The Bromo Experiences (3)

Jalanan semakin menanjak. Untung kendaraan ini bisa aku andalkan. Sepanjang perjalanan kulihat di sekitar. Aku rasa tidak banyak tanaman sayur-sayuran layaknya di dataran tinggi lainnya semisal di Dieng. Mungkin karena tanahnya yang tidak cocok untuk tanaman sayuran. Kebanyakan memang hanya kentang yang ditanam di sepanjang lereng-lereng bukit. Bentuk lereng bukit yang dibuat menjadi terasiring pun menambah keindahan pemandangan selain berfungsi untuk mengurangi erosi dan lahan pertanian. Tak lama kemudian, kendaraan kami dihentikan oleh beberapa orang tepat di depan gerbang gunung Bromo. Orang-orang itu menjelaskan bahwa kendaraan umum hanya bisa sampai di sini. Untuk menuju kawah Bromo, padang pasir, atau Penanjakan (lokasi melihat sunrise), harus menggunakan jip karena kondisi jalan yang tidak memungkinkan bagi kendaraan biasa. Jadilah kami memarkirkan kendaraan di sebuah penginapan milik pemda Probolinggo sekaligus menyewa kamar. Harga per kamar dengan double bed hanya sebesar 200 ribu saja. Sebenarnya masih ada banyak hotel yang berlokasi tepat menghadap gunung Bromo. Tapi tentu saja lebih mahal. Kisaran harga bisa mencapai 400 – 600 ribu per malam. Jadilah kami menginap di penginapan pemda ini.

Jam masih menunjukkan pukul 10.30 siang hari saat kami merampungkan segala macam urusan yang berkaitan tentang perjalanan besok. Salahsatunya adalah menyewa jip seharga 400 ribu per kendaraan. Satu jip (Toyota Hardtop) mampu menampung lima penumpang. Yoyok, salahsatu dari pengurus paguyuban jip, mengatakan bahwa ada sekitar 152 jip yang beredar di kawasan gunung Bromo ini. Terkadang aku juga merasa lucu. Bayangkan saja, dalam satu wilayah, semua kendaraannya memiliki jenis yang sama. Hanya dibedakan dari plat nomor karena beberapa jip mempunyai warna yang sama. Dan orang-orang di wilayah itu mampu mengenali siapa pemilik masing-masing jip tersebut. Hebat deh. Setelah mengucapkan salam, kami pun beranjak ke kamar masing-masing untuk istirahat. Setelah membereskan barang, aku langsung tertidur. Terlebih lagi dengan udara yang begitu dingin menusuk hingga ke tulang. Pemanas air yang ada di kamar mandi pun seolah-olah hanya sebagai hiasan. Seluruh badanku terasa mengeras karena membeku disiram air sedingin es. Padahal saat itu hari masih siang. Tak terbayang bagaimana jika di malam hari.

Pukul 4 sore aku terbangun. Lumayan juga bisa tidur cukup lama. Kulihat keadaan di luar kamar. Tampak hujan rintik-rintik disertai kabut putih pekat yang mulai menyelimuti daerah ini. Brrr. Sudah bisa kubayangkan betapa dinginnya di luar sana. Setelah mencuci muka dengan air sedingin es, aku kemudian melangkahkan kaki keluar kamar. Sebetulnya aku tidak terlalu kaget dengan keadaan seperti ini. Selama di Jogja, aku sering pergi ke daerah yang bernama Kaliurang. Sebuah daerah berhawa dingin yang berada di kaki gunung Merapi. Aku sering pergi kesana di malam hari dan pulang sebelum subuh. Tapi hal yang membedakan adalah begitu tebalnya kabut yang turun di daerah ini. Tapi hal itu tidak menyurutkan niat bagi orang-orang yang sedang berkumpul di depan gerbang hotel. Rupanya halaman hotel ini memang dijadikan lokasi transit sebelum mendaki ke gunung Bromo. Sejenak kulihat di sekitar. Tak ada kendaraan lain selain mobilku. Apa karena bukan musim liburan ya? Entahlah. Aku kembali masuk ke dalam kamar. Kusiapkan peralatan mandi dengan tak lupa menyiapkan fisik juga untuk menghadapi sengatan dinginnya air.

