Reality Show

mainhatiBaru saja aku nonton sebuah reality show yang ditayangkan di SCTV. Untuk cerita kali ini, kliennya adalah seorang wanita yang bekerja di Semarang. Namanya I. Nah, dia ikut acara itu untuk menyelidiki pacarnya si A yang diduga telah selingkuh. Dan ternyata benar. Si pacar itu selingkuh dengan sorang wanita bernama E. Parahnya lagi, si E ini sebenarnya sudah punya tunangan! Nah lho. Ribet ngga tuh? Akhirnya semua telah diselesaikan baik-baik. Si A dah minta maaf ke semua dan si E akhirnya balik lagi ma tunangannya. Namun di akhir acara, ternyata ada sebuah kejutan dari si klien. Seorang pria bernama J mendatangi mereka semua. Ternyata kedatangan di J ini untuk melamar si I alias sang klien tadi. Nah, makin ruwet kan? Ternyata si klien sudah tau (mungkin dah yakin) kalo si A (pacarnya) memang selingkuh. Jadi dia dekat dengan pria lain juga. Dan sekarang pria tersebut akan melamar si klien. Jadi gak jelas kan mana yang mana selingkuh? Mana yang salah?

Yang ingin aku tegaskan bukan mengenai cerita itu. Tetapi acara itu sendiri. Sebuah reality show yang hanya ‘membuka’ aib ¬†seseorang. Dan anehnya, itu menjadi barang dagangan yang sangat laku untuk dijual. Tak terkira lagi seberapa banyak reality show seperti itu. Masalah yang diangkat adalah masalah yang sangat pribadi. Sebaiknya ya diselesaikan secara pribadi. Namun bisa jadi si klien merasa ingin mengungkap semuanya ke masyarakat luas karena kekecewaan yang dialaminya. Aku juga tidak menyalahkan hal itu. Kalau dianalogikan, antara pencontek dengan pemberi contekan, sebenarnya yang lebih bersalah adalah si pemberi contekan. Dia tahu itu salah tapi tetap saja melakukan. Ibarat membiarkan terjadinya sebuah kejahatan. Jadi dalam hal reality show ini, sebenarnya yang ‘bersalah’ adalah si pemberi sarana untuk melakukannya. Yaitu para stasiun televisi. Tapi bagi tim kreatif sebuah perusahaan stasiun televisi, rating masyarakat adalah nomor satu. Dan mereka berusaha membungkusnya dengan kata-kata manis, misalnya “hanya ingin membantu mengungkapkan kebenaran”. Cuih!!! Makan tuh ludah!

Sudah banyak komentar-komentar mengenai acara reality show, apapun bentuknya itu. Tapi sekali lagi, peminat lebih banyak daripada pemrotes. Karena bangsa kita ini ternyata tidak hanya masih menggemari hal-hal yang bersifat gaib, tetapi juga suka mencampuri urusan orang lain. Selalu ingin tau permasalahan orang lain. Apalagi kalo sampe ada adegan berantem. Tambah gembira deh! Aneh ya?

About MazGan

Be a Better Human Komentator Segalanya
This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s