Membuat Visa Studi ke Malaysia 

Selamat Pagi/Siang/Malam!

Sepertinya dulu saya pernah memposting perihal visa.  Kalau tidak salah, tentang jenis-jenis visa. Untuk postingan kali ini, saya akan membahas mengenai cara mengurus visa untuk calon pelajar yang akan menempuh pendidikan di Malaysia. Sekedar mengingat, visa ada 3 yang umumnya digunakan, yaitu Social Visit Visa, Single Entry Visa (SEV), dan Multiple Entry Visa (MEV). Apa bedanya? Coba cari postingan saya terdahulu, hehehe. Sebagai catatan, Social Visit Visa tidak bisa dikonversi ke Multiple Entry Visa.

Saat anda ingin menempuh studi di luar negri, ada baiknya ada mempunyai relasi di kampus tujuan anda. Relasi tersebut baiknya calon pembimbing atau salahsatu pengajar. Karena saat anda mendaftar ke salahsatu institusi pendidikan, baik online maupun walk-in, nanti akan ada kolom keterangan siapa sponsornya/pembimbingnya. Hal ini penting untuk menerbitkan Offer Letter, yaitu sebuah dokumen yang menyatakan anda diterima/dapat menempuh studi di institusi tersebut. Jadi tolong hindari datang mendadak tanpa persiapan. Ibarat perang, siapkan dulu perlengkapannya.

Apabila Offer Letter sudah diterima, maka anda diharuskan mengurus Single Entry Visa (SEV), dimana SEV ini nantinya akan dikonversi menjadi Multiple Entry Visa (MEV) setelah anda registrasi ulang di institusi anda. Apabila untuk urusan studi, maka akan menjadi Student Pass, apabila untuk tujuan kerja, maka akan menjadi Working Permit. Untuk mengurus SEV, anda diharuskan mendapatkan Visa Approval Letter (VAL) terlebih dahulu. VAL ini semacam surat keterangan/pengantar yang menyatakan bahwa anda memang sudah diterima di institusi tujuan dan diperkenankan untuk mengurus SEV sebelum memasuki negara tujuan, dalam hal ini Malaysia.

Untuk mengurus VAL studi, anda harus melalui sebuah institusi bernama Education Malaysia Global Service (EMGS). Silakan dibuka melalui laman web atau aplikasi smartphone. Setelah register di EMGS, anda diminta untuk mengisi keterangan yang ada di form registrasi. Setelah itu, tinggal menunggu hingga VAL terbit. Kalau melihat keterangan estimasi sekitar 3-7 hari kerja. Namun tetap saja lebih dari 7 hari kerja.

Setelah VAL anda terbit, segera cetak untuk mengurus SEV. Visa bisa diurus di kedubes atau konjen Malaysia. Untuk mengurus visa di Jakarta, pengurusan TIDAK dilakukan di kedubes Malaysia, melainkan di kantor khusus visa Malaysia yang berada di Menara Palma Lt.18, Jln. Rasuna Said. Lokasinya berseberangan (diagonal) dengan kantor kedubes Malaysia. Silakan cari di Google Map. Saat masuk ke Menara Palma, pastikan anda mendapatkan kartu akses lift dengan meninggalkan ID anda di petugas lobi.

Di kantor visa Malaysia, anda akan diminta untuk mengisi formulir. Harap diperhatikan, dokumen yang harus dibawa adalah Offer Letter (print out), Visa Approval Letter (print out), Paspor Asli (untuk ditempel stiker SEV), Fotokopi Paspor, dan Pas Foto uk. 35×55 mm dengan background putih. Biaya untuk SEV adalah sebesar Rp. 873.000,00. Silakan tunggu 3 hari kerja dan SEV anda akan selesai kalau tidak ada rejection.

Singkatnya, alurnya adalah sbb:

Registrasi Institusi Tujuan -> Offer Letter -> Visa Approval Letter (VAL) -> Single Entry Visa (SEV) -> Multiple Entry Visa (MEV jenis Student Pass).

Semoga postingan ini berguna untuk teman/saudara sekalian. Terima kasih.

Contoh Single Entry Visa

Advertisements
Posted in Kuliah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Apa itu lampu Hazard?

Salahsatu fitur yang boleh dikatakan selalu ada pada setiap jenis mobil dalam varian apapun adalah lampu Hazard. Seperti halnya safety belt, fitur ini adalah salahsatu fitur standar keamanan sebuah kendaraan, terutama roda 4. Ditilik lebih lanjut, lampu Hazard ini sebenarnya lebih mengacu pada sebuah sistem penyalaan lampu (lampu sein menyala bersamaan) yang mempunyai fungsi/makna tertentu, bukan pada bentuk fisiknya. Adakah peraturan yang menerangkan fungsi dari lampu Hazard ini? Oh tentu! Silakan lihat UU No.22 Thn. 2009 tentang LLAJ Pasal 121 Ayat 1. Di dalam UU tersebut, disebutkan bahwa “Setiap pengemudi kendaraan bermotor wajib memasang segitiga pengaman, lampu isyarat peringatan bahaya atau isyarat lain pada saat berhenti atau parkir dalam keadaan darurat di jalan”.  Dari undang-undang tersebut, maka lampu Hazard dapat diartikan sebagai “lampu isyarat peringatan bahaya”. Oleh karena itu, logo dari lampu Hazard adalah segitiga merah yang merupakan representasi dari segitiga pengaman.

