The Bromo Experiences (2)

Sekitar satu jam lebih perjalanan dari Mojokerto, kami sudah memasuki daerah Gempol. Daerah yang mendadak populer berkat si lumpur Lapindo. Mataku mencari-cari papan penunjuk arah menuju kota berikutnya yaitu Pasuruan. Tak mudah memang. Minimnya petunjuk jalan membuatku pening. Terlebih lagi, Nadra yang berperan sebagai navigator tidak kuasa untuk membaca tulisan di papan petunjuk arah dari kejauhan. Mau tak mau aku juga harus aktif mencari papan penunjuk arah. Setelah melalui keruwetan yang entah disengaja atau tidak, akhirnya kami bisa menemukan jalan menuju Pasuruan dimana sebelumnya harus tersesat masuk ke dalam area perindustrian yang tak jelas namanya. Lega rasanya ketika gapura penanda bahwa kita sudah memasuki wilayah Pasuruan sudah terlewati. Aku pernah membaca ada jalur pendakian ke Bromo yang melalui kota Pasuruan ini. Tetapi aku tak tahu dimana. Kami berjalan hanya berbekal peta bonus dari sebuah majalah edisi lebaran lalu. Tak jelas dimana jalan dan arah yang harus dituju. Kulihat Habibi sudah mulai kecapekan. Aku pun menawarkan diri untuk menggantikan mengingat dia sudah hampir delapan jam mengemudi. Tentu saja waktu tempuh lebih dari itu karena Habibi harus “mencoba” toilet di berbagai SPBU sepanjang perjalanan. Hahaha.

Sejenak setelah aku bertukar posisi dengan Habibi, dengan cepatnya dia tertidur di kursi belakang. Rupanya dia benar-benar tidak tahan lagi menahan kantuk yang tampaknya cukup hebat mendera matanya. Atau mungkin juga dengan tertidur, dia mampu meredam “ledakan” yang mungkin masih berlangsung di dalam perutnya. Who knows? Sepanjang semuanya masih menikmati perjalanan, maka tak ada yang perlu dirisaukan. Setelah aku mengemudi, apa yang aku khawatirkan akhirnya terjadi. Tak hanya Habibi, Nadra yang bertugas sebagai “co-pilot” pun akhirnya ikut tertidur. Hal ini pernah kualami ketika aku dan ayahku pergi ke Surabaya. Hampir di sepanjang perjalanan ayahku tertidur dan aku harus mengemudi sendirian sambil ditemani lengkingan suara Axl Rose dari tape mobil. Sungguh sebuah keadaan yang menjebak.

Dari kejauhan aku melihat gapura selamat jalan dari kabupaten Pasuruan. Mobil kami kemudian melintasi sebuah jembatan pendek yang di ujung jembatan kulihat sebuah gapura selamat datang di kabupaten Probolinggo. Jadi jembatan inilah yang memisahkan teritori kedua kabupaten ini. Kepalaku kemudian celingukan kesana kemari. Aku mencari rumah makan yang sekiranya cukup ramai sebagai pertanda bahwa menu di tempat itu digemari banyak orang. Kulihat banyak rumah makan yang cukup ramai tapi berada di kanan jalan. Aku malas untuk memotong jalan. Aku berusaha mencari yang di sebelah kiri sehingga akan lebih mudah. Hanya berjarak sekitar dua kilometer dari gapura selamat datang, ada sebuah rumah makan yang cukup besar dan ramai. Tak perlu berpikir panjang, aku pun segera menekuk stir mobil untuk memasuki halaman rumah makan tersebut. Bersamaan dengan diparkirnya kendaraan yang aku kemudikan, di saat itulah Habibi dan Nadra terbangun. Mungkin radar dalam perut mereka memberitahukan bahwa mereka sudah berada di wilayah yang memungkinkan untuk memanjakan lidah dan perut.

Asin. Terlalu asin. Itu komentar Nadra tentang masakan yang dia makan. Bagiku sih tidak ada masalah. Yang penting perut bisa terisi penuh sebelum kami naik ke atas gunung. Walaupun tempat wisata populer seantero dunia, tapi sepertinya tidak banyak rumah makan di sekitar gunung Bromo. Selesai mengisi perut, kami pun beranjak pergi. Aku sempat bertanya sebentar kepada tukang parkir tentang jalan menuju Bromo dari rumah makan itu. Sepengetahuanku berdasarkan peta bonus itu, jalan yang menuju Bromo tidaklah begitu jauh dari rumah makan itu. “Tak sampai dua kilometer lagi nanti ada papan petunjuk arah ke Bromo. Belok ke arah kanan.” Begitu jawab si tukang parkir sembari memandu kendaraan kami keluar dari halaman rumah makan.

Gunung Bromo. Sebuah papan petunjuk mengarahkanku untuk berbelok ke kanan keluar dari jalan utama seperti perkataan tukang parkir tadi. Kulihat sekilas batu kilometer yang ada di tepi jalan. Masih lebih dari 40 km lagi untuk sampai ke gunung Bromo. Cukup Jauh. Sepanjang perjalanan, aku rasa hanya kamilah satu-satunya yang melewati jalan ini. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena bukan musim liburan. Atau ada jalur lainnya. Atau sebuah alasan lainnya. Jalan yang berkelok-kelok dan naik-turun tidak membuatku gentar. Aku sudah terbiasa. Malah aku sangat menyukai. Tapi tentu saja tidak bagi penumpang yang berada di kursi paling belakang. Perut akan terguncang dengan hebatnya. Kulihat Nadra yang tak henti-hentinya mengambil gambar dengan kamera Canon-ku. Tak jelas komentar apa yang keluar dari mulut si Nadra tentang pemandangan yang dia lihat. Selalu banyak bicara dan komentar. Khas orang-orang yang berasal dari Padang. Sedangkan Habibi masih sibuk dengan iPhone-nya. Dia lebih suka untuk mendengarkan musik dan duduk diam.

Tak lama kemudian sampailah kami di Sukapura. Sebuah pedesaan di kaki gunung dengan pemandangan sekitar bagaikan lukisan. Walau sebenarnya lukisan itu berdasarkan alam nyata. Begitu indah. Perjalanan jauh kami serasa terbayar walaupun belum sampai di tujuan utama. Pun begitu dengan Nadra yang semakin menjadi-jadi dalam mengomentari pemandangan sekitar. Betul-betul menunjukkan kuasa Sang Ilahi. Dari kejauhan kulihat kami akan memasuki daerah Ngadisari. Pedesaan yang berada di pegunungan Bromo. Udara dingin sudah mulai menyergap. Seketika itu pula aku matikan AC dan membuka jendela. Kuhirup udara yang kemudian membersihkan isi dari paru-paru-ku. Sungguh segar. Mataku kemudian terpaku pada sebuah gerbang dengan tulisan: Selamat Datang di Taman Nasional Gunung Bromo. accueillir les amis! (bersambung)

About MazGan

Be a Better Human Komentator Segalanya
This entry was posted in Jalan-Jalan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s