Kerja Bukan Sekedar Kerja

Mungkin saya masih sangat awam di dunia kerja profesional. Walaupun beberapa kali bekerja ‘amatiran’ alias part time, tapi sebenarnya baru tiga tahun saya bekerja dengan bekal ilmu yang saya dapatkan dari bangku sekolah. Meskipun demikian, saya merasa saya sudah cukup banyak, atau paling tidak lebih banyak berkeliling Indonesia dan luar negeri daripada teman-teman seangkatan saya, sehingga saya sering memberikan masukan kepada teman-teman saya yang sering mengeluhkan tentang pekerjaan mereka. Bagi saya, untuk hal apapun, terutama dalam bekerja, prinsip yang harus dipegang saat kita bekerja keras adalah jujur, ikhlas, dan bertanggungjawab.

Dalam bekerja, TIDAK akan pernah kita mendapati 100% pekerjaan sesuai job description. Saya ulangi, TIDAK AKAN PERNAH. Terkadang ada hal-hal lain yang harus kita kerjakan saat kita bekerja dalam suatu tim. Sikap legowo kadang harus dikedepankan dalam menghadapi situasi tertentu. Sebuah contoh, saat saya mengerjakan sebuah proyek di Lintau (Sumatra Barat), sebuah permasalahan klasik muncul di hadapan. Finansial. Dengan kekuatan tim sebanyak 10 mandor (masing-masing mandor mengepalai 10-15 orang), 6 operator alat berat, 8 sopir truk, dan beberapa helper, tentu membutuhkan kekuatan finansial yang memadai untuk menjamin keberlangsungan nafkah mereka. Tetapi pada saat itu saya tidak mendapatkannya. Bahkan hingga proyek selesai, semua tunjangan saya dan upah tim belum terbayar. Dalam masa-masa krisis finansial, perusahaan seperti tutup mata. Setiap hari saya menghadapi supplier dan para mandor yang menagih uang mereka. Anggota tim saya sebagian besar mogok kerja. Saya sempat untuk berpikir demikian. Tetapi kemudian saya merenung. Kalau saya tidak melanjutkan pekerjaan, baik pekerjaan lapangan, finansial dan administrasi laporan (pada saat itu saya terpaksa meng-handle semua karena site leader sering ‘menghilang’ dan finansial advisor ditarik ke kantor pusat), maka keadaan akan semakin buruk. Saya tidak dapat mengajukan termin ke Dinas PU dan uang tidak akan pernah keluar. Jadilah saya harus bekerja 24 jam TANPA adanya bayaran ekstra. Tujuan saya cuma satu, yaitu selesaikan proyek, sehingga anggota tim saya, supplier, dan para mandor bisa mendapatkan hak mereka. Saya tidak mengharapkan penghargaan apapun. Dan Alhamdulillah proyek dapat selesai dengan baik dan tepat waktu.

Apa yang saya dapatkan dari itu semua? Hanya sebuah pengakuan karena upah saya yang tertunggak selama empat bulan barus dibayarkan setahun kemudian. Pengakuan dari pihak Dinas PU yang terkesan dengan saya sehingga sampai tiga kali mengajak saya untuk bergabung. Selain itu, pihak konsultan pengawas pun mengakui saya dan mengajak bergabung dengan salah satu BUMN konstruksi nasional. Jawaban saya? mohon maaf, saya masih terikat kontrak dengan perusahaan saya. Walaupun saya dapat mengajukan pengunduran diri, terlebih lagi perusahaan saya telah berbuat hal yang menurut saya tidak mengenakkan, tetapi saya harus tetap profesional, menghormati kontrak yang sudah ada. Hal ini bukan sekali terjadi, tetapi berkali-kali di setiap tempat dimana saya bekerja. Bukan bermaksud menyombongkan diri, tetapi ini adalah hikmah dari sebuah keikhlasan hati. Sikap ikhlas, jujur, dan bertanggungjawab adalah hal tak ternilai dalam diri seseorang.

Pernah saat saya memimpin proyek senilai 28 M (lain perusahaan, sebuah industri pengolahan hasil pertanian tingkat nasional), saya tetap turun tangan langsung membantu hal-hal kecil selagi saya bisa, seperti membersihkan mess yang akan ditempati oleh teknisi baru, pergi belanja material, atau mengurus dapur umum. Sebuah hal yang sepele. Terlebih lagi status saya saat itu sebagai pimpro. Tetapi apa yang saya dapatkan lagi dari hal itu? The Big Boss memanggil saya dan berkata: “kamu mau buat usaha apa? mau buat pabrik sendiri? atau usaha lainnya? sebutkan saja butuh modal berapa dan dimana. kamu bangun sendiri, kamu jalankan sendiri, kamu buat tim sendiri.” Sebuah kepercayaan tingkat tinggi dari si pemilik perusahaan karena saya saat itu baru bergabung selama empat bulan.

Sekali lagi, bagi teman-teman yang baru memasuki dunia kerja, saran saya yaitu bekerjalah seikhlas mungkin. Tuhan tidak tidur. Selalu ada hal baik menanti dibalik sebuah keikhlasan. Pengalaman di atas hanyalah sebuah contoh kecil dari berbagai peristiwa yang juga pernah dialami oleh jutaan orang di dunia. Bekerja adalah sebuah proses belajar tingkat lanjut, baik yang berhubungan dengan pendidikan formal maupun kehidupan sosial. Karena kerja bukanlah sekedar kerja.

About MazGan

Be a Better Human Komentator Segalanya
This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s