Feeds:
Posts
Comments
  1. Jogging

Jogging saya tempatkan di nomor satu dengan maksud bahwa ini adalah latihan utama dari latihan-latihan fisik lainnya. Sepakbola dan Futsal mengharuskan pemain untuk selalu bergerak baik itu berlari maupun bermanuver. Dalam permainan sepakbola, para pemain bisa mengambil nafas sejenak apabila bola berada jauh dari daerah penjagaan pemain tersebut. Hal ini berbeda dengan futsal yang mengharuskan setiap pemain untuk terus bergerak seperti halnya bola basket. Oleh karena itu, endurance atau ketahanan tubuh sangat dibutuhkan oleh para pemain, terutama futsal.

Untuk latihan jogging, diperlukan sedikit peregangan agar otot menjadi lebih lemas. Peregangan bisa dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

  • Memutar engkel kaki.
  • Menekuk kaki ke depan atau ke belakang dan ditahan untuk beberapa saat.
  • Memutar pinggang ke kanan maupun ke kiri.
  • Menekuk badan ke depan dan kebelakang.

Dalam jogging, sebaiknya tidak memaksakan tenaga. Usahakan anda mampu berlari selama 30 menit non-stop. Tidak masalah apakah anda berlari cepat atau lambat. Latihan jogging bertujuan untuk melatih endurance, sehingga yang menjadi acuan adalah waktu. Setelah anda merasa mampu untuk berlari lebih cepat, maka tingkatkanlah kecepatan namun tetap dalam waktu 30 menit non-stop.

  1. Skipping (lompat tali)

Latihan skipping atau lompat tali bertujuan untuk menguatkan otot di sekitar engkel kaki. Posisi dalam melakukan skipping adalah sebagi berikut:

  • Pandangan lurus ke depan sehingga badan akan berada dalam kondisi tegak lurus.
  • Kedua kaki dirapatkan.
  • Lompatlah dengan menggunakan pergelangan kaki (engkel), bukan dari lutut.

Latihan ini dapat dilakukan setelah anda melakukan jogging. Usahakan anda mampu melompat sebanyak 50 lompatan non-stop. Latihan ini dapat dilakukan sebanyak 300 lompatan dengan perincian 50×6. Setiap 50 lompatan, anda dapat berisirahat sejenak. Setelah mencapai 300 lompatan, anda bisa menambahnya apabila dirasa masih mampu.

  1. Berenang

Berenang merupakan olahraga yang menyenangkan karena anda tidak akan merasa berkeringat yang berlebihan. Tujuan dari berenang adalah untuk melatih kelenturan tubuh pemain. Sebenarnya bisa juga dengan mengikuti kelas aerobic atau taebo, tapi tentu bagi sebagian besar anda akan merasa malas untuk mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut. Dalam berenang, semua otot tubuh ikut bergerak. Sama seperti jogging, berenang merupakan latihan fisik yang direkomendasikan bagi semua atlet di semua cabang olahraga. Manfaat berenang antara lain:

  • Mengencangkan (bukan membesarkan) otot dada, punggung, dan lengan sehingga akan mempermudah dalam melakukan gerakan manuver.
  • Mengencangkan otot paha sehingga meningkatkan ketahanan tubuh dalam berlari.
  • Meningkatkan kapasitas paru-paru sehingga oksigen dapat diserap lebih banyak.
  • Seluruh otot tubuh berkontraksi (ikut berlatih) sehingga mencegah cedera otot di saat melakukan gerakan yang tidak biasa dilakukan.

Menu latihan ini adalah 30 m x 5, yaitu berenang sejauh 30 meter sebanyak 5x. Apabila anda merasa masih mampu, maka anda dapat meningkatkan frekuensinya. Berenang juga merupakan terapi alami bagi pemain yang mengalami cedera otot.

