The Bromo Experiences (4)

Sebuah bunyi-bunyian mengganggu tidurku. Aku masih belum sepenuhnya bangun ketika menyadari bahwa itu adalah bunyi alarm dari handphone-ku. Jam 02.30 di pagi hari. Malas rasanya untuk beranjak dari tempat tidur. Tapi aku harus segera bersiap-siap. Kami akan dijemput satu jam lagi. Kulihat Habibi di tempat tidur sebelah yang baru saja membuka matanya. Kemudian kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu, aku mengganti pakaianku dengan kaos yang bergambar tokoh wayang Bimasena alias Werkudoro. Kaos ini kubeli bersama Habibi dan Nadra. Masing-masing memiliki gambar yang berbeda. Gatotkaca menjadi pilihan Habibi dan Srikandi menjadi representasi dari Nadra. Aku sengaja tidak mandi pagi ini karena nanti kami akan berjalan mendaki gunung yang sudah tentu akan memeras keringat. Tak lupa aku meminum setengah botol M-150 sebelum aku keluar kamar. Keadaan di luar hotel sangat ramai. Banyak orang sudah berdatangan. Rupanya orang-orang ini memang sengaja datang untuk melihat sunrise saja. Kebanyakan berasal dari Surabaya. Mereka berangkat tengah malam dan perjalanan memakan waktu sekitar tiga jam. Pantaslah tidak banyak orang yang menginap di kawasan gunung Bromo ini. Tak lama kemudian Nadra keluar dari kamarnya dan disusul oleh Habibi yang sudah siap dengan jaket sewaannya. Tepat pukul 03.30 kami kemudian menaiki jip yang sudah menunggu di luar hotel sedari tadi.

Guncangan di dalam jip terasa cukup keras walaupun kami berjalan di atas aspal yang lumayan rata. Ini adalah kenyamanan yang wajar untuk sebuah jip. Aku dan Habibi yang duduk di kursi belakang harus memegang kursi di depan kami agar tidak terlempar di dalam jip. Setelah beberapa saat, jip mulai berjalan turun menuju sebuah dataran yang dipenuhi oleh kabut tebal. Aku sama sekali tidak bisa melihat apa yang ada di sekeliling kendaraan kami. Jarak pandang mungkin hanya sejauh satu meter saja. Sopir jip pun harus melihat arah tujuan dengan mendongakkan kepalanya keluar jendela. Lampu-lampu yang ada pun seakan tiada gunanya. Paling-paling hanya sebagai penanda bahwa disitu ada sebuah kendaraan. Kulihat tonggak-tonggak yang terbuat dari beton berjajar di tepi kiri dari jalan yang kami lalui. Awalnya aku tidak mengerti apa fungsi dari tonggak-tonggak tersebut. Apakah ada jurang di sebelah kiri jalan ini? Mengingat bahwa lokasi di daerah ini merupakan pegunungan. Tapi sesaat kemudian aku menyadari bahwa tonggak-tonggak tersebut berfungsi sebagai penunjuk arah. Dengan adanya kabut yang begitu tebal, tonggak-tonggak ini pun menjadi sesuatu yang amat penting dibandingkan lampu sejuta watt.