http://www.onlinetraffic.com/images/reading/ch5/hazard-lights.jpg
Nah, kemudian, kapan waktu yang tepat untuk menyalakan lampu Hazard? Ada beberapa peristiwa umum yang mewajibkan pengendara untuk menyalakan lampu hazard. Misalnya, ban bocor di jalan dan harus melakukan penggantian di pinggir jalan karena kendaraan tidak bisa dipindah keluar badan jalan. Atau saat tengah berkendara, ada kejadian di depan kendaraan kita yang membuat kita harus berhenti mendadak/berhenti sejenak (ada orang menyebrang, ada kecelakaan, dll), sehingga kendaraan di belakang kita dapat ikut mengantisipasi. Jadi semacam sinyal untuk pengendara lain agar tidak nyelonong jalan terus. Secara umum, lampu Hazard berfungsi sebagai penanda sebuah kejadian darurat. Bukan sebagai sinyal untuk jalan lurus saat di persimpangan, bukan sebagai tanda untuk melegalkan konvoi kendaraan, bukan untuk dinyalakan saat hujan deras atau cuaca berkabut.

Be smart!

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Mahal atau Murah ya?

Sebuah harga atau nilai suatu barang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Tidak ada sebuah pakem yang mengatakan bahwa barang ini mahal atau barang itu murah. Ada beberapa faktor yang dapat menentukan mahal murahnya suatu barang. Kalau saya rangkum, pada umumnya 3 sebab untuk menentukan mahal murahnya suatu barang.

1. Komparasi atau Perbandingan

Suatu ketika, saya membeli smartphone S20 di toko A dengan harga Rp 3.000.000,00. Kemudian suatu hari saya berjumpa dengan teman saya dan ternyata menggunakan smartphone yang sama serta dibeli di waktu yang hampir bersamaan dan di toko yang tidak berjauhan. Dia kemudian bertanya berapa rupiah yang saya keluarkan untuk menebus smartphone tersebut. Dengan ekpresi kecewa setelah saya memberikan jawaban, dia mengatakan bahwa dia harus mengeluarkan uang sebanyak Rp 4.000.000,00 di toko B untuk smartphone yang sama. Dari kasus ini, maka smartphone dari toko A menjadi sesuatu yang murah dibandingkan dengan smartphone dari toko B. Harap diingat juga, sekalipun toko A menjual dengan harga Rp 4.000.000,00 tetapi kemudian toko B menjual dengan harga Rp 5.000.000,00, maka smartphone dari toko A tetap berasa lebih murah. Jadi disini, mahal murahnya nilai barang dikarenakan adanya faktor komparasi atau perbandingan.

2. Kebiasaan atau Kebutuhan

Pernah suatu hari saya bertanya kepada salahsatu tukang saya di proyek. Saya menanyakan apakah dia sering menelpon ke rumah kalau sering ada proyek di luar kota.  Dia menjawab tidak terlalu sering menelepon karena dengan sms saja sudah cukup untuk mengetahui kabar. Dengan sms, dia tidak perlu biaya lebih dari Rp 2.000,00 per hari untuk menanyakan kabar di rumah. Sedangkan kalau menelpon, paling tidak keluar biaya hingga Rp 10.000,00. Lebih hemat, begitu kira-kira alasannya. Kemudian saya bertanya lagi tentang kebutuhan rokok yang sering dihisapnya. Dia mengatakan paling tidak menghabiskan 2 bungkus rokok per hari. Dengan harga per bungkus Rp 15.000,00, maka dalam sehari dia menghabiskan uang Rp 30.000,00 untuk kebutuhan rokoknya. Dalam situasi ini, bisa dilihat bahwa biaya menghisap rokok lebih besar daripada biaya menelepon sekalipun. Tetapi dia tidak mengatakan bahwa merokok itu mahal. Ini menunjukkan bahwa apabila sesuatu hal sudah menjadi kebutuhan atau kebiasaan, maka tidak akan dirasa mahal. Namun apabila suatu hal baru pertamakali dilakukan, maka kadang akan terasa mahal sekalipun biaya yang dikeluarkan jauh lebih kecil.

3. Kemampuan Finansial

Pernah saya pada satu kesempatan mengunjungi diler kendaraan bermotor. Tepatnya diler sepeda motor. Saya menanyakan harga suatu sepeda motor yang cukup memikat hati. Dengan cukup bersemangat, si SPG memberikan jawaban yaitu sebesar Rp 40 juta dan dapat dicicil sesuka hati. Saya menimbang-nimbang sejenak. Saya mempunyai tabungan sebanyak Rp 100 juta dan tentu saja mencukupi untuk membeli sepeda motor ini. Namun kalau kembali dipikir-pikir, harga sepeda motor ini menguras hampir separuh tabungan saya. Wah, mahal betul ni motor. Begitu kira-kira saya berpikir. Kira-kira 2 bulan kemudian, saya dapat hadiah undian Rp 10 M. Saya kembali menyambangi diler sepeda motor tersebut. Saya ditawari sebuah sepeda motor model terbaru seharga Rp 80 juta. Dengan agak menyombongkan diri, saya bertanya: “Ngga ada yang agak mahalan dikit gitu?”  Dalam kasus ini, kemampuan finansial seseorang mempengaruhi persepsi mengenai mahal tidaknya sebuah barang.

Mungkin ada beberapa faktor lainnya yang juga mempengaruhi mahal tidaknya suatu barang. Kalau ada, silakan ditambahkan.