Tiga macam latihan di atas merupakan latihan fisik dasar bagi para pemain sepakbola dan futsal, atau olahraga lainnya secara umum. Latihan jogging dan skipping dapat dilakukan setiap hari pada pagi dan sore hari. Untuk berenang, dapat dilakukan sebanyak 2x dalam satu minggu. Berikut contoh latihan dalam 1 minggu (2x main):

Waktu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu
Pagi Jogging (half) 

Skipping (half)

Jogging (full) Skipping (full) 

Berenang (full)

Jogging (half) 

Skipping (half)

rehat Jogging (full) 

Skipping (full)

Jogging (full) 

Skipping (full)

MATCH
Sore Jogging (full) 

Skipping (full)

Jogging (full) 

Skipping (full)

MATCH Jogging (half) 

Skipping (half)

Jogging (full) Skipping (full) 

Berenang (full)

Jogging (half) 

Skipping (half)

rehat

Pada prinsipnya, sebelum dan sesudah istirahat, beban latihan hanya separuhnya saja (half). Selebihnya bisa melakukan beban penuh (full).  Selain latihan fisik di atas, ada beberapa hal lainnya yang harus diperhatikan, yaitu:

  • No Smoking and No Alcohol.
  • Tidur malam min. 7 jam.
  • Tidur selama 1 jam dan bangun 1 jam sebelum pertandingan.
  • Selesaikan makan min. 45 menit sebelum pertandingan.
  • Minum kopi atau makan bubur kacang hijau untuk meningkatkan energi  sebelum pertandingan.
  • Jangan melakukan perjalanan >30 menit sebelum pertandingan. Usahakan datang awal agar dapat beristirahat dengan cukup apabila lokasi pertandingan cukup jauh.
  • Hentikanlah latihan apabila nafas anda sudah mulai terengah-engah. Lakukan istirahat sejenak sebelum memulai lagi.
  • Jangan melakukan olahraga otot (macam-macam angkat beban) secara berlebihan karena otot yang terlalu besar akan mengurangi kelincahan dalam bergerak.

Semua latihan dan tips ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi penulis. Setidaknya dengan melakukan latihan-latihan ini, maka anda dapat bertahan di lapangan sampai peluit akhir dengan kondisi tubuh yang tetap prima. Insya Allah. Terima kasih.

Farewell

First time i came here, i felt so much different with my hometown. This place was so quiet. Until now still so quiet compared to my hometown, Yogyakarta and Palembang. I could not imagine if i must stay here for around 2 years. But i did it. I’ve got a lot of new things here. People, food, neighborhood, etc. Then, with so much challenges and happiness,  my study in UTM is finished. Now, i have to leave this country, Malaysia, to start a new life (again) in a place that i do not know yet. New challenges will come up to be faced and conquered. It is so hard to leave because i have a lot of friends here. Same feeling when i had to continue to university and separated from my highschool friends. Wise man says that nothing is permanent except change itself.

So, i would like to say thanks a lot to all my friends, brothers, sisters, and i am sorry if  i made mistakes during my study.

Thanks to my classmates:

Azeana, Dorina, Sis. Finie, Ina, Nadra, Kima, Sis. Azi, Mohd. Amin, Amminudin, Idham, Chang, Ong, Garang, Asyraf, Niki Haikal, Ali Khais, Ammar Ali, Ahmed Eltwati, Amir, Arman, Iman, Mr. Hosseini, Anwar 86, Ekhwan, Ariff, Fahmi, Azizi, Shazni, Fauzi Mazuki, Fauzi Isa, M. Hanapi, Imran, Wasid, Nima Zalfi, Nima Jahandar, Javid, Ali Payam, Fariz, Oon Erixno.

 

Thanks to Futsal Sabtu Pagi, Voli Sabtu Sore, and Pingpong mates:

Cici, Mr. Muhardi, Anasrudin, Arief HS, Mr. Aulia, Azzam, Mr. Bimo, Mr. Dadan Ramdan, Mr. Deris, Edy, Abdi, Faruq, Fitra, Mr. Hamzah, Mr. Hartono, Imamul, Mr. Indra, Mr. Zul Fatman, Okky, Mr. Mardiyono, Mr. Imran, Mr. Qomaruddin, Mr. Munawar, Mr. Broto, Mr. Bowo, Zaini, Rudy, Mr. Tole, Mr. Toni, Mr. Heru, Mr. Dadan, Mr. Feri, Mr. Efriza, Mr. Arien, Mr. Rahim, Mr. Ahmad Haya, Mr. Sahar, Mr. Zaid, Mr. Mustamin, Mr. Iqbal, Reza Racun, Ipenk, Ditto.

