Ini (Bukan) Kandang Kita!

Tidak belajar dari pengalaman. Itulah yang terjadi pada timnas Merah Putih kita saat menghadapi Oman di laga kualifikasi Piala Asia mendatang. Secara umum, boleh dikatakan inilah penampilan terburuk timnas kita selama mengikuti kualifikasi. Bahkan bisa dikatakan bahwa timnas kita beruntung hanya menelan kekalahan 1-2. Permainan menyerang yang dikobarkan oleh pelatih Benny Dollo sebelum pertandingan, tidak terwujud sejak kick off di awal pertandingan. Jangankan untuk menyerang, menguasai bola di daerah sendiri pun susahnya minta ampun. Pemain-pemain Oman menerapkan pressing ketat sejak awal karena tahu bahwa kekuatan Indonesia terletak pada passing-passing pendek dan cepat. Pola permainan itu ternyata sangat efektif meredam permainan Indonesia. Terlebih lagi, secara fisik mereka lebih tinggi dan besar sehingga mudah saja menghalau bola-bola atas. Inilah beberapa kelemahan yang membuat tim Merah Putih menjadi pecundang di kandang sendiri.

1. Fisik

Sebetulnya, fisik bukanlah menjadi halangan dalam permainan sepakbola. Lihat saja para pemain timnas Spanyol yang sebagian besar hanya memiliki tinggi badan 170-an cm. Tapi mereka mampu menjuarai Piala Eropa lalu. Pun demikian dengan Lionel Messi yang berbadan mungil tapi mampu membuat gol dengan sundulan kepala di final Liga Champions Eropa. Padahal saat itu dia diapit oleh dua defender jangkung Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic. Nah, dengan postur tubuh yang kalah dibanding pemain Oman, seharusnya pemain-pemain kita bergerak aktif membuka ruang dan jangan terlalu lama menahan bola. Passing pendek dan cepat yang membuat Saudi Arabia dan Korsel kewalahan saat melawan timnas Merah Putih seharusnya kembali ditunjukkan. Tetapi yang terjadi, para pemain kita seperti kehilangan akal saat di-marking ketat oleh pemain Oman yang bertubuh lebih besar. Mereka kemudian melepaskan umpan yang seperti semaunya sendiri. Itu juga tak lepas dari pemain-pemain lain yang kurang aktif membuka ruang dan membantu teman yang di-marking oleh lawan.

2. First Touch

Penerapan bola-bola pendek dan cepat membutuhkan penguasaan yang prima. Terutama dalam hal first touch yaitu kontrol pertama saat menerima bola. Sepanjang pertandingan, tidak ada seorang pun yang mempunyai first touch yang baik. Selain karena umpan yang diberikan juga tanggung, para pemain kita seolah-olah baru mulai belajar bermain sepakbola. Bola setinggi lutut yang diberikan oleh teman pun sepertinya sangat sulit untuk dikuasai. Ini sangat mengecewakan bagi pemain dengan label pemain timnas. Ponaryo Astaman yang biasanya tenang dalam menerima umpan pun terlihat seperti panik saat pemain Oman mem-pressing dia. Demikian pula dengan Boaz Solossa yang biasanya lengket dengan bola saat menerima umpan sambil berlari, tampak kesulitan dalam menguasai bola. Setelah pemain kita mendapat bola, bisa dilihat bahwa tidak sampai 2-3 sentuhan bola sudah direbut kembali karena penguasaan yang jelek. Inilah penyebab utama permainan kita tidak bisa berkembang. Seperti kata pepatah, berdiri saja belum bisa kok mau berlari. Menguasai bola saja kewalahan, apalagi menyerang.

3. Konsentrasi

Ini adalah faktor paling penting dalam olahraga apapun. Sekali saja konsentrasi goyah, maka fatal akibatnya. Dua gol dari Oman sebenarnya bisa dicegah, atau setidaknya tidak akan terjadi dengan mudah apabila konsentrasi selalu optimal. Gol pertama yang terjadi dari bola mati pun sebenarnya dapat dicegah. Apalagi sebelumnya didahului dengan penganuliran gol dari Oman karena wasit belum meniupkan peluit. Tapi setelah diulang, tetap saja terjadi gol. Mungkin sebagian orang berpikir bahwa di saat itu memang sudah takdirnya terjadi gol, sehingga apapun yang terjadi tetap ada gol tercipta. Namun itu bukan alasan bagi para pemain. Sebenarnya, para pemain kita sudah “dibantu” dengan tendangan freekick yang diulang. Artinya kita dapat lebih menjaga daerah pertahanan. Tapi apa yang terjadi? Seorang pemain Oman dengan bebasnya menyundul bola dan mengarah keras ke gawang Indonesia. Keunggulan fisik lawan tidak dapat dijadikan alasan. Gol tersebut bisa dicegah, misalnya dengan tidak membuat pelanggaran di dekat kotak pinalti. Pelanggaran terjadi karena pemain kita sering salah posisi atau ketinggalan langkah karena kurangnya konsentrasi dalam penjagaan lawan.