Posted in Umum | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment

Rumah Minimalis, Antara Keinginan dan Kemampuan

Kita sering mendengar bahwa manusia mempunyai berbagai macam kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan tersebut secara umum digolongkan menjadi kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Seiring dengan berjalanannya waktu, kebutuhan-kebutuhan dari berbagai golongan tersebut kadang berubah posisi. Misalnya handphone yang dalam 1-2 dekade lalu masih berada di golongan kebutuhan tersier atau sekunder, sekarang menjadi golongan kebutuhan primer. Tetapi, ada 3 macam kebutuhan yang akan selalu ada di satu golongan primer, yaitu papan, sandang, dan pangan. Perjalanan hidup seseorang di dunia ini akan selalu berkaitan dengan ketiga kebutuhan primer tersebut. Pangan jelas dibutuhkan bagi semua makhluk hidup. Tanpa pangan, sudah tentu kehidupan akan berakhir. Sandang juga dibutuhkan bagi semua makhluk hidup yang mempunyai akal sehat dan logika. Sedangkan untuk papan atau tempat tinggal, normalnya tentu akan dibutuhkan bagi setiap manusia. Sekalipun hanya emperan toko untuk sekedar tidur dan berteduh. Tetapi apabila kita berbicara normal, tentu setiap orang mempunyai keinginan masing-masing tentang tempat tinggal idamannya. Dewasa ini banyak tempat tinggal dengan berbagai jenis, mulai dari yang on the ground (di atas tanah), highrise building, sampai rumah terapung. Semua mempunyai karakteristik masing-masing dan tentunya kesesuaian dengan penghuninya. Ada satu tipe rumah yang populer saat ini, baik yang on the ground, highrise building, atau rumah terapung, yaitu tipe minimalis, atau sebenarnya penyebutan yang lebih tepat adalah rumah dengan gaya minimalis. Gaya seperti apakah itu?

Saya mau gaya rumah minimalis. Begitu kira-kira ucapan yang sering di dengar para developer, pemborong, kontraktor, arsitek, interior designer, dll tentang keinginan seorang calon pemilik rumah. Sebenarnya apa itu rumah minimalis? Menilik dari susunan bahasa, maka “rumah minimalis” mempunyai rumus DM alias Diterangkan Menerangkan. Subyek “rumah” diterangkan oleh sebuah keterangan yaitu “minimalis”. Jadi, penekanan pada kalimat “rumah minimalis” adalah pada  segi keterangannya yaitu kata “minimalis”. Apa makna dari minimalis? Secara umum, minimalis adalah sebuah keterangan yang menunjukkan sebuah kondisi/bentuk/keadaan yang bersifat minimal atau sederhana. Keterangan minimalis awalnya tidak untuk bidang arsitektur, tetapi untuk sebuah seni rupa yang menggunakan pola/bentuk dasar dari sebuah benda. Bentuk-bentuk tersebut antara lain adalah persegi, segitiga, dan bulat. Dari situlah kemudian kata minimalis ini menyebar ke berbagai aspek, termasuk arsitektur bangunan. Di Indonesia, gaya rumah seperti ini sedang mewabah dimana-mana. Secara umum, rumah minimalis ini tidak perlu membangun/membuat sesuatu yang berada di luar fungsi. Misalnya, dinding luar rumah tidak perlu diberi ornamen/profil tetapi hanya berupa dinding polos saja. Ataupun pagar rumah yang hanya berupa jeruji besi kotak tanpa adanya ornamen lengkung, bunga, ujung tombak, dll. Tetapi apakah sebenarnya yang membuat orang-orang tertarik dengan rumah bergaya ini? Mari kita urai bersama.

Hampir semua developer di Indonesia menawarkan rumah dengan gaya minimalis. Hanya segelintir saja yang menyediakan bergaya lainnya, misalnya Mediterranean, Victorian, Art Deco, atau Colonial. Rumah bergaya Minimalis memang lebih mudah untuk dibangun, baik dari segi perencanaan maupun pengerjaan di lapangan. Secara kasat mata, tentu diiringi dengan biaya yang lebih murah. Sebelumnya, mari kita simak gaya-gaya rumah yang populer sebelum era minimalis merebak.

med

Mediterranean Style

Rumah dengan gaya Mediterania akan sangat mudah dikenali di Indonesia. Gaya rumah seperti ini sempat booming di berbagai developer. Namun untuk saat ini, hanya developer di tingkat real estate saja yang kadang masih menggunakan rumah dengan gaya seperti ini. Tentu kaitannya dengan biaya pembangunan yang cukup tinggi. Ciri utama rumah dengan gaya Mediterania adalah atap rumah yang menggunakan genteng tanah liat atau genteng beton berwarna bata, jendela/pintu yang diberi aksen lengkung, penggunaan besi tempa untuk pagar atau teralis, penggunaan profil/ornamen/batu alam pada dinding, jendela, pintu, dan juga terdapat banyak lubang angin. Selain itu, biasanya area yang rawan terkena air hujan atau terik matahari akan diberi kanopi yang cukup lebar untuk menghalangi air hujan atau paparan sinar matahari yang berlebihan. Gaya rumah ini mengadopsi pada karakteristik rumah-rumah di daerah Mediterania yang memang beriklim panas. Oleh karena itu, gaya rumah ini cocok untuk digunakan di daerah beriklim tropis seperti Indonesia. Material pembangunan yang berupa tanah liat (bata) membuat rumah dengan gaya ini semakin populer di Indonesia.