 

Thanks to hangout mates:

Habibi Ibrahim, Lanang Ardi, Mr. Umar KN, Ms. Windi, Ms. Fili, Mr. Bimo, Mr. Agung Mataram, Mrs. Noorly, Mr. Irfan Jambak, Mr. Zainuddin, Mrs. Suzan Agustri, Mahani, Chika, Ida, Titi, Nadra.

Thaaaaaaaaanx… to all of you…i’m sorry if i cannot mention all of your name here….Sayonara!

Hari Sabtu lalu, aku menyaksikan sebuah pertandingan sepakbola dalam rangka playoff untuk merebut satu dari dua tiket tersisa menuju Asian Champions League 2010. Pertandingan dilaksanakan di Jalan Besar Stadium, dimana yang menjadi tuan rumah adalah Singapore Armed Forces FC (SAFFC). Tim tamu adalah Sriwijaya FC (SFC) yang tahun lalu menjadi kampiun di Copa Indonesia. Dari awal, kedua tim sama-sama tidak mengetahui dengan persis kekuatan masing-masing. Namun setelah peluit kick off ditiup pada pukul 19.30 waktu setempat, kedua tim langsung bermain terbuka. Tidak ada permainan saling menunggu. Kedua tim saling menyerang. Tak sampai 10 menit, sebuah kelengahan terjadi di kotak penalti Sriwijaya FC. Umpan crossing dari winger SAFFC yang awalnya tidak mampu dijangkau oleh pemain belakang SFC ataupun penyerang dari SAFFC, ternyata jatuh di kaki salah seorang pemain SAFFC yang berada di tiang jauh gawang SFC. Sebuah tendangan keras dari jarak dekat gagal ditahan Ferry Rotinsulu. 1-0 untuk SAFFC. Setelah terjadinya gol itu, para pemain SFC semakin menggila. Berkali-kali peluang didapatkan namun tidak membuahkan gol. Sementara itu, para pemain SAFFC tampil lebih tenang setelah unggul satu gol. Mereka lebih banyak menjaga pertahanan dan melakukan counter attack dengan cepat. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya dua gol tambahan bagi SAFFC di babak kedua melalui titik putih. Christian Worabay yang tidak sigap dalam menjaga lawan saat terjadinya gol pertama, melakukan sebuah pelanggaran di kotak penalti dan berbuah kartu merah langsung. Walaupun pelanggaran tersebut masih dapat diperdebatkan. Pun demikian dengan pelanggaran kedua di kotak penalti oleh M. Nasuha.

Sebenarnya, secara pribadi, aku merasa kurang puas dengan wasit yang memimpin jalannya pertandingan. Bukannya aku memihak SFC, tapi secara obyektif, banyak sekali keputusan wasit yang tidak tepat. Seperti halnya kartu merah yang didapat oleh Christian Worabay. Dalam pengamatanku, apa yang dilakukan oleh Christian Worabay merupakan sebuah body charge. Tidak ada kesan menjegal lawan. Selain itu, saat penalti kedua dilakukan, sebetulnya sudah berhasil diblok oleh Ferry Rotinsulu. Namun wasit memutuskan untuk mengulang tendangan karena ada pemain yang masuk ke dalam kotak penalti sesaat sebelum bola ditendang. Padahal sejauh yang aku lihat, yang dilakukan para pemain lain itu (baik dari SAFFC ataupun SFC) hanyalah melakukan gerakan. Bukan berlari ke dalam kotak penalti. Tapi mungkin wasit berpandangan lain. Walaupun demikian, SFC tetap menguasai pertandingan walaupun bermain dengan 10 orang saja. Tim tuan rumah tampaknya memang menerapkan taktik wait and see serta counter attack sejak awal.

