Public Services

public-space1Hari ini aku mengantar kakakku ke bandara Changi. Penerbangan masih pukul 16.00 local time tapi kami sudah berada di bandara sejak pukul 12.00. Habis mau apa lagi? Gak ada kerjaan lagi sih. Tapi aku mau datang awal karena aku tau kalau banyak yang bisa kulakukan di bandara ini. Mulai dari makan, windows shopping, atau surfing di internet. Posting ini pun aku tulis di bandara dengan fasilitas free WiFi. Itulah kenapa aku memakai judul Public Services. Ya, di negara kota ini, hampir dimana-mana terdapat free hotspot. Entah itu di restoran berbintang atau warung-warung pinggir jalan. Mungkin sekitar 80% lebih kota Singapore ini berada dalam WiFi coverage. Semua ini bertujuan untuk memberikan fasilitas untuk memudahkan warganegaranya. Tak hanya dalam bidang teknologi, public service yang diberikan juga dalam bidang transportasi. Seperti yang kita tahu, bahwa sistem mass rapid transportation atau MRT di negara ini sudah sangat baik. Kita tidak perlu lagi terjebak kemacetan seperti di Jakarta. Dimana kita harus menambah paling tidak 60 menit dari waktu perjalanan kita.

Satu hal yang membuatku kagum adalah adanya ruang-ruang publik hampir di setiap blok. Ruang yang disediakan pun hanya berupa sebuah tanah lapang dengan beberapa fasilitas olahraga di tempat tertentu. Mungkin terlihat sepele, tetapi tempat-tempat seperti ini sangat berguna kala kita ingin berkumpul dan bertemu teman, serta melakukan aktifitas bersama-sama. Secara tidak langsung, hal ini dapat mempererat persaudaraan karena kita dapat berinteraksi di sela-sela waktu bekerja dan belajar. Di sisi lain, dapat juga sebagai sarana melepas lelah. Ruang publik pun tidak harus berada di atas tanah. Coba lihat foto pada posting ini. Itu adalah suatu lokasi di atas Vivo City Mall yang dapat digunakan sebagai arena bermain anak-anak, belajar kelompok, ngobrol, bahkan tidur. Dan itu semua gratis. Kita dapat datang kapan saja dan pulang kapan saja. Di negara kita tercinta ini sangat jarang terdapat tempat seperti itu. Karena aku tinggal di Jogja, aku akan memberikan sebuah contoh. Dahulu, kita dapat bermain sepakbola dengan siapa saja di halaman depan Grha Sabha Pramana UGM atau di lapangan UNY. Tetapi sekarang sudah menjadi restricted area. Kita tidak bisa lagi bermain bebas disana. Oleh karena itu, mulai bermunculan lapangan-lapangan indoor untuk futsal. Dan kita harus membayar untuk itu. Nah, dari sini terlihatkan perbedaannya? Pemerintah kita kurang memperhatikan dalam memberikan ruang publik. Jarang sekali kita melihat taman-taman di tengah kota. Kalaupun ada, kebanyakan digunakan untuk berpacaran ria atau menjadi sarang preman. Kita sudah membayar sekian banyak pajak kepada pemerintah. Tetapi mana timbal baliknya? Untuk berolahraga pun kita harus membayar. Ckckck…aneh gak sih?

About MazGan

Be a Better Human Komentator Segalanya
This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s