The Bromo Experiences (1)

Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 malam. Namun semua masih belum siap. Aku rasa waktu keberangkatan akan sedikit atau banyak tertunda. Semula, jam 9 malam merupakan waktu terakhir atau deadline untuk keberangkatan sebuah perjalanan panjang kita. Efek pedas dari oseng-oseng mercon yang menjadi menu makan malam 2 jam sebelumnya kurasa menjadi salah satu faktor yang membuat aktifitas berkemas menjadi lambat. Dan akhirnya jam dinding sudah berdentang sebelas kali menandakan waktu satu jam sebelum tengah malam. Kami pun siap di kendaraan yang amat kubanggakan. Kemanapun aku pergi, si roda empat ini masih saja tangguh. Mesin start, lampu menyala, dan mobil mulai bergerak. Kubiarkan Habibi mengemudikan kendaraan ini. Mungkin inilah pertama kalinya aku membiarkan mobil ini dikendarai oleh orang selain aku (kecuali papaku dan sopirku dulu) dengan aku di dalamnya sebagai penumpang. Aku hanya ingin mengetahui sejauh mana Habibi mampu beraksi dengan kendaraan roda empat mengingat bahwa orang ini sangat kalem. Bahkan menurutku dia lebih cocok dengan sepeda onthel daripada kendaraan bermotor. Beberapa menit kami berjalan, Habibi pun menghentikan mobil ini di sebuah minimarket yang buka 24 jam. Kami bergegas menuju ke dalam dan membeli berbagai keperluan sepanjang perjalanan nanti. Mungkin lebih tepatnya berbagai makanan dan minuman. Dua puluh menit kami habiskan di tempat itu. Dan mobil kembali melaju di jalan aspal yang mulus menuju Solo.

Selama perjalanan ke Solo, aku berusaha untuk tidak tidur terlebih dahulu. Aku ingat bahwa jalanan di kota Solo tidak seperti di Jogja. Sedikit saja kita salah, bisa jadi harus memutar cukup jauh. Mengingatkan aku akan jalanan di kota Bandung. Hanya lima puluh menit saja waktu yang dibutuhkan untuk melewati kota Solo dari Yogyakarta. Jalanan yang sepi karena malam hari menjadi faktor utama di balik cepatnya waktu perjalanan kami dibandingkan pada siang hari. Aku pun berkata pada Habibi dan Nadra yang duduk di sebelahnya bahwa tujuan selanjutnya adalah Sragen dan Ngawi. Aku ingin tidur sebentar untuk menyiapkan tenaga seandainya Habibi lelah. Namun goyangan mobil tak mampu membuaiku ke alam mimpi. Aku masih saja terjaga. Sejenak kemudian aku bisa tertidur namun untuk waktu yang tidak lama. Segera aku terbangun lagi. Seolah-olah aku dibangunkan oleh sesuatu. Dan benar saja. Ternyata Sragen sudah terlewati dan Ngawi hampir habis. Kendaraan menuju simpang tiga yang beberapa waktu lalu aku pernah salah mengambil jalan. Kala itu akhirnya aku terjebak di sebuah jalan yang melintasi tengah-tengah persawahan dengan lubang sebesar kolam pemancingan yang tersebar di sepanjang jalan. Dengan sigap aku berkata, “Belok kanan!”. Aku tidak mau mengulangi lagi kesalahan itu. Perasaan lega seperti menyelimuti hatiku. Beruntung aku bangun tepat di saat itu. Setelah itu, aku tidak tidur lagi. Sungguh serba salah. Jika aku tertidur, siapa yang menjadi penunjuk jalan? Ini adalah kali pertama bagi Habibi dan Nadra melakukan perjalanan darat menuju Jawa Timur. Jika aku yang mengemudikan mobil ini sejak awal, bisa dipastikan mereka berdua akan tertidur dengan pulas hingga tempat tujuan. Haah. Dan hal itu ternyata terbukti di perjalanan pulang nanti.

Tak terasa kami memasuki kabupaten Nganjuk. Sesaat kemudian mobil berbelok menuju SPBU yang berada tepat di depan terminal bus Nganjuk. Usut punya usut, ternyata pencernaan si sopir masih mengalami “gangguan” akibat efek oseng-oseng mercon yang ternyata masih bekerja. Kulihat jam tangan yang melingkar di tangan kananku. Sudah pukul 03.15 di pagi hari. Cukup cepat juga perjalanan kami. Dalam waktu normal, perjalanan antara Jogja – Nganjuk bisa ditempuh dalam waktu 5 jam. Berhubung kondisi jalan yang sepi, maka kami bisa menghemat waktu perjalanan. Tapi ternyata tidak. Mau tahu kenapa? Ikuti saja cerita ini.

Sesaat setelah kita bergerak meninggalkan Nganjuk, aku pun mulai tumbang. Tarikan dan hembusan nafas yang teratur dariku menandakan bahwa aku sudah terlelap. Tak tahu berapa lama aku merebahkan diri hingga sinar mentari pagi membangunkan aku. Kulihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kananku. Pukul 05.30 pagi hari. Bila aku berada di Palembang, maka bisa dipastikan masih gelap gulita. Tapi di sini matahari sudah terlihat jauh meninggalkan peraduannya. Mataku mencoba mencari tahu dimana posisiku saat itu. Ternyata belum juga sampai di Jombang. Dengan keadaan jalan yang begitu sepi, kenapa membutuhkan waktu yang lama? Dan sekali lagi, semua itu karena “ulah” si oseng-oseng mercon. Nadra menjelaskan padaku bahwa di hampir setiap SPBU yang dilewati, si sopir selalu mampir untuk sekedar melepas “ledakan-ledakan” yang ada di dalam perutnya. Hahaha. Aku tertawa terbahak-bahak. Tak kusangka sebegitu kuatnya efek dari oseng-oseng mercon ini. Tapi tak mengapa. Kita berjalan tak dikejar waktu. Dan hingga untuk beberapa kalinya Habibi masih harus berurusan dengan perutnya yang senantiasa “meledak-ledak”. (bersambung)

About MazGan

Be a Better Human Komentator Segalanya
This entry was posted in Jalan-Jalan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s