8a54d19c397223861715a31d30ac3dcb

Victorian Style

Rumah dengan gaya Victorian agaknya susah dijumpai di Indonesia. Rumah dengan gaya seperti ini erat kaitannya dengan budaya British. Ciri utama rumah dengan gaya Victorian adalah adanya bentuk-bentuk dasar (bulat, segitiga, persegi) yang disatukan seolah-olah berimpitan. Rumah dengan gaya seperti ini mengadopsi dari bentuk kastil atau istana kerajaan di wilayah Great Britain. Selain bentuknya yang menjulang tinggi, rumah dengan gaya ini biasanya mempunyai jendela gantung atau biasa disebut Bay Window, yaitu jendela yang menjorok ke arah luar. Rumah bergaya Victorian juga mempunyai teras yang berdiri sendiri alias tidak menyatu dengan bangunan utama.

southern-colonial-house-style-southern-colonial-style-house-southern-colonial-style

Colonial Style

Selain rumah bergaya Mediterania, terdapat satu gaya lagi yang cukup populer di Indonesia, yaitu gaya Colonial. Ciri dari rumah bergaya Colonial adalah bentuknya yang simetris, mempunyai pintu utama di bagian tengah, mempunyai jumlah jendela/bouven yang cukup banyak, dan yang paling kentara adalah penggunaan pilar-pilar batu di depan rumah. Di Indonesia, kadang pilar-pilar batu tersebut digantikan oleh beton atau kayu persegi. Durasi penjajahan Belanda yang cukup lama membuat rumah bergaya Colonial ini cukup banyak tersebar di seluruh nusantara. Bahkan bangunan-bangunan peninggalan era Colonial di Indonesia pun masih cukup banyak yang dalam kondisi prima.

top-modern-minimalist-house-design-examples1

Minimalist Style

Gaya-gaya rumah yang telah dijabarkan sebelumnya, tentu tidak akan mudah untuk dimiliki bagi setiap kalangan. Biaya yang tinggi akan mengiringi rumah-rumah dengan gaya tersebut. Selain itu, tidak akan mudah juga untuk dibangun apabila sumber daya yang ada tidak memadai, baik tenaga kerja maupun material. Oleh karena itu, muncullah gaya rumah Minimalis yang kemudian populer di masyarakat. Bentuk-bentuk yang digunakan sangat sederhana. Tidak ada permainan bentuk lengkung, ornamen dinding, kanopi lebar, atau atap yang tumpang tindih. Jendela dan pintu pun amat sederhana, hanya berupa persegi. Teralis jendela atau pagar yang digunakan juga hanya menggunakan bentuk jeruji sederhana. Tanpa adanya hiasan ornamen dan tanpa finishing khusus misalnya besi tempa. Gaya rumah Minimalis ini benar-benar menerapkan prinsip 3T dalam dunia konstruksi, yaitu Tepat Guna, Tepat Biaya, dan Tepat Waktu. Untuk memberikan sentuhan artistik, biasanya rumah bergaya Minimalis hanya mengandalkan permainan cat pada dindingnya. Tentu saja gaya Minimalis disini adalah sebuah gaya yang memang diberikan sebagai sentuhan fasad sebuah rumah, bukan karena membangun rumah ‘seadanya’ dengan tujuan yang penting layak ditempati.

Dengan menjamurnya rumah bergaya Minimalis di Indonesia, belum bisa dipastikan apakah memang karena didasari oleh keinginan si pemilik rumah ataukah karena adanya keterbatasan dari segi biaya. Apabila kita melihat di berbagai developer, dengan luas bangunan yang sama, maka rumah bergaya Minimalis akan mempunyai harga yang (biasanya) lebih murah daripada gaya lainnya, misalnya Mediterania. Masuk akal, karena gaya Minimalis tidak membutuhkan bentuk atau hiasan rumit di sekujur bangunan. Wajar apabila rumah bergaya Minimalis akhirnya banyak dipilih oleh calon pemilik. Dengan harga yang lebih murah, tentu ini juga akan memudahkan developer dalam menjual rumah. Sebuah situasi yang win-win solution. Tetapi apakah rumah bergaya minimalis akan cocok di Indonesia? Sekali lagi, yang dimaksud gaya Minimalis disini adalah sentuhan pada fasad bangunan, bukan sebuah kondisi asal bangun dan asal bisa ditempati.

Beberapa developer yang menawarkan rumah bergaya Minimalis, terkadang tidak memberikan fasilitas yang memadai pada bangunannya. Misalnya minimnya lubang udara (bouven) atau tidak adanya kanopi yang memadai pada sebuah jendela atau teras. Kondisi seperti itu dikarenakan di daerah asal berkembangnya gaya Minimalis ini mempunyai empat musim. Semakin banyak atap (kanopi), maka akan semakin banyak salju menumpuk. Semakin banyak lubang angin, maka semakin banyak panas yang terbuang keluar saat musim dingin. Dengan kondisi seperti itu, maka wajar rumah yang dibangun cukup sederhana dan tanpa variasi fasad. Hal ini tentu akan menimbulkan masalah untuk dibangun di daerah beriklim tropis basah seperti Indonesia. Saat musim kemarau, maka hawa di dalam rumah akan terasa panas karena kurangnya aliran udara. Belum lagi saat musim hujan tiba, ketiadaan/kurang memadainya kanopi jendela/teras akan menyebabkan air hujan mudah masuk ke dalam rumah melalui celah jendela atau pintu saat hujan turun disertai angin. Berbeda dengan rumah bergaya Mediterania yang mempunyai banyak lubang angin dan menggunakan kanopi luas di setiap jendela. Jadi apabila menilik dari gaya yang ada, maka sebenarnya rumah bergaya Mediterania-lah yang lebih cocok untuk dibangun di Indonesia. Belum lagi budaya Indonesia yang artistik tentu kurang cocok dengan konsep Minimalis. Apabila ingin dengan gaya yang lebih cocok lagi, tentu dengan gaya rumah asli Indonesia semisal Joglo, Limas, atau Tongkonan. Tapi sepanjang sejarah developer, sepertinya belum ada/sangat jarang yang menawarkan perumahan dengan gaya rumah tradisional. Jadi yang dibicarakan di sini adalah gaya rumah dengan pengaruh dari luar. Untuk mengantisipasi kekurangan pada gaya Minimalis, biasanya akan dipadukan dengan dengan bentuk atau konsep dari gaya-gaya lainnya. Ini artinya sebuah rumah tidak bisa dikatakan 100% bergaya Minimalis. Dengan bercampurnya berbagai gaya rumah yang dikarenakan kebutuhan dan fungsi, maka sebuah rumah biasanya akan kehilangan karakter atau ciri khas, namun bukan berarti rumah tersebut jelek.

