Nilai Seorang Guru

Setelah lebih kurang 3 minggu menjalani kuliah disini, ada beberapa hal yang ingin ku bagikan kepada pembaca sekalian. Bolehlah universitas ini sama-sama berada di kawasan Asia Tenggara. Tapi metode pendidikan, sudah lebih baik daripada di Indonesia. Sebenarnya lebih baik atau tidak hanya bisa diukur di atas kertas saja. Semua tergantung pada pelaksanaan di lapangan. Harus ada rambu-rambu yang jelas sehingga proses penerapan bisa berjalan sesuai rencana. Ibaratnya sebuah lalu lintas. Kalau kondisi jalannya bagus (aspal, marka, rambu, tidak macet, dll.), maka, pengguna lalu lintas pasti akan menikmati perjalanan dan tidak ada niat untuk ngebut karena beberapa saat sebelumnya terjebak macet dan harus mengejar waktu. Bayangkan saja apabila fasilitas tidak dipenuhi. Jalanan berlubang, marka jalan sudah buram, atau macet dimana-mana, pasti banyak pengguna jalan yang melanggar akan melanggar peraturan.

Pertama-tama, aku melihat dari segi biaya untuk mahsiswa. Untuk program master, per semester kita diwajibkan membayar sebesar lebih kurang RM 35.00 dengan biaya semester berikutnya akan lebih rendah (sekitar RM 3.200). Uang sebanyak itu sudah termasuk biaya hostel (asrama) selama satu semester. Jadi, kalau biaya kuliah saja, cuma sekitar RM 2.500 per semester. Sedangkan untuk mahasiswa lokal, hanya RM 2.000 saja per semester. Termasuk asrama juga. Biaya kuliah kak Agung yang kuliah S2 di UGM kemarin, total sekitar sebanyak Rp 42.000.000,00. Itu semua untuk biaya kuliah 3 semester, kost, makan, pulsa, dll. Sehingga per semester paling tidak harus mengeluarkan uang sebanyak Rp 16.000.000,00. Bandingkan dengan sesama harga mahasiswa lokal di UTM. Dengan biaya kuliah dan asrama per semester RM 2.000 plus makan dan lain-lain sebesar RM 1.800, maka, per semester hanya sebesar RM 3.800 atau Rp 11.400.000,00. Dari head-to-head harga per semester saja lebih rendah, belum lagi fasilitas yang di dapat jauh lebih banyak dan lengkap. Contohnya alat dan bahan yang dipakai untuk penelitian, baik itu praktikum ataupun project, semuanya ditanggung oleh universitas. Kita tidak perlu beli bahan dengan uang sendiri. Bahkan kita juga bisa mengajukan proposal pembelian alat apabila alat tersebut tidak tersedia di kampus.

Fasilitas yang ada di universitas ini sangat mendukung untuk proses pembelajaran. Hampir tak ada alasan bagi kita untuk tidak melaksanakan kegiatan belajar dengan baik. Semua mahasiswa dan dosen mendapat service yang bagus dari pihak universitas. Bila tadi sedikit banyak menjelaskan tentang keuntungan mahasiswa dari segi biaya, maka, bagi dosen pun ada banyak sisi positifnya. Salah satunya adalah gaji dosen. Bagi fresh lecturer di UTM, akan mendapat gaji awal lebih kurang sebesar RM 5.000, atau Rp 15.000.000,00 per bulan. Universitas mana di Indonesia yang mau kasih gaji awal sebesar itu untuk seorang dosen? Setahu saya tidak ada. Sedangkan apabila sudah mencapai tingkatan Associate Professor, gaji per bulan bisa mencapai minimal RM 10.000 dengan hanya mengajar 2 kali saja per minggu. Bahkan ada dosen dari salah satu universitas di Indonesia yang pindah untuk mengajar di UTM ini karena besarnya gaji yang diberikan. Kabarnya sebesar RM 25.000 per bulan. Kenapa bisa begini? karena pemerintah Malaysia benar-benar memperhatikan masalah pendidikan. Mereka berani membayar mahal untuk gaji dosen atau guru pada umumnya, dan memberikan biaya yang murah bagi para pelajar, karena semua yang dihasilkan oleh seorang guru ataupun pelajar merupakan aset yang sangat berharga. Semua hasil penelitian adalah sesuatu yang tak ternilai dan menjadi bank data bagi negara ini. Dengan adanya gaji sebesar itu, dosen akan menjadi lebih bertanggung jawab terhadap anak didiknya dan tidak perlu pusing-pusing mencari tambahan pemasukan di luar kegiatan mengajar. Dan mahasiswa pun bisa dengan tenang belajar karena tidak terlalu dibebani oleh biaya kuliah.

Perbedaan akan sangat tampak di Indonesia. Seorang guru saja belum tentu bisa makan tiga kali sehari. Banyak pula yang harus berangkat ke kantor menggunakan bus kota atau bahkan sepeda. Tak heran banyak guru atau dosen yang mencari pemasukan dari sektor lain karena pemasukan dari tempat mereka bekerja tidak bisa menjamin kesejahteraan. Siapakah yang bisa menjadikan seorang insinyur bisa membangun gedung pencakar langit? Seorang dokter yang pandai membedah pasien? Seorang manajer yang ahli memimpin perusahaan? Semua karena guru! Sudah sepatutnya nasib seorang guru adalah di atas segalanya. Bahkan dokter sekalipun. Jangan salahkan guru yang bekerja ‘zig-zag’ karena mencari tambahan pemasukan. Inilah kenapa di awal tadi aku analogikan dengan lalu lintas. Apabila semuanya kesejahteraan guru terpenuhi dan biaya pendidkan terjangkau hingga kalangan paling bawah, maka, semua akan bejalan sesuai dengan harapan. Negara kita ini akan jauh lebih maju dari negara manapun. Kenapa? Karena kita mempunyai motivasi dan semangat yang kuat. Bila nasib guru saja tak menentu dan biaya pendidikan mahal, jangan salahkan banyak anak-anak usia sekolah banyak yang putus sekolah atau guru yang masuk penjara karena terpaksa mencuri. Sulit diwujudkan bukan berarti tidak bisa diwujudkan. Jagalah kondisi jalan, maka niscaya lalu lintas akan lancar. Jagalah dan tingkatkan kesejahteraan guru dan siswa, maka niscaya negara ini akan maju. Hidup Indonesia!

About MazGan

Be a Better Human Komentator Segalanya
This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.

2 Responses to Nilai Seorang Guru

  1. putri says:

    salam kenal, grawira…

    Sy mo nanya, nih…
    Biaya asrama dan kuliahnya…yang RM3500 itu, ya ?

    sy dapat info jika biaya hostel dihitung per hari…apa benar ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s