Dan Cristiano Ronaldo Pun Menangis

lionel-messi_1411499cCampione..campione..ho..ho..ho..ho..hoooo..

Selamat buat Barcelona karena berhasil mematahkan dua tanduk Red Devils dengan dua gol dari Samuel Eto’o dan Lionel Messi pada menit ke 10 dan 70. Sebenarnya aku merasa kurang greget pada final kali ini. Manchester United yang menorehkan rekor sempurna yaitu tak terkalahkan hingga babak final tampil kurang meyakinkan. Tusukan-tusukan dari Ronaldo dan Rooney seolah-olah tumpul di kaki Yaya Toure dan Gerard Pique. Lapangan tengah pun dikuasai oleh Xavi dan Iniesta. Praktis kesempatan bagi Ronaldo untuk ‘menari’ pun nyaris tak ada. Hanya di awal babak pertama saja Ronaldo mengancam gawang Barcelona yang dijaga oleh Victor Valdes. Setelah itu? Nothing! Bek veteran Carles Puyol pun dengan mudahnya meredam aksi bintang asal Portugal tersebut. Setali tiga uang dengan aksi Park Ji Sung dan Rooney yang seolah-olah bermain sendiri-sendiri.

Satu hal yang membuatku merasa yakin bahwa Manchester United tidak akan memenangkan trofi Liga Champions musim ini adalah sejarah mereka sebelum memasuki babak final. Mereka memang membuat rekor yang sensasional yaitu tidak pernah mengalami kekalahan. Terlebih lagi ketika peluang menuju semifinal hampir kandas di tangan FC Porto saat ditahan imbang 2-2 di kandang sendiri. Tapi mereka dapat lolos setelah unggul 1-0 di kandang FC Porto. Ini menunjukkan mentalitas tim Manchester United yang tangguh. Sebuah mental juara. Menilik dari sebuah cerita mitos tentang Hercules, maka inilah yang terjadi pada Manchester United. Alkisah si Hercules merupakan orang yang sangat kuat hingga para dewa pun segan terhadapnya. Hanya satu hal yang mampu menundukkannya. Yaitu dirinya sendiri. Sejarah Manchester United yang fenomenal dan berupaya meraih empat gelar dalam semusim telah menimbulkan kepercayaan diri yang berlebihan. Para pemainnya bermain seolah-olah masing-masing dari mereka adalah pemain hebat. Tak terlihat kerjasama yang apik diantara para pemain. Mereka ingin menunjukkan kemampuan individu mereka. Mereka terlalu yakin kalau trofi Liga Champions musim ini akan mereka raih. Hal berbeda ditunjukkan oleh Barcelona. Xavi dan Iniesta selaku pemain tengah sadar betul kalau secara fisik mereka kalah dari Michael Carrick ataupun Ryan Giggs. Jadi mereka menerapkan umpan-umpan pendek dan cepat seperti tim Spanyol bermain. Sehingga gol-gol tercipta dari sebuah permainan yang indah. Mereka dengan sabar menahan bola hingga bola tersebut siap diumpankan.

Gol dari Messi membuatku sangat terkesan. Kenapa? karena dia mampu mencetak gol melalui sundulan kepala diantara dua bek jangkung yaitu Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic. Bandingkan tinggi badan Lionel Messi yang hanya 169 cm dengan Rio Ferdinand (189 cm) dan Nemanja Vidic (188 cm). Sangat tidak berimbang. Tapi Messi mampu mengambil celah yang ada diantara dua bek tersebut. Terlepas dari kurang waspadanya pemain belakang, assist dari Xavi pun patut diacungi jempol. Bola yang diberikan kepada Messi seolah-olah mampu bergerak sendiri untuk mencari dimana posisi Messi. Sangat akurat. Dan gol dari Messi benar-benar merobohkan tembok kokoh yang sudah retak oleh gol dari Samuel Eto’o. Kostum putih yang dikenakan Manchester United pun seolah-olah menjadi pertanda akan sebuah kehancuran. Good bye MU and bienvenido Barcelona!

About MazGan

Be a Better Human Komentator Segalanya
This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s