Setelah melalui uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa rumah dengan 100% berkonsep Minimalis akan kurang begitu cocok saat diterapkan di Indonesia. Apabila ingin diterapkan maka harus diikuti dengan adaptasi terhadap iklim yang berlaku. Bisa jadi akan memunculkan sebuah gaya baru, dimana gaya rumah semacam Colonial atau Mediterania juga mempunyai perubahan-perubahan mengikuti wilayah penerapan gaya rumah tersebut. Pada dasarnya, masyarakat Indonesia menyukai hal-hal yang mempunyai nilai artistik tinggi. Termasuk dalam pembangunan tempat tinggal. Hal ini bisa dilihat dari rumah-rumah tradisional yang mempunyai kerumitan tinggi dalam pembangunannya. Baik dari segi konstruksi maupun finishing, misalnya dengan memberikan sentuhan ukiran, ornamen, atau lukisan pada bangunan rumah. Jadi, sebenarnya dapat dijawab alasan penerapan rumah bergaya Minimalis di Indonesia, yaitu lebih kepada faktor ekonomi.

Sumber foto:

Posted in Umum | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Supeltas, Kenapa Mereka Muncul?

supeltas

Bagi masyarakat yang hidup di daerah padat yang rawan akan kemacetan, mungkin pernah menjumpai seseorang yang ikut ‘membantu’ tugas Polantas untuk mengatur lalulintas di titik-titik tertentu, misalnya di simpang tak bersinyal atau U-turn. Sebutan populer untuk orang tersebut adalah Pak Ogah. Entah darimana sebutan itu berasal dan siapa yang memulainya. Dalam membantu memperlancar lalulintas, Pak Ogah ini hanya bermodal tongkat dengan bendera kecil di ujung sebagai alat untuk memberi aba-aba pada pengendara. Untuk yang agak bermodal, biasanya menggunakan tongkat senter/tongkat lalin dan ditambah peluit. Mereka kemudian mendapatkan receh dari para pengendara yang merasa terbantu. Dewasa ini, keberadaan mereka boleh dikatakan semakin serius dengan adanya pergantian sebutan mereka dari Pak Ogah menjadi SUPELTAS atau Sukarelawan Pengatur Lalulintas. Selain perubahan sebutan, mereka juga dilengkapi dengan seragam, yaitu safety vest dengan tulisan SUPELTAS di punggung, topi, tongkat lalin, bendera lalin, dan peluit. Siapa yang memulai terbentuknya Supeltas? Saya mencoba mencari sumbernya tetapi belum menemukan informasi yang jitu. Beberapa sumber menyebutkan bahwa mereka bermula dari Satlantas Polresta Surakarta, Jawa Tengah. Tetapi yang jelas, para Supeltas ini di bawah naungan Satlantas Polres masing-masing daerah.

Secara pribadi, saya mengapresiasi langkah Satlantas Polres untuk membina para sukarelawan ini dalam membantu menertibkan dan mengatur laulintas. Apalagi sesuai namanya, para Supeltas ini dilarang menerima uang dari pengguna jalan. Walaupun kadang-kadang masih juga ada penngguna jalan yang memberikan uang dan diterima juga oleh para Supeltas ini. Namanya juga duit. Dengan adanya Supeltas ini, sebenarnya mengindikasikan beberapa hal yang terjadi di masyarakat kita. Pertama, bagi masyarakat di perkotaan yang identik dengan kemacetan, waktu adalah emas. Bukan sekedar uang lagi. Mereka harus secara efisien dan efektif memanfaatkan waktu. Termasuk dalam berkendara di jalan raya. Hal ini menyebabkan terjadinya aksi saling serobot di jalan raya, terutama di simpang tak bersinyal atau titik putar balik (U-turn). Akibatnya tak jarang terjadi kecelakaan lalulintas. Kondisi seperti inilah yang mengilhami beberapa orang untuk mengatur lalulintas di area-area rawan tersebut dengan harapan adanya imbalan receh.

uturn-model

Kedua, adanya kejadian kecelakan di titik-titik persilangan jalan yang kemudian memunculkan Supeltas, juga menunjukkan bahwa kurangnya pra-sarana dalam mengatur lalulintas. Pra-sarana semacam APILL kadang tidak ada di setiap persimpangan. Tentu saja dengan pertimbangan volume kendaraan yang melintas. Tetapi menurut hemat saya, selagi ada persilangan jalan (simpang), terutama di perkotaan, tetap harus diberikan APILL. Sekalipun hanya sekedar lampu kuning berkedip. Selain APILL, sebagian besar titik putar balik (U-turn) di Indonesia tidak atau kurang mengikuti kaidah geometri jalan. Kalau kita perhatikan, titik putar balik biasanya hanya sebuah area dimana terdapat bukaan pembatas jalan sepanjang sekian meter. Hal ini menyebabkan saat sebuah kendaraan akan memutar balik, maka otomatis 1 lajur jalan akan tidak berfungsi. Coba lihat gambar ilustrasi. Saat kendaraan A akan memutar balik, maka kendaraan B di belakangnya otomatis terhalang. Belum lagi saat ada kendaraan dari arah sebaliknya. Kendaraan C dan D mungkin akan berhenti karena melihat kendaraan yang akan memutar balik. Tetapi kendaraan E belum tentu siap untuk berhenti. Terlebih lagi apabila kendaraan E adalah sepeda motor. Disinilah kecelakaan sering terjadi. Bagaimana seharusnya geometri jalan untuk U-turn yang ideal? Silakan browsing di Google.

