Tenaga Kerja

Sudah lebih sekitar 8 bulan aku bermukim di Johor. Banyak hal yang bisa aku dapatkan disini. Selain melalui interaksi langsung dengan masyarakat sini, aku juga mendapatkan berbagai informasi melalui layar kaca. Semenjak aku datang kesini, banyak sekali kejadian diantara tiga negara ini. Misalnya dengan tingkah laku Polis Di Raja Malaysia yang berkali-kali melanggar batas negara atau kasus kematian David Widjaya di Singapura. Namun di luar semua itu, sebenarnya banyak sekali kerjasama yang sangat menguntungkan bagi ketiga negara ini. Seperti yang baru saja aku lihat di Suria TV, salahsatu stasiun dari Singapura, bahwa kerjasama ekonomi diantara ketiganya sangat tinggi. Contoh kecil saja yaitu tentang tenaga kerja. Bagi Singapura dan Malaysia, mencari buruh untuk pabrik bisa dikatakan lumayan susah. Penduduk di Malaysia tidak mau bekerja di pabrik-pabrik hanya dengan bayaran 1000 – 1500 ringgit per bulan. Mereka meminta minimal 2000 ringgit. Terutama bagi yang sudah berkeluarga. Hal ini bisa dimaklumi karena pengeluaran kebutuhan hidup yang lebih tinggi daripada Indonesia. Apabila dikonversi ke dalam rupiah, maka 1000 ringgit bisa menjadi sekitar 2,8 – 3 juta rupiah. Tergantung fluktuasi nilai tukar. Uang sebanyak itu cukup untuk menghidupi istri dan 3 orang anak di kampung. Bagi pengusaha asal Singapura sendiri, Indonesia merupakan pasar yang sangat potensial mengingat di Singapura sudah sangat sempit peluang usahanya. Dari sebuah wawancara dengan salahsatu pengusaha asal Singapura yang aku lihat di layar kaca, dia menyebutkan bahwa Indonesia sangat diminati oleh para pengusaha dari Singapura. Namun permasalahan yang menjadi kendala utama yaitu kurangnya tenaga kerja yang terampil dan siap pakai. Oleh karena itu, salahsatu program pemerintah yang menggalakkan SMK merupakan suatu langkah yang sangat bagus. Kebanyakan dari masyarakat Indonesia masih menganggap kalau ingin mudah mendapatkan uang, maka tuntutlah ilmu setinggi mungkin. Itu memang benar. Tapi ilmu yang dimaksud bukan hanya dalam bidang akademik. Ilmu itu bisa dimana saja. Tidak hanya di sekolah. Lihat saja ‘rute’ perjalanan yang selalu dilakukan oleh kita-kita semua, yaitu masuk TK, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi, kemudian menganggur. Inilah yang salah. Tetapi karena dilakukan banyak orang, maka seolah-olah itu adalah hal yang wajar dan menjadi benar. Tengoklah berapa banyak lulusan sarjana menjadi pengangguran. Semua terjadi karena kebanyakan masyarakat Indonesia melewati ‘rute’ tersebut. Walau banyak juga yang berhenti di SMA. Terlebih lagi hal ini diperparah dengan pandangan orangtua yang beranggapan bahwa tidak naik kelas adalah sesuatu yang tercela. Ini semakin membebani para pelajar untuk mendapatkan ilmu dari bidang akademik saja. Oleh karena itu, ada baiknya kalau orangtua memberikan gambaran sejak dini tentang sebuah masa depan. Usahakan sejak sang anak memasuki usia SMP. Sehingga dia bisa memilih untuk masuk SMA atau SMK. Jangan memaksakan untuk menjadi sesuatu yang orangtua inginkan. Semirip-miripnya sang anak dengan orangtua, tetap saja ada perbedaan. Biarkan sang anak memilih. Karena apa yang kita pilih tentu saja merupakan apa yang kita sukai. Dan jika suatu pekerjaan itu kita sukai, maka kita akan melaksanakannya dengan sepenuh hati. Tentu saja tetap dalam jalur yang positif. Disinilah kewajiban orangtua untuk memberikan pengarahan, bukan paksaan.

Sekolah Menengah Kejuruan atau SMK, sebenarnya merupakan penyokong yang sangat kuat bagi perindustrian di negara kita. Dengan dibekali ketrampilan yang cukup, lulusan SMK dapat menjadi pilihan untuk tenaga kerja siap pakai. Banyaknya penduduk Indonesia dan mahalnya harga sebuah bangku perguruan tinggi, seharusnya dapat membuat SMK mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah. Mungkin bisa dibuat suatu kerjasama antara SMK dengan lembaga penyalur tenaga kerja, baik dalam maupun luar negeri. Sehingga akan terjadi sebuah ‘rute’ yang jelas bagi siswa SMK. Apalagi jika PJTKI mau bekerja sama dengan SMK-SMK di Indonesia. Tentu saja ini akan menguntungkan bagi kedua belah pihak. Bagi siswa SMK, hal ini akan semakin membuat mereka bersemangat untuk belajar ketrampilan yang mereka pilih. Sedangkan bagi PJTKI, mereka akan dimudahkan untuk mencari tenaga kerja yang mempunyai ketrampilan sesuai standar yang ada. Jangan membatasi bahwa bekerja hanya bisa di dalam negeri saja. Saat ini sudah berada di dalam era globalisasi. Dunia ini milik bersama. Tidak semua negara di dunia ini mempunyai sumber daya manusia sebanyak Indonesia. Masyarakat kita sebenarnya sudah seperti halnya masyarakat Cina dan India yang ada di banyak lokasi di dunia ini. Jadi kenapa harus terbatas di dalam negeri saja?

About MazGan

Be a Better Human Komentator Segalanya
This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s