Los Galacticos Indonesia

Berakhirnya kompetisi reguler pada bulan ini, membuat banyak klub bergerak cepat dalam ‘mengamankan’ sejumlah pemain bintangnya agar tidak hengkang ke klub lain di musim depan. Pada saat inilah loyalitas para pemain akan dipertanyakan. Ada yang tergiur uang berlimpah dan memutuskan untuk pindah, namun ada juga yang bertahan dengan gaji kecil dengan alasan dekat dengan keluarga. Kita tidak bisa menyamakan proses transfer di Liga Indonesia dengan liga-liga di Eropa. Para pemain di liga-liga Eropa jarang sekali memikirkan tentang gaji mereka. Yang jadi pertimbangan adalah, apakah klub ini akan lebih baik pada musim depan atau tidak. Dengan kata lain, kebutuhan pokok mereka sudah terpenuhi. Hal berbeda ditunjukkan pada proses transfer pemain di Liga Indonesia. Para pemain masih menomorsatukan gaji dan uang kontrak. Terkadang tidak peduli di klub mana dia bermain. Dan itu bukanlah suatu kesalahan. Mereka bebas menentukan untuk bermain dimana saja dan sebagai pemain profesional, tentu uang adalah sebuah ukuran yang pantas untuk dibicarakan.

Ada sebuah klub promosi dari divisi utama yang sudah dan masih akan melakukan pembelanjaan pemain bintang besar-besaran. Klub itu adalah Persisam Samarinda. Setelah menggaet tiga pemain belakang berlabel bintang yaitu Hamka Hamzah, Usep Munandar, dan M. Roby, Persisam juga berhasil memboyong Aji Santoso sebagai pelatih. Dana sebesar hampir 40 miliar pun telah disiapkan sebagai ‘bahan bakar’ untuk mengarungi Super Liga musim depan. Tentu saja dengan target sebagai juara. Bisa jadi langkah yang diambil oleh Persisam ini adalah ingin meniru apa yang dilakukan Sriwijaya FC pada tahun 2007 silam. Dengan membeli banyak pemain bintang, Sriwijaya FC berhasil menjadi double winners pada musim pertamanya. Sekilas apabila kita melihat di atas kertas, tentu sudah ‘pasti’ bahwa Persisam bakal menjadi juara apabila semua pemain yang menjadi incarannya telah berhasil dikontrak. Tapi apakah semudah itu? Tentu tidak. Untuk sebuah klub dengan banyak pemain bintang, maka, pelatih yang ada harus mempunyai kelebihan dalam mengontrol dan merotasi pemain. Hal ini telah dilakukan dengan baik oleh Rahmad Darmawan sebagai pelatih Sriwijaya FC. Tidak pernah tersiar kabar bahwa pemain merasa bosan atau jenuh karena tidak pernah diturunkan dalam suatu pertandingan. Itulah nilai plus seorang RD. Pertanyaannya, dengan segudang pemain bintang (nantinya), apakah Aji Santoso mampu mengontrol Persisam dengan baik? Semoga saja jawabannya adalah iya. Namun apabila terjadi suatu ‘kesalahan’, maka itu bukanlah hal yang buruk. Lihat saja Real Madrid dengan semua pemain bintang di setiap lini. Jangankan menjadi kampiun di Liga Champions, di La Liga saja sudah mati-matian bersaing dengan Barcelona. Jadi intinya, banyaknya pemain bintang bisa menjadi bumerang apabila sang pelatih tidak mampu mengendalikannya. Kita lihat saja sama-sama sepak terjang Persisam Samarinda di musim depan.

About MazGan

Be a Better Human Komentator Segalanya
This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s