Ketiga, kemunculan Supeltas juga mengindikasikan bahwa kurangnya edukasi berlalulintas bagi pengguna jalan. Coba renungkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • Bagaimana aturan saat akan berpindah lajur?
  • Bagaimana aturan saat akan mendahului?
  • Bagaimana aturan saat memasuki jalan dari posisi parkir?
  • Bagaimana aturan di roundabout (bundaran)?
  • Bagaimana saat mendekati zebra cross? dll

Mungkin bagi sebagian orang sudah memahami betul bagaimana peraturan berlalulintas. Tetapi kadang sudah memahami pun belum tentu mengaplikasikan di jalan raya. Belum lagi ditambah penerapan pra-sarana yang kurang sesuai fungsinya. Misalnya, adakah yang mengetahui hukum lalulintas saat kendaraan berada/akan memasuki roundabout (bundaran)? Semua kendaraan yang akan memasuki bundaran diwajibkan untuk memberikan kesempatan pada kendaraan yang ada di bundaran untuk melintas terlebih dahulu. Kenyataannya? Wooooh…semua kendaraan berebut untuk melintas. Mungkin bisa dipahami untuk area bundaran yang selalu padat lalulintasnya. Karena kalau menunggu sampai kondisi kosong tentu tidak mungkin. Tetapi kadang untuk bundaran yang tergolong sepi juga masih sering terdapat kendaraan yang seenaknya menerobos masuk ke area bundaran tanpa melihat kendaraan yang tengah melintas. Ada yang pernah melakukannya?

Penggunaan pra-sarana yang kurang tepat juga menunjukkan bahwa otoritas pengatur lalulintas mungkin juga kurang begitu memahami fungsi dari setiap instrumen lalulintas.  Paling sering terjadi di lapangan adalah penggunaan ZEBRA CROSSING dan PELICON CROSSING (biasa diucapkan PELICAN) secara bersamaan. Tujuan dibuatnya Zebra Crossing berupa garis-garis putih/kuning di jalan raya adalah supaya pengendara kendaraan dapat melihat dari kejauhan bahwa area tersebut sering digunakan untuk menyeberang. Oleh karena itu, diharapkan para pengendara untuk mengurangi kecepatan dan kemudian berhenti apabila melihat ada orang yang akan menyeberang. Secara hukum lalulintas, apabila sudah ada yang bersiap di ujung Zebra Crossing untuk menyeberang, maka kendaraan yang melintas wajib untuk berhenti. Untuk di daerah yang agak ramai kendaraan melintas, dibuatlah yang namanya PELICON CROSSING yang merupakan kepanjangan dari PEdestrian LIght CONtrolled Crossing. Instrumen dari Pelicon Crossing adalah lampu lalin yang berkedip-kedip dengan warna Amber (kuning) dan akan berubah menjadi Red (merah) saat ada penyeberang yang menekan tombol di tiang lampu. Dan kendaraan yang melintas wajib berhenti. Marka di jalan pun hanyalah dua buah garis lurus melintang sebagai batas area menyeberang. Yang terjadi di lapangan adalah, sudah ada instrumen Pelicon Crossing, tetapi masih ditambah dengan Zebra Crossing. Hal ini juga jamak terjadi di simpang bersinyal. Dimana sudah terdapat APILL (lampu merah) tetapi masih diberi Zebra Crossing untuk penyeberang. Untuk simpang dengan APILL berjadwal, misalnya jam 23.00 – 05.00 hanya menyala kuning berkedip, maka Zebra Crossing layak diberikan karena tidak ada instrumen untuk menghentikan kendaraan yang melintas. Namun apabila APILL tersebut beroperasi selama 24 jam, maka tidak diperlukan Zebra Crossing. Bisa dipahami? Setidaknya itulah pengetahuan yang pernah saya dapatkan waktu sekolah dulu.

Kesimpulannya, ada tiga penyebab yang membuat Pak Ogah atau Supeltas muncul di masyarakat. Kepribadian dalam berlalulintas, kondisi pra-sarana lalulintas, dan edukasi lalulintas di masyarakat. Semua itu kemudian memunculkan kesempatan untuk mengais rejeki bagi para Pak Ogah. Namun beberapa hal yang harus ditekankan, antara lain:

  • Apakah keberadaan para Supeltas ini resmi terdaftar di otoritas yang berwenang?
  • Apakah dengan menjadi Supeltas dan mengenakan seragam mereka kemudian berhak untuk menghentikan laju kendaraan?
  • Apakah para Supeltas ini telah melewati pendidikan (setidaknya short course) tentang lalulintas? Seperti apa kualifikasinya?
  • Adakah konsekuensi hukum terhadap Supeltas saat terjadi kecelakaan yang mungkin sedikit banyak disebabkan oleh mereka?