Gol kedua yang terjadi pun karena kebiasaan pemain kita yang belum hilang yaitu kesadaran bahwa ada seorang wasit yang mengawasi pertandingan. Sesaat sebelum terjadi gol, terlihat para pemain kita menghentikan sejenak pergerakannya dan menoleh ke arah wasit seraya mengangkat tangan. Mereka seolah-olah ingin memberikan tanda bahwa ada pelanggaran yang terjadi. Tapi kenyataannya, wasit tidak melihat adanya suatu hal yang membuat dia harus menghentikan jalannya permainan. Dan akhirnya dengan leluasa salah seorang pemain Oman menendang bola sekeras-kerasnya tepat di depan penjaga gawang Markus Horison. Gol. Sepertinya kita semua harus memahami terlebih dahulu kenapa seorang wasit dalam olahraga biasanya menggunakan peluit. Faktor utama adalah suara. Bunyi yang dikeluarkan oleh peluit berbeda dengan suara manusia, sehingga mudah didengar dan dapat dihasilkan dalam waktu sekejap. Hal itu pulalah yang membuat para pemain tidak perlu menoleh kesana kemari untuk mencari wasit. Jika ada bunyi peluit, itu tandanya permainan harus dihentikan. Jika tidak ada, ya tetap bermain. Para pemain ini tugas utamanya bermain. Bukannya membantu wasit menjalankan tugasnya. Pemain-pemain kita ini tampak “manja” karena selalu mengharapkan wasit meniup peluit saat mereka melihat suatu kejadian yang mereka anggap sebagai pelanggaran. Mereka seolah-olah lupa bahwa wasit juga melihat dan wasit jugalah yang menentukan apakah itu pelanggaran atau tidak. Kejadian tersebut membuat konsentrasi pemain kita buyar walau hanya untuk beberapa detik saja. Tapi dalam beberapa detik itu pula, sebuah gol bisa tercipta.

4. Mental

Sejak awal sebelum pertandingan dimulai, kedua tim sebenarnya menanggung beban berat. Sekalipun timnas Merah Putih menang, mereka juga masih harus menghadapi tim tangguh Australia dalam lawatan berikutnya. Selain itu, nasib timnas kita juga masih harus menunggu hasil pertandingan lainnya. Di lain pihak, jika Oman memenangkan pertandingan, mereka masih mampu memforsir pertandingan di kandang saat menghadapi Kuwait yang di atas kertas levelnya masih di bawah Oman. Tekanan seperti inilah yang membuat pemain kita seolah-olah bermain dengan penuh ketegangan. Berbeda sekali saat tampil di Piala Asia 2007 lalu. Saat itu timnas kita bermain luar biasa memikat walaupun harus tumbang dari Saudi Arabia dan Korsel. Tetapi apa yang ditampilkan saat itu membuat suporter menomorduakan kekalahan. Mereka melihat permainan timnas kita yang memukau sehingga membuat tim-tim dari negara lain terperanjat. Nah, permainan itu tidak muncul lagi selepas Piala Asia 2007. Pola permainan kembali lagi seperti semula yaitu passing yang tidak akurat dan kontrol bola yang buruk. Apa yang terjadi? Kualitas Oman secara umum masih di bawah Saudi Arabia dan Korsel. Secara matematis, tim kita yang sebagian besar merupakan punggawa Piala Asia 2007 seharusnya bisa mengulanginya lagi. Mungkin tekanan untuk harus menang membuat seluruh pemain menjadi tegang. Terlebih lagi harus ketinggalan gol terlebih dahulu. Gol yang diciptakan Boaz pun terjadi karena skill individu Boaz itu sendiri dan “dibantu” oleh kesalahan pemain belakang Oman dalam menjaga pergerakan Boaz. Dengan level permainan lawan yang berada di atas timnas kita, bukan berarti permainan kita menjadi buruk. Perbedaan level hanya menghasilkan perbedaan jumlah gol yang diciptakan masih-masing tim. Bukannya perbedaan penampilan yang teramat jauh. Bila dicermati, possession ball Indonesia pun semakin menurun yang artinya Oman semakin menguasai pertandingan.

Buruknya permainan Indonesia bahkan membuat salah seorang penonton nekat memasuki lapangan pertandingan saat permainan masih berlangsung. Boleh jadi itu karena akumulasi kekecewaan selama menyaksikan timnas Merah Putih bertanding. Kekesalan dia terjadi karena kecintaan dia terhadap tim Merah Putih yang bermain buruk walaupun diluapkan dengan cara yang salah. Tapi mungkin kejadian itu bisa membuat kita sedikit terhibur. Seperti hujan yang membasahi bumi setelah sekian lama kekeringan. Tapi setelah itu kita harus kembali pada kenyataan. Gelora Bung Karno pun tidak mampu memberikan tuah sebagai medan pertempuran. Ini (bukan) kandang kita. Ada yang salah dengan persepakbolaan kita.

About MazGan

Be a Better Human Komentator Segalanya
This entry was posted in Sepakbola, Umum. Bookmark the permalink.

One Response to Ini (Bukan) Kandang Kita!

  1. bambang nugroho says:

    wis diewangi suporter si hendry we isih kalah.kapan isa menang yen ora duwe semangat tempur tinggi.mungkin le mbayar pssi kurang akeh.apa malah kakehan bayar ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s