Ada beberapa hal baru yang aku temui saat menyaksikan langsung di Jalan Besar Stadium. Yang pertama adalah jenis permukaan lapangan yang digunakan di stadion tersebut. Tidak seperti layaknya lapangan sepakbola pada umumnya, lapangan di stadion tersebut menggunakan artificial grass atau rumput buatan. Bagi pemain yang biasa main di rumput asli, tentu harus beradaptasi terlebih dahulu. Pergerakan bola akan menjadi lebih lambat dan pantulan bola akan terasa lebih berat. Walaupun untuk pertandingan internasional seharusnya menggunakan lapangan rumput asli, tapi FIFA juga mengesahkan penggunaan rumput buatan yang telah lolos uji kelayakan. Hal kedua yang aku temui adalah tidak adanya atmosfer sebuah pertandingan. Para penonton lebih kurang hanya sekitar 500-600 orang saja dari kapasitas total stadion sekitar 4000 kursi.. Itu pun sekitar hampir separuhnya adalah orang Indonesia yang berada di Singapore atau suporter yang memang sengaja datang dari Indonesia. Suporter dari SAFFC sendiri tampaknya suporter bayaran. Itu terlihat dari penggunaan seragam dan adanya cheerleaders layaknya pertandingan bola basket. Sedangkan penonton lainnya hanya duduk manis tak bersuara. Inilah pertama kalinya aku menonton sebuah pertandingan sepakbola, terlebih lagi dalam tingkat internasional, tetapi rasanya hanya seperti melihat latihan sehari-hari. Tidak ada ketegangan yang tercipta. Suara sepakan sepatu di permukaan bola terdengar lebih keras daripada suara suporter. Betul-betul “sunyi” untuk ukuran sebuah pertandingan sepakbola. Bandingkan dengan pertandingan-pertandingan sepakbola di Indonesia yang rata-rata dapat menghadirkan penonton hingga 10.000 orang. Pemain yang berpengalaman pun akan merasakan sedikit ketegangan di bawah sorakan suporter lawan.

Kerja Kerja Kerja

Capek..capek..capek…tiap hari kerja kayak kuli bangunan dari jam 10 pagi ampe 5 sore. Maklum, pasir pesanan yang ditunggu selama satu bulan akhirnya datang juga. Itu semua karena harus melalui mekanisme “minta duit” dari fakultas yang lumayan lama. Mau ngga mau harus kejar waktu biar selesai sebelum deadline. Sebenarnya, target kerja di dalam laboratorium cuma 2 bulan saja. Tapi berhubung 1 bulan hilang sia-sia, maka hari Sabtu dan Minggu pun terpaksa masuk lab lagi. Belum lagi nanti buat penulisan laporan. Pasti makan banyak waktu tuh. Aku sendiri merencanakan minimal 1 bulan untuk penulisan. Jika awal April harus sudah siap, maka bulan Maret harus bebas pekerjaan lab. Sebetulnya pekerjaannya tidak susah, tetapi memakan banyak waktu. Mau tau apa? Pekerjaannya yaitu memasang paving block di area seluas 2.2 m x 2.2 m. Kecil kan? Tapi kalau dituntut dikerjakan dengan jarak antar blok sebesar 3 mm, maka jadi memakan banyak waktu. Setiap blok harus diukur satu per satu. Belum lagi menyiapkan area kerja, memotong blok, pemadatan, dll. Untuk menyiapkan satu sampel saja membutuhkan waktu sekitar dua hari. Belum waktu yang diperlukan untuk test. Total sekitar tiga hari untuk sekali test. Aku sendiri merencanakan ada 12 test yang harus dilakukan. Artinya, minimal membutuhkan waktu 36 hari kerja. Dan itu harus dikerjakan terus menerus. Huah!!! capeknyaaaa…..tapi mau gimana lagi? Dah 1 bulan waktu terbuang demi pasir oh pasir….

Infotainment

Semua orang pasti pernah menonton program televisi yang satu ini. Selain karena menampilkan pesohor-pesohor negeri ini, tayangan yang satu ini juga dibuat seperti “berseri” sehingga penonton akan menunggu apa yang terjadi selanjutnya. Seiring dengan membeludaknya stasiun televisi swasta, semakin banyak pula program infotainment yang ditawarkan. Apalagi jam tayang yang diberikan berada di waktu-waktu senggang bagi orang-orang yang sibuk. Misalnya di pagi hari sebelum memulai aktifitas atau sore hari setelah beraktifitas. Bahkan pada waktu jam makan siang. Sebetulnya program ini sah-sah saja ditayangkan di jam manapun. Televisi sebagai sarana informasi dan hiburan memberikan keleluasaan bagi penonton untuk memilih acara. Permasalahan muncul karena materi yang ada dalam tayangan infotainment dirasa sebagian orang tidak cocok lagi. Fatwa haram dari MUI pun keluar walaupun ada syarat di dalamnya. Ghibah atau gosip di dalam tayangan tersebut yang diharamkan oleh MUI. Ironisnya, ghibah atau gosip ini sangat laku di pasaran, atau dengan kata lain di dalam masyarakat kita.