Pertanyaan-pertanyaan di atas hanyalah beberapa dari sekian banyak pertanyaan lainnya mengenai Supeltas. Saya sendiri pernah melihat seorang Pak Ogah (karena tidak mengenakan seragam Supeltas) menyebabkan terjadinya kecelakaan. Orang tersebut hanya memberikan aba-aba dengan bendera seadanya agar kendaraan berhenti dan memberikan kesempatan kendaraan dari arah sebaliknya melakukan putar balik. Kemudian apa yang terjadi? Sebuah kendaraan roda dua tidak mampu berhenti (menurut saya wajar karena jarak yang dekat) dan menabrak kendaraan yang putar balik. Hal ini terjadi karena Pak Ogah hanya berfikir untuk mencarikan kesempatan pada kendaraan tertentu untuk putar balik/melintas dan kemudian mendapatkan imbalan tanpa memikirkan kendaraan lainnya. Semoga para Supeltas yang telah diberikan pemahaman berlalulintas dan benar-benar sukarela (tanpa imbalan), mampu memberikan ‘pelayanan’ yang maksimal terhadap masyarakat. Mungkin sekali waktu mereka perlu diberi apresiasi dari pihak terkait. Karena tidak mudah untuk berdiri sepanjang hari di jalan raya tanpa adanya kejelasan mengenai rejeki mereka. Sukarelawan juga butuh makan bosss…

Sumber foto: http://i1228.photobucket.com/albums/ee447/hafid7xdism/Supeltas.jpg

Ilustrasi: MazGan

Posted in Umum | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Menghapus Calo Dengan Keteguhan Hati

Setiap adanya sebuah hajatan massal yang mengharuskan orang membeli tiket, maka orang-orang yang menamakan dirinya makelar tiket gelap alias calo pasti ikut bertebaran. Terlebih lagi hajatan tersebut merupakan hal yang telah men-darahdaging di masyarakat, misalnya pertandingan sepakbola. Ya, hajatan semifinal AFF Suzuki Cup 2016 pun tak lepas dari berita tentang calo. Calo mungkin bisa diberantas. Saya bilang mungkin, bukan tidak mungkin ataupun pasti bisa. Jadi berada di grey area. Apa sebab? Karena praktik percaloan bukanlah hal fisik yang bisa diberantas begitu saja layaknya kasus tiket palsu. Praktik percaloan adalah sebuah gaya hidup masyarakat dimana ada segelintir orang yang berusaha memanfaatkan suatu momen untuk meraup keuntungan berlebih. 

Lantas, bagaimana hukumnya? Saya sendiri tidak paham apakah ada peraturan mengenai larangan penjualan tiket ke tangan kedua, ketiga, dst. Mungkin saja ada peraturan tersebut. Saya sendiri kadang menyuruh orang untuk antri membeli tiket. Dan saya memberi uang lelah untuk jasa antri-nya. Memang tak lebih dari 10% dari total harga tiket. So, apakah orang yang saya suruh itu termasuk calo? Menurut saya tidak. Bedanya adalah di akad jual beli. Untuk kasus ini, dari awal saya sudah bilang akan memberi upah sekian rupiah tapi tolong antrikan tiket. Sedangkan untuk calo, tidak ada kesepakatan di awal mengenai seberapa banyak kelebihan harganya. Yang ada hanyalah calo menetapkan harga dan terjadilah proses negoisasi sampai transaksi. Inilah yang disebut penjualan kedua dan diharamkan.

Jika tujuannya hanya untuk mencegah tiket palsu, maka itu merupakan hal yang mudah untuk dilakukan. Sistem barcode atau hologram sudah mampu menekan peredaran tiket palsu. Sedangkan untuk calo, siapa yang bisa mencegah? Panitia pelaksana? Polisi? Menpora? atau Presiden? Tidak satupun. Hanya satu pihak yang bisa mengurangi praktik percaloan. Siapa? Suporter itu sendiri. Apabila ada yang bertanya, bagaimana caranya suporter bisa mencegah praktik percaloan? Apakah dengan mengeroyok calo? Bukan. Caranya dengan tidak membeli tiket dari calo. Momen yang jarang terjadi, sudah jauh-jauh datang, punya uang lebih, adalah beberapa alasan umum kenapa masih banyak juga suporter yang nekat membeli lewat calo. Disinilah kenapa dibutuhkan keteguhan hati untuk melewatkan momen yang sudah diperjuangkan sedemikian rupa tetapi berujung pada seorang calo. 

Posted in Sepakbola, Umum | Tagged , , , , | Leave a comment

Garuda yang (masih bisa) Terbang…

Tiga rintangan pertama timnas Garuda di AFF Suzuki Cup 2016 telah berlalu. Semua hasil sudah dirasakan, kalah, seri, dan menang. Euforia melajunya timnas Garuda ke fase semifinal pun dirasakan bak sudah menjuarai turnamen tersebut. Wajar, mengingat semua pihak meragukan untuk bisa lolos dari babak grup. Bahkan coach Alfred Riedl pun jauh-jauh hari sudah berulangkali menyatakan: jangan berharap terlalu tinggi.

Dalam pertandingan pertama melawan Thailand, kita melihat timnas kita layaknya pemain amatiran. Kesolidan tim di empat uji coba sebelumnya nampak tak berbekas. Tapi entah apa yang coach Riedl katakan semasa turun minum, permainan Boaz dkk mengalami peningkatan di paruh kedua. Dua gol beruntun dilesakkan dan skor pun imbang. Tetapi kembali kelengahan yang tak perlu di injury time kembali muncul. 

Melawan The Azkals di pertandingan kedua, timnas Garuda kembali menggebrak sejak awal. Sempat unggul cepat melalui gol Fachrudin, The Azkals mampu menyamakan kedudukan. Il Capitano Boaz Solossa kembali membuat timnas Garuda unggul, tapi gol indah Younghusband kembali membuat kedudukan imbang sekaligus memupus harapan menang timnas Garuda.

