Hantu? Atau..?

long-march3Hihihi…sebelumnya aku pengen tertawa bila mengingat cerita ini. Kejadian ini terjadi pada hari Sabtu lalu tanggal 13 Desember 2008. Waktu itu kami berempat, aku, mas Agung, mbak Suzan, dan Hani pergi ke supermarket untuk belanja keperluan sehari-hari. Setelah kami belanja dan mau pulang, kami menggunakan satu taksi. Berhubung aku dan mas Agung tinggal di asrama yang tentunya berbeda dengan mbak Suzan dan Hani, maka taksi aku putuskan untuk berhenti di tengah jalan, kemudian dilanjutkan dengan jalan kaki menuju asramaku. Mengapa? karena jarak antar asrama kami berkisar sekitar 5050 m dan berbeda arah. Jadi sopir taksi pasti minta tambahan. Oleh karena itu, kami putuskan begitu. Tetapi apa yang terjadi? sopir taksi tidak mau berhenti barang sebentar saja untuk menurunkan aku dan mas Agung. Padahal kami tidak merubah arah tujuan. Dia bilang kalau kami turun di tengah jalan, maka itu sudah dianggap sampai tujuan dan harus tambah biaya kalau ingin ke asrama mbak Suzan. Dengan setengah marah dan membentak, aku berkata bahwa turunkan saja kami di asramanya mbak Suzan. Nanti kami kami bisa call taksi lagi dari sana. Memang akhir kami nanti membayar taksi lagi, tetapi setidaknya tidak untuk taksi yang sama yang sudah membuatku jengkel.

Sesampainya disana, aku mencoba untuk memanggil taksi. Dari dua stand taksi yang berbeda, tidak ada satu pun yang mengangkat. Akhirnya kami putuskan untuk jalan kaki menuju asrama kami. Jarak yang yang ditempuh pun tidak main-main, 5050 m!  Nah, selama perjalanan inilah terjadi hal-hal yang aneh. Saat kami melintasi hutan, lampu penerangan yang biasanya ada di tengah-tengah jalan mendadak mati saat kami melintas. Dan setelah kami menjauh, lampu tersebut menyala kembali. Sedangkan lampu yang sudah mati malah menyala. Kejadian itu terjadi tidak hanya 1-2 kali, melainkan sudah lebih dari 10 kali! Iseng-iseng aku mencoba untuk membuktikan, jangan-jangan ada sensor otomatis di bawah lampu. Saat berada di lampu yang barusan mati, aku mencoba untuk berhenti sebentar dan menunggu apakah lampu tersebut akan menyala. Dan ternyata tidak menyala. Saat aku melanjutkan perjalanan, dari kejauhan kulihat lampu itu menyala lagi dan tidak mati-mati! Jadilah kami berdua jalan di kegelapan melintasi hutan sambil ditemani lampu jalanan yang ‘byar-pet’. Tak terbayang wajah mas Agung yang setengah ketakutan karenanya. Hihihi…

About MazGan

Be a Better Human Komentator Segalanya
This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s