Memang susah untuk menghapus infotainment dari negeri kita ini. Bahkan bisa dibilang mustahil. Infotainment yang menayangkan berita ringan dan hiburan tentu sangat ditunggu pemirsa yang jenuh karena melihat berita-berita tentang kriminal. Tapi berita hiburan seperti apakah yang layak dipertunjukkan ke masyarakat luas? Hiburan yang dimaksud tentu tak lepas dari gemerlap dunia artis kita. Entah itu penyanyi, grup band, pemain sinetron, atau selebriti dari bidang-bidang lainnya. Jika mengacu pada hal terseut, maka seharusnya pemberitaan yang disampaikan berkaitan dengan apa yang dilakukan selebriti tersebut. Misalnya, jika mengenai seorang penyanyi, maka yang diberitakan adalah tentang lagu barunya, proses pembuatan video klip, atau prestasi penjualan albumnya. Begitu juga dengan pemain sinetron, yang diberitakan adalah sinetron yang sedang dijalaninya atau kesibukan dia di lokasi pengambilan gambar. Namun yang terjadi, infotainment malah memberikan porsi lebih pada kehidupan pribadi sang selebriti. Apakah si A akan cerai, apakah si B ganti pacar, atau apakah si C ingin menikah lagi, adalah berita-berita yang sudah umum di dalam suatu infotainment. Bahasa yang disampaikan pun seolah-olah si infotainment ini juga tidak tahu. Dengan menggunakan kalimat tanya, infotainment berusaha membuat pemirsa semakin bertanya-tanya. Keadaan pemirsa yang “bertanya-tanya” inilah yang sangat berpotensi menimbulkan ghibah atau gosip.

Layaknya ayam dan telur, tidak jelas manakah yang lebih dulu menjadi sebab antara berkembangnya infotainment atau berkembangnya budaya gosip di masyarakat kita. Banyak orang mengatakan bahwa seorang selebritis adalah public figure yang selalu disorot oleh masyarakat. Fakta itu benar adanya. Meskipun demikian, isi dapur seseorang tidak layak untuk dipertontonkan bagi masyarakat luas. Dengan alasan apapun. Tindakan-tindakan para selebritis yang “menyerang” infotainment telah menunjukkan bahwa mereka juga manusia. Tidak semua aspek dari mereka boleh diketahui oleh masyarakat luas. Bayangkan saja kita berada di posisi seorang selebritis yang kehidupan rumah tangga kita disiarkan ke masyarakat luas. Setiap kali kita pergi ke mall atau pusat keramaian, orang-orang akan melihat dengan pandangan bertanya-tanya. Belum lagi jika sudah memiliki anak, maka sang anak pun bisa tertekan saat teman-temannya di sekolah membicarakan tentang kehidupan orangtuanya. Itu merupakan suatu keadaan yang sungguh tidak nyaman. Bisa jadi sang produser program infotainment tetap adem ayem karena tidak dikenal masyarakat luas.

Kita memang tidak bisa untuk memvonis infotainment sebagai penyebab gosip karena hal seperti ini memang sangat sulit untuk dibuktikan. Bahkan infotainment juga tidak sendirian. Banyak tabloid-tabloid hiburan yang menyajikan menu serupa. Walaupun untuk media cetak, mereka selalu menyatakan bahwa sumber berita adalah dari selebriti yang bersangkutan. Entah memang sudah menjadi budaya atau tidak, tetapi ghibah atau gosip ini dapat memulai suatu hubungan pertemanan seperti yang ditunjukkan dalam salahsatu iklan provider GSM kita. Iklan tersebut menceritakan tentang seorang karyawan baru yang “tidak diizinkan” bergaul dengan karyawan-karyawan lama. Namun setelah si karyawan baru ini berteriak tentang sebuah gosip, maka karyawan-karyawan lama ini mulai mengajaknya bergabung. Untuk apa? untuk bergosip tentunya. Nah, apakah ini gambaran masyarakat kita? Entahlah. Di satu sisi ingin mencari keuntungan, di satu sisi menikmati apa yang diberikan. Selama masih ada peminat, infotainment tidak akan pernah mati walau digoyang sekeras apapun itu.

