Kita Juga ‘Penjajah’

djarumsuper-12fid1997Hehehe…apa yang ada di pikiran pembaca saat membaca judul tulisan ini? Yang dimaksud penjajah tentu bukan seperti zaman dahulu yaitu pihak yang melakukan pendudukan dan penguasaan suatu wilayah. Aku ingin cerita kalau kita ini, bangsa Indonesia, sudah ‘menjajah’ Malaysia. Tentu saja untuk di beberapa sektor saja. Yang paling kentara adalah di sektor musik. Sekitar 90% lagu dan musisi yang beredar di Malaysia ini adalah berasal dari Indonesia. Coba saja dengar radio-radio lokal disini. Dalam sehari bisa puluhan bahkan ratusan kali memutar lagu-lagu asal musisi Indonesia. Dari ajang kontes menyanyi pun tak beda jauh. Acara semacam Akademi Fantasia atau Malaysian Idol pun menggunakan lagu dari Indonesia untuk dinyanyikan. Tentu saja hal ini akan mengancam perkembangan musisi lokal. Salah satu orang yang getol untuk menyuarakan soal pembatasan lagu dan musisi dari Indonesia adalah Amy Search, sang pelantun Isabella. Namun hal ini tentu saja tidak bisa dilakukan karena musik adalah bahasa global. Kalau sesorang ingin menikmatinya, maka tak seorangpun bisa melarangnya.

Tembakau. Pemerintah Malaysia memberikan hukum haram untuk menghisap tembakau alias merokok. Oleh karena itu, bisa dikatakan tidak ada rokok produksi lokal. Di sektor inilah kita kembali ‘menjajah’. Dimana ada toko menjual rokok, pasti akan terpampang pula rokok made in Indonesia. Sebut saja Sampoerna, Djarum Super, dan Gudang Garam. Merk-merk ini bersaing dengan rokok buatan Amerika semisal Marlboro, Lucky Strike, Camel, atau Mild Seven. Ada rokok yang diimpor langsung dari negara asalnya, Indonesia atau Amerika, ada juga yang hanya diberi sebatas lisensi untuk diproduksi di dalam negeri. Tapi berhubung sudah ditetapkan bahwa hukumnya haram, maka jarang terlihat orang merokok di tempat umum.

Satu sektor lagi yang benar-benar ‘menjajah’ Malaysia. Apalagi kalau bukan tenaga kerja. Sebagian besar tentu saja tenaga kerja yang bergerak di sektor buruh. Banyak sekali dijumpai WNI yang bekerja di negara ini. Lihat saja di restoran-restoran atau kantin. Kebanyakan pelayannya berasal dari Indonesia. Bahkan penjaga kantin dan housekeeper di UTM ini pun sebagian besar berasal dari Indonesia. Kadang hal inilah yang membuat keturunan WNI yang besar di Malaysia malu untuk mengakui bahwa dia berasal dari Indonesia. Sudah terlanjur ada semacam stigma bahwa WNI yang berada di Malaysia adalah pekerja rendahan. Padahal yang bergerak di tingkatan yang lebih tinggi pun banyak. Tetapi yang paling banyak berinteraksi dengan masyarakat disini adalah yang bekerja di tingkatan bawah. Seperti halnya pelayan atau housekeeper tadi. Sehingga masyarakat disini lebih mengenal bahwa WNI yang bekerja disini hanyalah orang-orang kelas bawah. Tapi kita harus selalu berpegang teguh bahwa selama pekerjaan yang kita jalani adalah halal, maka jangan pernah malu untuk melakukannya. Manusia hanya bisa menilai dengan uang. Sedangkan kesungguhan dan kejujuran hati hanya Yang Di Atas yang tahu.

About MazGan

Be a Better Human Komentator Segalanya
This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s