Asian Champions League 2010 Playoff

Hari Sabtu lalu, aku menyaksikan sebuah pertandingan sepakbola dalam rangka playoff untuk merebut satu dari dua tiket tersisa menuju Asian Champions League 2010. Pertandingan dilaksanakan di Jalan Besar Stadium, dimana yang menjadi tuan rumah adalah Singapore Armed Forces FC (SAFFC). Tim tamu adalah Sriwijaya FC (SFC) yang tahun lalu menjadi kampiun di Copa Indonesia. Dari awal, kedua tim sama-sama tidak mengetahui dengan persis kekuatan masing-masing. Namun setelah peluit kick off ditiup pada pukul 19.30 waktu setempat, kedua tim langsung bermain terbuka. Tidak ada permainan saling menunggu. Kedua tim saling menyerang. Tak sampai 10 menit, sebuah kelengahan terjadi di kotak penalti Sriwijaya FC. Umpan crossing dari winger SAFFC yang awalnya tidak mampu dijangkau oleh pemain belakang SFC ataupun penyerang dari SAFFC, ternyata jatuh di kaki salah seorang pemain SAFFC yang berada di tiang jauh gawang SFC. Sebuah tendangan keras dari jarak dekat gagal ditahan Ferry Rotinsulu. 1-0 untuk SAFFC. Setelah terjadinya gol itu, para pemain SFC semakin menggila. Berkali-kali peluang didapatkan namun tidak membuahkan gol. Sementara itu, para pemain SAFFC tampil lebih tenang setelah unggul satu gol. Mereka lebih banyak menjaga pertahanan dan melakukan counter attack dengan cepat. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya dua gol tambahan bagi SAFFC di babak kedua melalui titik putih. Christian Worabay yang tidak sigap dalam menjaga lawan saat terjadinya gol pertama, melakukan sebuah pelanggaran di kotak penalti dan berbuah kartu merah langsung. Walaupun pelanggaran tersebut masih dapat diperdebatkan. Pun demikian dengan pelanggaran kedua di kotak penalti oleh M. Nasuha.

Sebenarnya, secara pribadi, aku merasa kurang puas dengan wasit yang memimpin jalannya pertandingan. Bukannya aku memihak SFC, tapi secara obyektif, banyak sekali keputusan wasit yang tidak tepat. Seperti halnya kartu merah yang didapat oleh Christian Worabay. Dalam pengamatanku, apa yang dilakukan oleh Christian Worabay merupakan sebuah body charge. Tidak ada kesan menjegal lawan. Selain itu, saat penalti kedua dilakukan, sebetulnya sudah berhasil diblok oleh Ferry Rotinsulu. Namun wasit memutuskan untuk mengulang tendangan karena ada pemain yang masuk ke dalam kotak penalti sesaat sebelum bola ditendang. Padahal sejauh yang aku lihat, yang dilakukan para pemain lain itu (baik dari SAFFC ataupun SFC) hanyalah melakukan gerakan. Bukan berlari ke dalam kotak penalti. Tapi mungkin wasit berpandangan lain. Walaupun demikian, SFC tetap menguasai pertandingan walaupun bermain dengan 10 orang saja. Tim tuan rumah tampaknya memang menerapkan taktik wait and see serta counter attack sejak awal.

Ada beberapa hal baru yang aku temui saat menyaksikan langsung di Jalan Besar Stadium. Yang pertama adalah jenis permukaan lapangan yang digunakan di stadion tersebut. Tidak seperti layaknya lapangan sepakbola pada umumnya, lapangan di stadion tersebut menggunakan artificial grass atau rumput buatan. Bagi pemain yang biasa main di rumput asli, tentu harus beradaptasi terlebih dahulu. Pergerakan bola akan menjadi lebih lambat dan pantulan bola akan terasa lebih berat. Walaupun untuk pertandingan internasional seharusnya menggunakan lapangan rumput asli, tapi FIFA juga mengesahkan penggunaan rumput buatan yang telah lolos uji kelayakan. Hal kedua yang aku temui adalah tidak adanya atmosfer sebuah pertandingan. Para penonton lebih kurang hanya sekitar 500-600 orang saja dari kapasitas total stadion sekitar 4000 kursi.. Itu pun sekitar hampir separuhnya adalah orang Indonesia yang berada di Singapore atau suporter yang memang sengaja datang dari Indonesia. Suporter dari SAFFC sendiri tampaknya suporter bayaran. Itu terlihat dari penggunaan seragam dan adanya cheerleaders layaknya pertandingan bola basket. Sedangkan penonton lainnya hanya duduk manis tak bersuara. Inilah pertama kalinya aku menonton sebuah pertandingan sepakbola, terlebih lagi dalam tingkat internasional, tetapi rasanya hanya seperti melihat latihan sehari-hari. Tidak ada ketegangan yang tercipta. Suara sepakan sepatu di permukaan bola terdengar lebih keras daripada suara suporter. Betul-betul “sunyi” untuk ukuran sebuah pertandingan sepakbola. Bandingkan dengan pertandingan-pertandingan sepakbola di Indonesia yang rata-rata dapat menghadirkan penonton hingga 10.000 orang. Pemain yang berpengalaman pun akan merasakan sedikit ketegangan di bawah sorakan suporter lawan.

About MazGan

Be a Better Human Komentator Segalanya
This entry was posted in Jalan-Jalan, Sepakbola. Bookmark the permalink.

One Response to Asian Champions League 2010 Playoff

  1. syelviapoe3 says:

    wah…ternyata ini blog belum di up date sejak Februari, ya… ?😀

    Sekarang malah udah PD, nih..he..he..

    btw..
    Selamat atas masternya, grawira…
    semoga sukses !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s