Segar. Badan terasa dingin tapi nikmat. Setelah mengenakan pakaian, aku kembali keluar kamar. Aku bertanya dimana rumah makan terdekat ke salah seorang dari orang-orang di luar tadi. Ternyata di seberang hotel terdapat sebuah rumah makan kecil yang menyediakan beberapa menu sederhana semisal nasi rawon dan soto ayam. Aku kemudian mengajak Habibi dan Nadra untuk mencari makan. Kulihat mereka berdua keluar kamar dengan langkah gontai. Tak satupun dari mereka yang berani untuk mandi. Terutama Habibi yang semenjak masuk ke dalam kamar langsung “mengurung” diri di bawah selimut. Tapi kata “makan” seolah-olah menjadi mantera yang mujarab untuk meyeret mereka menuju rumah makan di seberang. Aku kemudian memesan nasi rawon. Bagiku nasinya tak cukup banyak. Terlebih lagi iklim yang begitu dingin akan semakin mempercepat proses kelaparan. Oleh karena itu tak lupa aku beli juga dua bungkus roti untuk dimakan di kamar hotel nanti. Sayup-sayup kudengar azan Maghrib dari kejauhan yang mengiringi langkah kami menuju hotel. Tak ada yang bisa kami lakukan malam ini. Kami hanya bisa istirahat untuk mempersiapkan esok hari. Kedua temanku langsung menuju kamar. Sedangkan aku masih berada di luar untuk sekedar menikmati suasana senja. Tak ada langit merah. Hanya kabut putih yang semakin tebal dan gerimis yang belum juga berhenti. Kemudian kulangkahkan kakiku untuk memasuki kamarku.

Selepas Isya, aku hanya menonton televisi yang ada di dalam kamar. Kulihat Habibi masih “bersarang” di bawah selimut. Sedikit rasa bosan melanda hatiku. Aku pun memilih untuk keluar kamar dan duduk di teras depan. Malam itu, makin banyak orang yang berkumpul di depan hotel. Salah satu dari mereka berjalan mendekatiku seraya membuka penutup kotak yang tampak berjajar di teras. Awalnya aku tidak menyadari kotak-kotak tersebut. Ternyata isinya adalah barang dagangan berupa topi gunung (kupluk), syal, dan sarung tangan. Aku yang gemar memakai kupluk kemudian bertanya berapa harganya. Orang itu menjawab “Dua puluh ribu.” Kutawar sepuluh ribu saja tetapi dia tidak mau. Akhirnya disepakati ambil jalan tengah yaitu lima belas ribu. Kupluk yang dijual boleh dikatakan sangat tebal. Dan ada satu kupluk yang warnanya lain daripada yang lain. Serta merta kuambil uang dan kubayar lunas. Sangat nyaman. Itulah perasaan pertama yang muncul saat aku mengenakannya. Kupanggil Habibi dan Nadra. Mereka pun dengan antusiasnya memilih apa yang mau dibeli. Dipilihlah sepasang sarung tangan untuk Habibi dan sebuah syal untuk Nadra. Harga yang diberikan pun sebenarnya cukup murah. Oleh karena itu aku pun tak perlu berpikir panjang saat mengeluarkan uang. Setelah itu, mereka berdua kembali ke kamar. Aku masih di luar untuk sekedar mengobrol dengan bapak penjual tadi. Banyak hal yang kami obrolkan hingga larut malam dan aku kemudian undur diri. Kami harus bangun pagi-pagi untuk melihat sunrise dari puncak gunung. Hmm…tak sabar rasanya. (bersambung)

About MazGan

Be a Better Human Komentator Segalanya
This entry was posted in Jalan-Jalan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s