Batik… dari mana ya?

batik-yogyakartaKemarin waktu kuliah hari Jumat, aku sempat agak kesal. Waktu itu si Johnnie menanyakan sesuatu kepada mahasiswa Malaysia. Dia menanyakan tentang suatu pakaian yang mempunyai berbagai macam corak dan seperti sebuah seragam untuk acara tertentu. Dan dijawab oleh mahasiswa Malaysia bahwa pakaian yang dimaksud adalah batik. Dan Johnnie pun langsung mengiyakan. Aku tidak tahu apakah Johnnie telah mengetahui sejarah batik sebelumnya. Itu yang membuatku agak kesal. Karena seolah-olah batik itu berasal dari Malaysia. Terlebih lagi di dalam kelas juga banyak mahasiswa dari negara-negara lain yang bisa jadi ikut-ikutan menerima informasi bahwa batik itu berasal dari Malaysia. Dalam suatu kesempatan, aku melihat sebuah program acara di televisi lokal. Sebuah acara tentang fashion. Saat itu tema yang diangkat adalah batik. Tampak sekali seolah-olah batik itu milik mereka (Malaysia). Bahkan mereka mengklaim sudah mempunyai motif batik tersendiri yang menjadi ciri khas mereka.

Jika kita menilik dari sejarahnya, batik pertama kali ada pada abad ke-18. Berdasarkan catatan, batik pertama kali muncul di Mojokerto yang saat itu erat kaitannya dengan Kerajaan Majapahit. Lalu batik juga muncul di Pekalongan dan sudah memiliki sekitar 1802 motif. Setelah itu, batik kemudian semakin populer dan menyebar di Pulau Jawa, termasuk di kota Yogyakarta dan Solo. Seiring dengan aktifitas penduduk pulau Jawa yang senang berpergian, maka batik pun dengan cepat menyebar. Tidak hanya di Indonesia, tetapi ke seluruh dunia. Terlebih lagi dengan banyaknya pedagang-pedagang dari seluruh dunia yang berbisnis dengan pedagang dari Indonesia. Jadi, bagiku sebenarnya merupakan hal yang wajar jika batik juga populer di Malaysia karena memang secara geografis berdekatan dengan Indonesia. Apalagi banyak sekali penduduk Malaysia yang merupakan keturunan dari suku-suku di Sumatra, Jawa, atau Kalimantan. Hingga saat ini pun masih ada yang murni “Jawa” karena sejak dari zaman kakek buyut hingga saat ini, selalu menikah dengan orang dari tanah Jawa. Hal yang tidak bisa diterima adalah apabila Malaysia mengklaim batik sebagai budaya mereka. Belum lagi angklung dan reog yang ikut-ikutan diklaim. Jika yang mengklaim adalah penduduk Malaysia yang keturunan Jawa dan hanya untuk membudayakan kembali budaya Jawa di tempat yang baru dimanapun itu, maka itu tidak akan menjadi masalah. Karena mereka juga keturunan orang-orang Jawa yang berhak untuk mengakui budaya tersebut. Akan tetapi seperti yang aku katakan tadi, yang menjadi masalah adalah apabila pemerintah Malaysia yang mengklaim budaya tersebut. Lihat saja kebudayaan Cina, misalnya barongsay. Dimanapun itu dimainkan, tidak ada satu negarapun yang mengklaim kecuali Cina sebagai asal usul budaya tersebut. Hal yang sama seharusnya berlaku untuk kebudayaan-kebudayaan kita yang ikut ‘menjelajah’ bersama masyarakat kita dimanapun itu. Kita masih beruntung karena jika kita menjelajah internet tentang batik, maka akan terlihat bahwa batik masih menjadi milik kita. Bahkan ‘kitab’ pengetahuan dunia maya, Wikipedia, masih menjelaskan bahwa batik berasal dari Indonesia. Jangan sampai kita lalai dan lupa sehingga menghilangkan jerih payah nenek moyang yang mewariskan sesuatu yang sangat berharga kepada kita semua.

About MazGan

Be a Better Human Komentator Segalanya
This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s