Infotainment

Semua orang pasti pernah menonton program televisi yang satu ini. Selain karena menampilkan pesohor-pesohor negeri ini, tayangan yang satu ini juga dibuat seperti “berseri” sehingga penonton akan menunggu apa yang terjadi selanjutnya. Seiring dengan membeludaknya stasiun televisi swasta, semakin banyak pula program infotainment yang ditawarkan. Apalagi jam tayang yang diberikan berada di waktu-waktu senggang bagi orang-orang yang sibuk. Misalnya di pagi hari sebelum memulai aktifitas atau sore hari setelah beraktifitas. Bahkan pada waktu jam makan siang. Sebetulnya program ini sah-sah saja ditayangkan di jam manapun. Televisi sebagai sarana informasi dan hiburan memberikan keleluasaan bagi penonton untuk memilih acara. Permasalahan muncul karena materi yang ada dalam tayangan infotainment dirasa sebagian orang tidak cocok lagi. Fatwa haram dari MUI pun keluar walaupun ada syarat di dalamnya. Ghibah atau gosip di dalam tayangan tersebut yang diharamkan oleh MUI. Ironisnya, ghibah atau gosip ini sangat laku di pasaran, atau dengan kata lain di dalam masyarakat kita.

Memang susah untuk menghapus infotainment dari negeri kita ini. Bahkan bisa dibilang mustahil. Infotainment yang menayangkan berita ringan dan hiburan tentu sangat ditunggu pemirsa yang jenuh karena melihat berita-berita tentang kriminal. Tapi berita hiburan seperti apakah yang layak dipertunjukkan ke masyarakat luas? Hiburan yang dimaksud tentu tak lepas dari gemerlap dunia artis kita. Entah itu penyanyi, grup band, pemain sinetron, atau selebriti dari bidang-bidang lainnya. Jika mengacu pada hal terseut, maka seharusnya pemberitaan yang disampaikan berkaitan dengan apa yang dilakukan selebriti tersebut. Misalnya, jika mengenai seorang penyanyi, maka yang diberitakan adalah tentang lagu barunya, proses pembuatan video klip, atau prestasi penjualan albumnya. Begitu juga dengan pemain sinetron, yang diberitakan adalah sinetron yang sedang dijalaninya atau kesibukan dia di lokasi pengambilan gambar. Namun yang terjadi, infotainment malah memberikan porsi lebih pada kehidupan pribadi sang selebriti. Apakah si A akan cerai, apakah si B ganti pacar, atau apakah si C ingin menikah lagi, adalah berita-berita yang sudah umum di dalam suatu infotainment. Bahasa yang disampaikan pun seolah-olah si infotainment ini juga tidak tahu. Dengan menggunakan kalimat tanya, infotainment berusaha membuat pemirsa semakin bertanya-tanya. Keadaan pemirsa yang “bertanya-tanya” inilah yang sangat berpotensi menimbulkan ghibah atau gosip.

Layaknya ayam dan telur, tidak jelas manakah yang lebih dulu menjadi sebab antara berkembangnya infotainment atau berkembangnya budaya gosip di masyarakat kita. Banyak orang mengatakan bahwa seorang selebritis adalah public figure yang selalu disorot oleh masyarakat. Fakta itu benar adanya. Meskipun demikian, isi dapur seseorang tidak layak untuk dipertontonkan bagi masyarakat luas. Dengan alasan apapun. Tindakan-tindakan para selebritis yang “menyerang” infotainment telah menunjukkan bahwa mereka juga manusia. Tidak semua aspek dari mereka boleh diketahui oleh masyarakat luas. Bayangkan saja kita berada di posisi seorang selebritis yang kehidupan rumah tangga kita disiarkan ke masyarakat luas. Setiap kali kita pergi ke mall atau pusat keramaian, orang-orang akan melihat dengan pandangan bertanya-tanya. Belum lagi jika sudah memiliki anak, maka sang anak pun bisa tertekan saat teman-temannya di sekolah membicarakan tentang kehidupan orangtuanya. Itu merupakan suatu keadaan yang sungguh tidak nyaman. Bisa jadi sang produser program infotainment tetap adem ayem karena tidak dikenal masyarakat luas.

Kita memang tidak bisa untuk memvonis infotainment sebagai penyebab gosip karena hal seperti ini memang sangat sulit untuk dibuktikan. Bahkan infotainment juga tidak sendirian. Banyak tabloid-tabloid hiburan yang menyajikan menu serupa. Walaupun untuk media cetak, mereka selalu menyatakan bahwa sumber berita adalah dari selebriti yang bersangkutan. Entah memang sudah menjadi budaya atau tidak, tetapi ghibah atau gosip ini dapat memulai suatu hubungan pertemanan seperti yang ditunjukkan dalam salahsatu iklan provider GSM kita. Iklan tersebut menceritakan tentang seorang karyawan baru yang “tidak diizinkan” bergaul dengan karyawan-karyawan lama. Namun setelah si karyawan baru ini berteriak tentang sebuah gosip, maka karyawan-karyawan lama ini mulai mengajaknya bergabung. Untuk apa? untuk bergosip tentunya. Nah, apakah ini gambaran masyarakat kita? Entahlah. Di satu sisi ingin mencari keuntungan, di satu sisi menikmati apa yang diberikan. Selama masih ada peminat, infotainment tidak akan pernah mati walau digoyang sekeras apapun itu.

About MazGan

Be a Better Human Komentator Segalanya
This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s