Dua puluh menit adalah waktu yang kami butuhkan untuk melintasi padang kabut tersebut. Kendaraan kami kemudian berhenti sejenak. Si sopir tampak sibuk memindahkan tuas persneling. Rupanya dia mengganti sistem persneling dari 2WD menjadi 4WD alias keempat rodanya bisa bergerak bersamaan. Hal ini berarti kami akan mulai mendaki lereng pegunungan. Jalanan yang kami lalui merupakan jalan pegunungan paling ekstrim yang pernah aku lalui. Sangat-sangat curam. Di beberapa ruas jalan, kemiringan dapat mencapai 20 derajat seperti yang terukur dalam inclinometer yang terletak di dashboard jip ini. Aku dan Habibi kembali harus memegang erat kursi di depan kami. Benar-benar serasa ingin jatuh terbalik. Menegangkan sekaligus menyenangkan. Setelah lebih kurang lima belas menit menit berjalan mendaki, kurasakan jalanan sudah mulai landai. Dari kejauhan langit sudah mulai berubah warna menjadi biru kehitaman. Kualihkan pandanganku ke bawah. Tampak iring-iringan jip yang sedang melintasi padang kabut yang telah kami lalui. Mungkin ada sekitar lebih dari sepuluh jip yang berjalan di belakang kami. Tak lama kemudian kami sudah mencapai lokasi. Sudah banyak kendaraan yang memarkirkan kendaraannya di tepi jalan. Maklum saja, tidak ada area parkir di atas sini. Si sopir mengingatkan kami untuk mencatat nomor plat jip yang kami tumpangi agar tidak bingung saat pulang nanti. Kami kemudian harus berjalan kaki selama lima menit untuk mencapai lokasi melihat sunrise. Fiuh…sudah banyak orang ternyata. Tampak pula wisatawan asing yang berada di antara orang-orang di sana. Dengan sigap, aku segera mencari lokasi terbaik untuk mengambil gambar. Tripod dan kamera sudah aku siapkan. Tinggal menunggu sang mentari untuk merekah di ufuk timur.

Langit kembali berubah. Sekarang tak lagi biru kehitaman. Tetapi semburat oranye sudah ikut menghiasi cerahnya pagi di puncak Penanjakan. Sungguh sebuah pemandangan yang hanya bisa kunikmati di dalam hati. Sangat sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Kulihat padang kabut yang kami lalui tadi. Dan juga gunung Bromo dan gunung Batok yang menyembul di antara pekatnya kabut pagi. Aku serasa ingin berteriak sekeras mungkin. Inilah ciptaan Sang Ilahi yang tiada tandingannya. Perlahan tapi pasti, sinar mentari sudah mulai menyala. Dan dalam sekejap si penguasa siang ini menampakkan dirinya bagaikan sebuah bola yang menyembul dari dalam air. Langit kembali berubah bagaikan sekumpulan aurora di sepanjang garis cakrawala. Sesaat bentuk matahari mengingatkan aku akan kuning telur mata sapi. Sungguh mirip. Kami pun segera mengambil gambar sebelum terlambat. Tak puas-puasnya aku memuji keindahan alam ini. Aku betul-betul beruntung bisa lahir dan hidup di negeri yang sangat indah ini, Indonesia.

Jam di tanganku menunjukkan pukul 04.40 di pagi hari saat matahari keluar dari sarangnya. Tak ingin rasanya bagi diriku untuk meninggalkan tempat ini. Benar-benar sebuah tempat yang aku inginkan. Tak banyak orang, penuh keindahan, dan menyejukkan hati. Kulihat kedua temanku. Mereka masih terpana dengan indahnya alam ini. Tanpa kami sadari, para pengunjung lainnya sudah meninggalkan tempat ini. Namun masih berat rasanya kami untuk mengangkat kaki dari sini. Bila aku mempunyai Pintu Kemana Saja milik Doraemon, tentunya setiap pagi aku akan datang kesini. Hangatnya sinar mentari menemani langkah kami yang berjalan kembali ke jip. Perjalanan turun kembali ke padang di bawah terasa lebih cepat. Mungkin karena kabut sudah mulai menipis dan pandangan menjadi lebih leluasa. Selama perjalanan turun, kulihat banyak pepohonan yang hangus terbakar. Itu ulah beberapa orang dengan maksud yang tidak jelas, menurut penjelasan si sopir. Tak lama kemudian kami hampir sampai di area parkir kendaraan di tengah padang pasir. Beberapa ojek kuda mendekati kami. Tapi kami sengaja tidak menyewa kuda karena ingin merasakan berjalan kaki hingga ke puncak gunung Bromo yang kami lihat dari atas tadi. Kami harus berjalan melintasi padang pasir sejauh lebih dari satu kilometer. Setelah itu, kami harus mendaki lereng gunung yang entah berapa jauh jaraknya. Sebanyak tiga kali kami harus berhenti untuk menarik nafas. Betul-betul membuat betis ini menjadi kekar. Kulihat banyak orang yang memilih untuk naik kuda. Mungkin hanya kami bertiga saja yang memilih untuk berjalan kaki. Selain tentunya si pemilik kuda yang harus menuntun kuda mereka masing-masing.

