Review: Transformers 2:Revenge Of The Fallen

transformers 2Kali ini aku mau buat dua buah review  film sekaligus. Maklum, mumpung bisa nonton bioskop. Ok, setelah me-review Ketika Cinta Bertasbih, aku akan menceritakan pengalaman dan pendapatku mengenai film Transformers 2: Revenge Of The Fallen. Kali ini aku nonton sehari setelah premier. Saat memesan tiket, ternyata sudah hampir full seated. Pada film kedua ini, para penonton akan ‘diberi’ sebuah informasi mengenai sejarah dari para Transformers dan kenapa selalu ada perang antara Autobots dan Decepticons. Sejarahnya sederhana. Sebuah keserakahan yang mengakibatkan pengkhianatan. Dahulu kala, para Transformers ternyata sudah berada di planet kita yang bernama Bumi. Mereka menjelajahi seluruh galaksi untuk mencari sumber energi baru demi kelangsungan hidup mereka. Sumber tersebut bernama Energon. Transformers yang dipimpin oleh Primes bersaudara (ada 4, 5, ato 6 gitu. lupa!) membangun sebuah mesin untuk menghisap energi dari matahari yang bisa mengakibatkan hancurnya planet Bumi. Namun ternyata mereka menemukan kehidupan di planet Bumi. Sesuai dengan tradisi, mereka tidak bisa menghancurkan planet yang memiliki kehidupan. Nah, ternyata ada satu Prime yang tidak setuju. Dia tetap ingin mendapatkan Energon agar kehidupan mereka tetap eksis. Dialah Tranfsormer yang bernama The Fallen. Primes bersaudara lainnya tidak setuju tapi tidak berdaya saat menghadapi The Fallen. Akhirnya mereka menyembunyikan Matrix, yaitu kunci untuk menjalankan dari mesin tersebut, di suatu tempat di padang pasir Mesir. Pasti tau dong apa kelanjutannya? Yap! Betul sekali. The Fallen mengirim anak buahnya yaitu para Decepticons yang dipimpin oleh Megatron untuk mencari kunci tersebut. Dan tentu saja apabila menilik dari kata “Primes”, maka Optimus Prime merupakan tokoh utama yang juga merupakan pemimpin dari para Autobots. Jadi, film Transformers yang pertama hanyalah merupakan ‘perkenalan’ dari para tokoh yang ada di film tersebut.

Satu kesamaan yang aku agak kurang suka adalah pada saat pertarungan antara Autobots melawan Decepticons. Kenapa? PUSING!!! Memang pertarungan kedua kubu Transformers itu sangat menakjubkan. Teknologi CGI yang digunakan pun seolah-olah tidak perlu lagi menggunakan peran manusia asli untuk karakter di sebuah film. Benar-benar riil. Tapi karena bentuk para Transformers menjadi tidak karuan pada saat berwujud ‘manusia’, maka pada saat adegan perkelahian dimainkan, akan menjadi tidak begitu jelas. Terlebih lagi dengan pengambilan gambar yang mobile atau selalu bergerak. Pokoknya kalo sampe 1 jam adegan berkelahi terus, mending gak usah nonton deh. Daripada ‘mabuk bioskop’. Kalau menilik dari segi cerita, tentu saja sekuel ini mempunyai cerita yang lebih dalam karena berkaitan dengan sejarah Transformers dan planet Bumi. Selain itu, pada sekuel ini banyak sekali disisipkan adegan-adegan yang mengundang tawa. Misalnya Transformers tua bernama Jetfire yang harus berjalan menggunakan ‘tongkat’ untuk menunjukkan bahwa dia sudah sangat-sangat tua. Apalagi setiap kali dia berjalan, ‘onderdilnya’ terus saja copot dari tubuhnya. Atau saat dia mengatakan bahwa dia mendukung Autobots dimana dia sendiri merupakan Decepticon. Namun hal itu tidak mengurangi ketegangan yang ada pada film ini.

Pada film ini, peran para Transformers tampak seolah-olah sedikit berkurang. Tapi menurutku, itu karena peran dari Sam dan Mikaela memang jauh lebih banyak. Bahkan kalau aku lihat, sekuel ini memang menekankan pada kedua sosok tersebut, terutama Sam. Bumblebee yang pada film pertama mempunyai peran sentral pun hanya menjadi ‘teman’ bagi sosok Sam. Walaupun demikian, karakter Optimus Prime tetap memainkan peran yang sangat vital. Dia menjadi satu-satunya Transformer yang bisa mengalahkan The Fallen karena merupakan keturunan dari para Primes. Adegan yang sangat kusuka adalah pada saat Optimus Prime dikeroyok oleh para Decepticons di tengah hutan untuk menyelamatkan Sam dan akhirnya dia mati (atau kehabisan bensin. hehehe). Adegan tersebut sangat heroik. Khas film-film India dimana sang tokoh utama belum juga mati walau sudah ditembak 10 kali, hahahaha. Tapi bukan berarti aku pecinta film India lho. Ok, kembali ke topik utama. Dengan ‘kematian’ Optimus Prime, maka dimulailah perjalanan Sam dkk. untuk mencari Matrix yang diyakini mampu menghidupkan kembali Optimus Prime. Nah, petualangan Sam dkk. ini yang menjadi sorotan utama dari film ini. Karena kalau melihat ending film, sebenarnya tampak kurang memuaskan. Pertarung terakhir antara Optimus Prime dan The Fallen berlangsung begitu cepat. Selain itu, sosok Megatron yang sangat perkasa di film pertama menjadi sangat mudah dikalahkan pada sekuel ini. Begitu juga dengan Decepticons lainnya yang mudah tumbang saat ditembus amunisi dari tank-tank tentara Amerika Serikat. Jadi, untuk keseluruhan, aku memberi nilai 8.5 dari maksimal 10. Hal yang minus adalah ceritanya kurang greget pada bagian ending dan plusnya tentu saja teknik penyajian yang sangat-sangat luar biasa. Sebuah film yang sungguh menghibur bagiku.

About MazGan

Be a Better Human Komentator Segalanya
This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s