Review: Setem (Malaysian Movie)

filem-setemKemarin malam, aku diajak teman sekelas pergi ke bioskop. Rame-rame tuh satu kelas. Ada 14 orang yang ikutan. Jadi kita pesan tiket pas sebaris kursi. Sampai di bioskop pun aku gak tau mau nonton apa. Baru setelah kita beli tiket, ternyata kita akan menonton film buatan Malaysia yang berjudul Setem. Awalnya aku bingung nih. Apaan tuh artinya? setem gitar kah? Ternyata asal katanya adalah Stamp alias Perangko. Ooo… gituuu… Untuk hari rabu, harga tiketnya cukup murah. Cuma 6 ringgit. Jadi nomat tuh alias nonton hemat. Secara umum, film berdurasi sekitar 2 jam ini  boleh aku katakan sangat bagus. Selama dua jam penuh kita akan tertawa terus-menerus. Ini adalah film komedi yang serius. Selain itu, film ini juga menggunakan lima buah bahasa. Antara lain bahasa Melayu, bahasa Hindi, bahasa Inggris, bahasa Cina, dan bahasa Indonesia. Aku cukup kaget juga karena menggunakan karakter orang Indonesia. Aku akan ceritakan sekilas mengenai film ini.

Sid (Rashidi Ishak) dan Joe (Afdlin Shauki) merupakan dua sekawan Melayu yang sering melakukan tindakan penipuan walaupun sebenarnya mereka ini orang baik-baik. Suatu ketika, mereka dipanggil oleh Pak Ramli (Datuk Aziz Sattar), yang juga merupakan pengurus panti asuhan tempat mereka tinggal dulu, untuk membantu mengatasi masalah keuangan panti asuhan. Mereka diperintahkan untuk bisa mencari uang sebanyak 500.000 ringgit. Mereka pun memutar otak. Bagaimana caranya mendapatkan uang sebanyak itu. Saat melihat sebuah berita tentang perangko alias setem senilai 4 juta USD, mereka pun berencana merampok perangko itu saat akan dipindahkan. Di lain tempat, Mani (Indi Nadarajah), seorang India yang baru saja keluar dari penjara setelah mendekam selama dua tahun, ternyata belum insyaf juga. Dia mengetahui berita tentang perangko mahal itu. Dia kemudian mengajak temannya yang bernama Vellu (Sathia) untuk merampok perangko tersebut. Apalagi Vellu merupakan salah seorang anggota Panther Security yang bertugas menjaga keamanan pada saat perangko tersebut akan dipindahkan dari Kuala Lumpur ke Melaka. Jadilah kedua kelompok itu membuat rencana. Namun malang bagi Sid dan Joe. Rencana mereka terdengar oleh Lim Piranha (Chew Kin Wah) yang merupakan bos gangster. Akhirnya mereka berdua dijadikan kaki tangan oleh Lim Piranha untuk merampok perangko tersebut. Dalam menjalankan rencananya, mereka diawasi oleh orang kepercayaan Lim Piranha yang bernama Lao (Adam Corrie). Saat dua kelompok ini membuat sebuah rencana, disinilah muncul pihak ketiga yang menghancurkan semua rencana yang ada. Orang tersebut adalah Aryanto (Isma Yusoof). Seorang pria lugu asal Indonesia yang menjadi TKI ilegal di Malaysia.

Kekacauan dimulai pada saat dua kelompok ini akan merampok mobil yang sedang mengantar perangko tersebut. Di sebuah jalan yang tak jauh dari lokasi rencana perampokan, ternyata ada razia polisi. Aryanto yang sedang berada di dalam mobil boks harus lari berhamburan dengan yang lainnya untuk menghindari polisi. Sialnya, Aryanto berlari melintas di jalan dimana mobil pengantar perangko itu sedang melaju kencang. Karena tidak ingin menabrak Aryanto, sopir pun membanting setir dan menabrak mobil yang digunakan Lao untuk menghadang jalan. Tabrakan keras pun tak terhindarkan. Mobil pengangkut perangko oleng dan terguling. Kotak perangko pun terlempar keluar. Dan perangkonya pun tertiup angin kemudian menempel di muka si Aryanto. Saking paniknya, Aryanto pun lari sekuat-kuatnya. Dari sinilah cerita menjadi semakin seru dan penuh tawa.

Pada awalnya, aku tidak menyangka kalau film ini ternyata sangat-sangat mengundang tawa. Ada dua “orang bodoh” di dalam cerita itu. Joe dan Vellu. Bahkan pada saat Vellu berbicara dengan menggunakan bahasa Hindi, entah kenapa aku merasa logatnya seperti logat orang Madura. Selain itu, Isma Yusoof yang memerankan Aryanto pun mampu menjalankan perannya dengan baik sebagai orang Indonesia. Apalagi saat berbicara dengan logat Jawa yang terlihat medok. Bisa jadi melalui film ini, sang sutradara yaitu Kabir Bhatia, ingin menunjukkan kalau Malaysia itu terdiri dari lima golongan besar, yaitu Melayu, India, Cina, Indonesia, dan Orang Barat. Walapun orang Melayu adalah bangsa pribumi, tetapi peran dari bangsa-bangsa lainnya yang turut mendiami Malaysia juga memiliki peranan yang sangat besar. Bahkan orang-orang dari Indonesia yang hanya datang sebagai pekerja saja. Hal yang aku suka adalah pada saat Sid, Joe, Mani, Vellu, Aryanto, Alliyah (Vanidah Imran), dan Iskandah (Que Haidar) bersatu untuk melawan Lim Piranha dan Charles Barring IV (Richard Gardner) yang merupakan pemilik perangko setelah mengetahui bahwa perangko tersebut palsu. Sekali lagi, secara umum film ini sangat bagus. Aku lebih memilih ini daripada Harry Potter yang sudah aku tonton sebelumnya. Two Thumbs Up!

About MazGan

Be a Better Human Komentator Segalanya
This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s