Ini (Bukan) Kandang Kita!

Tidak belajar dari pengalaman. Itulah yang terjadi pada timnas Merah Putih kita saat menghadapi Oman di laga kualifikasi Piala Asia mendatang. Secara umum, boleh dikatakan inilah penampilan terburuk timnas kita selama mengikuti kualifikasi. Bahkan bisa dikatakan bahwa timnas kita beruntung hanya menelan kekalahan 1-2. Permainan menyerang yang dikobarkan oleh pelatih Benny Dollo sebelum pertandingan, tidak terwujud sejak kick off di awal pertandingan. Jangankan untuk menyerang, menguasai bola di daerah sendiri pun susahnya minta ampun. Pemain-pemain Oman menerapkan pressing ketat sejak awal karena tahu bahwa kekuatan Indonesia terletak pada passing-passing pendek dan cepat. Pola permainan itu ternyata sangat efektif meredam permainan Indonesia. Terlebih lagi, secara fisik mereka lebih tinggi dan besar sehingga mudah saja menghalau bola-bola atas. Inilah beberapa kelemahan yang membuat tim Merah Putih menjadi pecundang di kandang sendiri.

1. Fisik

Sebetulnya, fisik bukanlah menjadi halangan dalam permainan sepakbola. Lihat saja para pemain timnas Spanyol yang sebagian besar hanya memiliki tinggi badan 170-an cm. Tapi mereka mampu menjuarai Piala Eropa lalu. Pun demikian dengan Lionel Messi yang berbadan mungil tapi mampu membuat gol dengan sundulan kepala di final Liga Champions Eropa. Padahal saat itu dia diapit oleh dua defender jangkung Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic. Nah, dengan postur tubuh yang kalah dibanding pemain Oman, seharusnya pemain-pemain kita bergerak aktif membuka ruang dan jangan terlalu lama menahan bola. Passing pendek dan cepat yang membuat Saudi Arabia dan Korsel kewalahan saat melawan timnas Merah Putih seharusnya kembali ditunjukkan. Tetapi yang terjadi, para pemain kita seperti kehilangan akal saat di-marking ketat oleh pemain Oman yang bertubuh lebih besar. Mereka kemudian melepaskan umpan yang seperti semaunya sendiri. Itu juga tak lepas dari pemain-pemain lain yang kurang aktif membuka ruang dan membantu teman yang di-marking oleh lawan.

2. First Touch

Penerapan bola-bola pendek dan cepat membutuhkan penguasaan yang prima. Terutama dalam hal first touch yaitu kontrol pertama saat menerima bola. Sepanjang pertandingan, tidak ada seorang pun yang mempunyai first touch yang baik. Selain karena umpan yang diberikan juga tanggung, para pemain kita seolah-olah baru mulai belajar bermain sepakbola. Bola setinggi lutut yang diberikan oleh teman pun sepertinya sangat sulit untuk dikuasai. Ini sangat mengecewakan bagi pemain dengan label pemain timnas. Ponaryo Astaman yang biasanya tenang dalam menerima umpan pun terlihat seperti panik saat pemain Oman mem-pressing dia. Demikian pula dengan Boaz Solossa yang biasanya lengket dengan bola saat menerima umpan sambil berlari, tampak kesulitan dalam menguasai bola. Setelah pemain kita mendapat bola, bisa dilihat bahwa tidak sampai 2-3 sentuhan bola sudah direbut kembali karena penguasaan yang jelek. Inilah penyebab utama permainan kita tidak bisa berkembang. Seperti kata pepatah, berdiri saja belum bisa kok mau berlari. Menguasai bola saja kewalahan, apalagi menyerang.

