Garuda yang (masih bisa) Terbang…

Tiga rintangan pertama timnas Garuda di AFF Suzuki Cup 2016 telah berlalu. Semua hasil sudah dirasakan, kalah, seri, dan menang. Euforia melajunya timnas Garuda ke fase semifinal pun dirasakan bak sudah menjuarai turnamen tersebut. Wajar, mengingat semua pihak meragukan untuk bisa lolos dari babak grup. Bahkan coach Alfred Riedl pun jauh-jauh hari sudah berulangkali menyatakan: jangan berharap terlalu tinggi.

Dalam pertandingan pertama melawan Thailand, kita melihat timnas kita layaknya pemain amatiran. Kesolidan tim di empat uji coba sebelumnya nampak tak berbekas. Tapi entah apa yang coach Riedl katakan semasa turun minum, permainan Boaz dkk mengalami peningkatan di paruh kedua. Dua gol beruntun dilesakkan dan skor pun imbang. Tetapi kembali kelengahan yang tak perlu di injury time kembali muncul. 

Melawan The Azkals di pertandingan kedua, timnas Garuda kembali menggebrak sejak awal. Sempat unggul cepat melalui gol Fachrudin, The Azkals mampu menyamakan kedudukan. Il Capitano Boaz Solossa kembali membuat timnas Garuda unggul, tapi gol indah Younghusband kembali membuat kedudukan imbang sekaligus memupus harapan menang timnas Garuda.

Last game, total efforts. Mungkin itu yang bisa disimpulkan dari pertandingan terakhir melawan Singapura. Seperti di dua pertandingan awal, Singapura menerapkan pertahanan yang super defensif. Serangan hanya melalui Khairul Amri yang selalu diberi umpan daerah. Lima pemain belakang Singapura selalu setia di area masing-masing, sekalipun dalam situasi menyerang. Jangan tanya lagi kalau posisi diserang. Beberapa kali tampak hingga 7 pemain menumpuk di area pertahanan Singapura. Yes..it’s a Mourinho style. Tapi salut untuk determinasi para punggawa timnas Garuda di pertandingan ini. Gempuran tiada henti membuat strategi parkir bus Singapura akhirnya bocor.

Pada dua pertandingan awal, duet centre back (terutama Yanto Basna) dan kiper mendapat sorotan tajam. Dalam dua pertandingan, keduanya bermain di bawah ekspektasi. Yanto Basna tampak bermain di bawah tekanan. Sering sekali melakukan kesalahan elementer. Di posisi goalkeeper, komunikasi tampak berjalan dengan kurang baik. Berkali-kali Kurnia Meiga tampak kebingungan dalam mengambil keputusan. Dan sekali waktu, sering berebut bola dengan rekan sendiri. Keberanian Kurnia Meiga dalam duel merebut bola juga tidak terlihat. Dari dua pertandingan awal itu, akhirnya banyak tekanan untuk mengganti dua pemain tersebut. Nama Andritany dan Gunawan Dwi Cahyo muncul ke permukaan. Tetapi di pertandingan terakhir, coach Riedl tetap memasang dua pemain tersebut. Coach Riedl seolah-olah tutup telinga dengan semua pendapat di luar sana. Hasilnya? Yup! Yanto Basna dan Kurnia Meiga mampu tampil berani, tenang, dan taktis. Tepisan Kurnia Meiga atas sundulan kapten Singapura menjadi salahsatu momen krusial. Apabila itu terjadi gol, maka habislah mental timnas Garuda karena mereka baru saja menyamakan kedudukan dengan susah payah.

Sebagai seorang pelatih, coach Riedl tidak mementingkan hasil. Dia lebih melihat pada perkembangan timnas. Karena memang seperti itulah seharusnya. Jika coach Riedl mengganti Kurnia Meiga dan Yanto Basna di pertandingan terakhir, bisa dipastikan mental kedua pemain itu akan runtuh. Potensi mereka tidak akan muncul karena kepercayaan diri mereka akan kalah ditekan oleh hilangnya kepercayaan pelatih. Tapi coach Riedl bukan pelatih kemarin sore. Tiap detil perkembangan pemainnya sangat diperhatikan. 

Dari tiga pertandingan awal, beberapa pemain terlihat di bawah ekspektasi. Salahsatu yang underachievement adalah Evan Dimas. Harapan tinggi sebagai playmaker masa depan timnas senior nampaknya masih membebani pemain muda ini. Magis-nya di timnas U-19 nampaknya hilang sewaktu membela timnas senior. Perannya kadang masih tumpang tindih juga dengan Stefano Lilipaly. Walaupun bertipe playmaker, Evan Dimas masih sering ikut support dalam menyerang. Dan Stefano Lilipaly berada di peran itu sebagai attacking midfielder. Belum lagi di dua pertandingan awal ada Rizki Pora yang juga bertipe menyerang. Barulah di pertandingan terakhir dipasang seorang Bayu Pradana sebagai penyeimbang di lini tengah. Dalih mepetnya waktu persiapan yang menjadi penyebab kurangpadunya pemain nampaknya masih bisa dimaklumi.

Overall, timnas Garuda mempunyai lini serang yang diakui berbahaya oleh para pelatih di AFF Suzuki Cup 2016 ini. Boaz Solossa dan Andik Vermansah adalah dua nama yang populer di kawasan ASEAN layaknya Teerasil Dangda dari Thailand atau Le Cong Vinh dari Vietnam. Belum lagi Irfan Bachdim apabila tidak cedera. Secara komposisi, barisan penyerang bisa dibilang sangat mumpuni. Di lini kedua, para gelandang sebenarnya mempunyai potensi yang tidak kalah menarik. Hanya kekurangpaduan mereka menyebabkan kebingungan saat situasi diserang. Mereka terkadang masih bingung harus langsung memutus aliran bola, atau melakukan zonal marking, atau man-to-man marking. Harus ada pembagian peran yang jelas di lini kedua ini. Untuk lini pertahanan, jelas sudah terlihat peningkatan yang signifikan di area segitiga (kiper-centre back). Kurnia Meiga harus lebih banyak memberi komando kepada palang pintu di depannya. Satu yang masih kurang maksimal di lini pertahanan adalah di sektor fullback. Baik Abduh Lestaluhu maupun Benny Wahyudi masih kurang cepat saat transisi menyerang ke bertahan. Selain itu, kombinasi tukar peran dengan centreback saat melakukan marking juga belum terlalu mulus.

Lolosnya timnas Garuda ke babak semifinal merupakan hal diluar ekspektasi banyak pihak. Mari kita lanjutkan dengan maksimal. Tekanan tetap diperlukan untuk menjaga determinasi para pemain. Tetapi kekesalan cukup ditunjukkan saat mereka bertanding. Saat peluit panjang ditiup, apapun hasilnya, they are our heroes!

#affsuzukicup2016 #timnas #indonesia

About MazGan

Be a Better Human Komentator Segalanya
This entry was posted in Sepakbola and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s