkan sedemikian rupa tetapi berujung pada seorang calo. 

Advertisements

About MazGan

Be a Better Human Komentator Segalanya
This entry was posted in Sepakbola, Umum and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s