Last game, total efforts. Mungkin itu yang bisa disimpulkan dari pertandingan terakhir melawan Singapura. Seperti di dua pertandingan awal, Singapura menerapkan pertahanan yang super defensif. Serangan hanya melalui Khairul Amri yang selalu diberi umpan daerah. Lima pemain belakang Singapura selalu setia di area masing-masing, sekalipun dalam situasi menyerang. Jangan tanya lagi kalau posisi diserang. Beberapa kali tampak hingga 7 pemain menumpuk di area pertahanan Singapura. Yes..it’s a Mourinho style. Tapi salut untuk determinasi para punggawa timnas Garuda di pertandingan ini. Gempuran tiada henti membuat strategi parkir bus Singapura akhirnya bocor.

Pada dua pertandingan awal, duet centre back (terutama Yanto Basna) dan kiper mendapat sorotan tajam. Dalam dua pertandingan, keduanya bermain di bawah ekspektasi. Yanto Basna tampak bermain di bawah tekanan. Sering sekali melakukan kesalahan elementer. Di posisi goalkeeper, komunikasi tampak berjalan dengan kurang baik. Berkali-kali Kurnia Meiga tampak kebingungan dalam mengambil keputusan. Dan sekali waktu, sering berebut bola dengan rekan sendiri. Keberanian Kurnia Meiga dalam duel merebut bola juga tidak terlihat. Dari dua pertandingan awal itu, akhirnya banyak tekanan untuk mengganti dua pemain tersebut. Nama Andritany dan Gunawan Dwi Cahyo muncul ke permukaan. Tetapi di pertandingan terakhir, coach Riedl tetap memasang dua pemain tersebut. Coach Riedl seolah-olah tutup telinga dengan semua pendapat di luar sana. Hasilnya? Yup! Yanto Basna dan Kurnia Meiga mampu tampil berani, tenang, dan taktis. Tepisan Kurnia Meiga atas sundulan kapten Singapura menjadi salahsatu momen krusial. Apabila itu terjadi gol, maka habislah mental timnas Garuda karena mereka baru saja menyamakan kedudukan dengan susah payah.

Sebagai seorang pelatih, coach Riedl tidak mementingkan hasil. Dia lebih melihat pada perkembangan timnas. Karena memang seperti itulah seharusnya. Jika coach Riedl mengganti Kurnia Meiga dan Yanto Basna di pertandingan terakhir, bisa dipastikan mental kedua pemain itu akan runtuh. Potensi mereka tidak akan muncul karena kepercayaan diri mereka akan kalah ditekan oleh hilangnya kepercayaan pelatih. Tapi coach Riedl bukan pelatih kemarin sore. Tiap detil perkembangan pemainnya sangat diperhatikan. 

Dari tiga pertandingan awal, beberapa pemain terlihat di bawah ekspektasi. Salahsatu yang underachievement adalah Evan Dimas. Harapan tinggi sebagai playmaker masa depan timnas senior nampaknya masih membebani pemain muda ini. Magis-nya di timnas U-19 nampaknya hilang sewaktu membela timnas senior. Perannya kadang masih tumpang tindih juga dengan Stefano Lilipaly. Walaupun bertipe playmaker, Evan Dimas masih sering ikut support dalam menyerang. Dan Stefano Lilipaly berada di peran itu sebagai attacking midfielder. Belum lagi di dua pertandingan awal ada Rizki Pora yang juga bertipe menyerang. Barulah di pertandingan terakhir dipasang seorang Bayu Pradana sebagai penyeimbang di lini tengah. Dalih mepetnya waktu persiapan yang menjadi penyebab kurangpadunya pemain nampaknya masih bisa dimaklumi.

Overall, timnas Garuda mempunyai lini serang yang diakui berbahaya oleh para pelatih di AFF Suzuki Cup 2016 ini. Boaz Solossa dan Andik Vermansah adalah dua nama yang populer di kawasan ASEAN layaknya Teerasil Dangda dari Thailand atau Le Cong Vinh dari Vietnam. Belum lagi Irfan Bachdim apabila tidak cedera. Secara komposisi, barisan penyerang bisa dibilang sangat mumpuni. Di lini kedua, para gelandang sebenarnya mempunyai potensi yang tidak kalah menarik. Hanya kekurangpaduan mereka menyebabkan kebingungan saat situasi diserang. Mereka terkadang masih bingung harus langsung memutus aliran bola, atau melakukan zonal marking, atau man-to-man marking. Harus ada pembagian peran yang jelas di lini kedua ini. Untuk lini pertahanan, jelas sudah terlihat peningkatan yang signifikan di area segitiga (kiper-centre back). Kurnia Meiga harus lebih banyak memberi komando kepada palang pintu di depannya. Satu yang masih kurang maksimal di lini pertahanan adalah di sektor fullback. Baik Abduh Lestaluhu maupun Benny Wahyudi masih kurang cepat saat transisi menyerang ke bertahan. Selain itu, kombinasi tukar peran dengan centreback saat melakukan marking juga belum terlalu mulus.

Lolosnya timnas Garuda ke babak semifinal merupakan hal diluar ekspektasi banyak pihak. Mari kita lanjutkan dengan maksimal. Tekanan tetap diperlukan untuk menjaga determinasi para pemain. Tetapi kekesalan cukup ditunjukkan saat mereka bertanding. Saat peluit panjang ditiup, apapun hasilnya, they are our heroes!

#affsuzukicup2016 #timnas #indonesia

Posted in Sepakbola | Tagged , , , | Leave a comment