Bahasa Kita

Hari senin kemarin waktu aku mengikuti kelas Philosophy and Development, temanku mempresentasikan sebuah tulisan mengenai penggunaan bahasa Melayu dalam era globalisasi ini. Memang di Malaysia ini, bahasa Melayu hanya digunakan di tempat-tempat tertentu saja. Misalnya di sekolah atau pemerintahan atau percakapan lintas suku. Selebihnya? Hanya suku Melayu saja yang menggunakan. Masyarakat Tionghoa disini menggunakan bahasanya sendiri, begitu pula dengan masyarakat India. Bahkan pengumuman atau informasi pada suatu produk menggunakan tiga bahasa, Melayu, Mandarin, dan Tamil. Jadi jelas disini bahasa Melayu bukanlah bahasa pemersatu. Satu hal lagi yang membuatku kaget adalah pada saat pembelajaran matematika dan sains di sekolah menengah, ternyata menggunakan bahasa Inggris! Alasannya, banyak literatur yang menggunakan bahasa Inggris. Dan hal ini diprotes oleh banyak pihak. Bayangkan saja, matematika dan sains adalah pelajaran yang tidak gampang, masih dipersulit lagi dari segi bahasa. Bukan suatu alasan menggunakan bahasa asing karena sumber pembelajarannya adalah bahasa asing. Seorang dokter tidak akan salah mengoperasi apabila dia belajar dengan bahasanya sendiri. Bahkan di Indonesia pun masyarakat masih menganggap hebat kalau kita bisa berbicara bahasa asing, Inggris misalnya. Padahal JAUH lebih penting untuk menggunakan bahasa kita sendiri dengan baik dan benar. Lihat saja para petinggi negara atau kalangan selebritis. Banyak sekali yang menggunakan bahasa Indonesia yang kurang baik. Bahkan sampai muncul yang namanya bahasa gaul plus kamusnya. Itu namanya merusak bahasa. Sebenarnya pemerintah harus tegas menyikapi ini. Karena bahasa gaul tersebut sering muncul di televisi, dimana televisi itu sendiri merupakan media yang sangat ampuh untuk mempengaruhi pemirsa. Mungkin 2 atau 3 generasi lagi anak-anak kita tidak akan tahu mana bahasa Indonesia yang benar walaupun sudah belajar di sekolah. Pernah suatu ketika almarhum mantan presiden kita, Pak Harto, berbicara dengan bahasa Indonesia pada suatu pertemuan di PBB. Kita harus bangga dan seharusnya memang seperti itu. Demikian pula dengan beberapa di Eropa yang menggunakan bahasanya masing-masing sebagai pengantar kuliah walaupun banyak siswa internasional. Jadi kalau aku melihat, di Malaysia ini memang terjadi krisis bahasa. Kalaupun berbicara dengan bahasa Melayu, seringkali dicampur dengan bahasa Inggris. Padahal salahsatu tokoh dari Turki yang tinggal di Malaysia pernah mengatakan bahwa suatu saat nanti dalam kurun waktu 30 tahun, bahasa Melayu akan menjadi bahasa keempat terbesar di dunia. Saat ini bahasa Melayu sudah menjadi bahasa internasional. Malaysia, Indonesia, Singapore, dan Thailand adalah beberapa negara yang seluruh atau sebagian penduduknya menggunakan bahasa Melayu. Namun apa jadinya kalau di Malaysia sendiri malah terpinggirkan? Media massa elektronik dan cetak pun menggunakan bahasa yang berbeda-beda. Bersyukurlah kita karena perjuangan di masa lalu telah menjadikan bahasa Indonesia tetap nomor satu, sebagai bahasa nasional dan pemersatu bangsa.

About MazGan

Be a Better Human Komentator Segalanya
This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s