Sangat lelah. Berjalan di atas pasir dan mendaki gunung membuatku serasa ingin pingsan. Ditambah lagi sinar mentari yang  mulai menyengat walau jam masih menunjukkan pukul 06.05 pagi. Kutengadahkan kepalaku. Sebuah “ujian” terakhir harus kami hadapi sebelum berada di lereng kawah Bromo. Sebuah undak-undakan yang memiliki sekitar 250 anak tangga. Itu artinya aku harus mengangkat badanku sebanyak 250 kali juga. Haah! Membayangkan saja sudah membuatku kehabisan nafas. Dengan keringat yang bercucuran karena perjalanan awal tadi, kami pun mulai menaiki anak tangga. Mau tak mau kami harus berhenti sebanyak dua kali untuk mencegah terjadinya pingsan karena kekurangan oksigen. Saat berhenti sejenak, seorang bapak-bapak menyapaku saat dia berjalan menuruni tangga. “Ayo mas sedikit lagi. Masak ngga kuat sih.” Huh! Ingin rasanya kudorong orang itu biar terguling hingga dasar tangga. Aku yakin orang itu tadi naik kuda hingga bawah tangga. Makanya dia kuat menaiki tangga karena tenaga dia masih fresh. Coba dulu dong jalan dan mendaki sejauh lebih dari dua kilometer baru kemudian ngomong seperti itu. Sambil menggerutu dalam hati aku kembali menaiki tangga dengan nafas yang tersisa.

Lega rasanya saat kakiku menapakkan kaki di anak tangga terakhir. Aku heran kenapa aku bisa kehabisan nafas seperti ini. Kulihat di sekitar. Aku baru menyadari kalau kita ini berada di atas pegunungan. Berhubung gunung Bromo terletak di padang pasir yang luas, jadi seolah-olah mengaburkan kenyataan bahwa kita sudah berada di dataran tinggi semenjak di padang pasir. Hmm. Pantaslah aku mudah capek. Oksigen di pegunungan sangat tipis. Membuat kami susah untuk benafas. Bisa kubayangkan pemain bola yang harus bertanding di Wamena, Papua, yang memiliki ketinggian kurang lebih sama. Bau belerang langsung menyengat hidungku. Asap putih tebal keluar dari mulut kawah yang kemudian bergerak mengikuti arah angin. Ternyata begini rasanya di puncak sebuah gunung. Mata bisa memandang luas di kejauhan. Seolah-olah tidak ada yang bisa menghalangi. Garis-garis bekas aliran lava tampak terukir jelas di lereng gunung Bromo. Pun demikian dengan si “tetangga” yaitu gunung Batok. Walaupun keringat mengalir deras, tapi kami puas. Sangat puas. Tak lupa kami mengambil gambar sebelum kembali berjalan menuruni tangga. Tepat pukul 08.00 kami sampai di kendaraan kami. Hanya 30 menit waktu yang kami butuhkan untuk berjalan kembali. Sepuluh menit lebih cepat daripada waktu kami berangkat tadi. Dengan peluh yang membasahi sekujur tubuhku, kami kemudian berjalan kembali menuju hotel dengan sebuah kenangan yang sangat indah tertanam di benak kami masing-masing. (bersambung)


About MazGan

Be a Better Human Komentator Segalanya
This entry was posted in Jalan-Jalan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s