3. Konsentrasi

Ini adalah faktor paling penting dalam olahraga apapun. Sekali saja konsentrasi goyah, maka fatal akibatnya. Dua gol dari Oman sebenarnya bisa dicegah, atau setidaknya tidak akan terjadi dengan mudah apabila konsentrasi selalu optimal. Gol pertama yang terjadi dari bola mati pun sebenarnya dapat dicegah. Apalagi sebelumnya didahului dengan penganuliran gol dari Oman karena wasit belum meniupkan peluit. Tapi setelah diulang, tetap saja terjadi gol. Mungkin sebagian orang berpikir bahwa di saat itu memang sudah takdirnya terjadi gol, sehingga apapun yang terjadi tetap ada gol tercipta. Namun itu bukan alasan bagi para pemain. Sebenarnya, para pemain kita sudah “dibantu” dengan tendangan freekick yang diulang. Artinya kita dapat lebih menjaga daerah pertahanan. Tapi apa yang terjadi? Seorang pemain Oman dengan bebasnya menyundul bola dan mengarah keras ke gawang Indonesia. Keunggulan fisik lawan tidak dapat dijadikan alasan. Gol tersebut bisa dicegah, misalnya dengan tidak membuat pelanggaran di dekat kotak pinalti. Pelanggaran terjadi karena pemain kita sering salah posisi atau ketinggalan langkah karena kurangnya konsentrasi dalam penjagaan lawan.

Gol kedua yang terjadi pun karena kebiasaan pemain kita yang belum hilang yaitu kesadaran bahwa ada seorang wasit yang mengawasi pertandingan. Sesaat sebelum terjadi gol, terlihat para pemain kita menghentikan sejenak pergerakannya dan menoleh ke arah wasit seraya mengangkat tangan. Mereka seolah-olah ingin memberikan tanda bahwa ada pelanggaran yang terjadi. Tapi kenyataannya, wasit tidak melihat adanya suatu hal yang membuat dia harus menghentikan jalannya permainan. Dan akhirnya dengan leluasa salah seorang pemain Oman menendang bola sekeras-kerasnya tepat di depan penjaga gawang Markus Horison. Gol. Sepertinya kita semua harus memahami terlebih dahulu kenapa seorang wasit dalam olahraga biasanya menggunakan peluit. Faktor utama adalah suara. Bunyi yang dikeluarkan oleh peluit berbeda dengan suara manusia, sehingga mudah didengar dan dapat dihasilkan dalam waktu sekejap. Hal itu pulalah yang membuat para pemain tidak perlu menoleh kesana kemari untuk mencari wasit. Jika ada bunyi peluit, itu tandanya permainan harus dihentikan. Jika tidak ada, ya tetap bermain. Para pemain ini tugas utamanya bermain. Bukannya membantu wasit menjalankan tugasnya. Pemain-pemain kita ini tampak “manja” karena selalu mengharapkan wasit meniup peluit saat mereka melihat suatu kejadian yang mereka anggap sebagai pelanggaran. Mereka seolah-olah lupa bahwa wasit juga melihat dan wasit jugalah yang menentukan apakah itu pelanggaran atau tidak. Kejadian tersebut membuat konsentrasi pemain kita buyar walau hanya untuk beberapa detik saja. Tapi dalam beberapa detik itu pula, sebuah gol bisa tercipta.

4. Mental

Sejak awal sebelum pertandingan dimulai, kedua tim sebenarnya menanggung beban berat. Sekalipun timnas Merah Putih menang, mereka juga masih harus menghadapi tim tangguh Australia dalam lawatan berikutnya. Selain itu, nasib timnas kita juga masih harus menunggu hasil pertandingan lainnya. Di lain pihak, jika Oman memenangkan pertandingan, mereka masih mampu memforsir pertandingan di kandang saat menghadapi Kuwait yang di atas kertas levelnya masih di bawah Oman. Tekanan seperti inilah yang membuat pemain kita seolah-olah bermain dengan penuh ketegangan. Berbeda sekali saat tampil di Piala Asia 2007 lalu. Saat itu timnas kita bermain luar biasa memikat walaupun harus tumbang dari Saudi Arabia dan Korsel. Tetapi apa yang ditampilkan saat itu membuat suporter menomorduakan kekalahan. Mereka melihat permainan timnas kita yang memukau sehingga membuat tim-tim dari negara lain terperanjat. Nah, permainan itu tidak muncul lagi selepas Piala Asia 2007. Pola permainan kembali lagi seperti semula yaitu passing yang tidak akurat dan kontrol bola yang buruk. Apa yang terjadi? Kualitas Oman secara umum masih di bawah Saudi Arabia dan Korsel. Secara matematis, tim kita yang sebagian besar merupakan punggawa Piala Asia 2007 seharusnya bisa mengulanginya lagi. Mungkin tekanan untuk harus menang membuat seluruh pemain menjadi tegang. Terlebih lagi harus ketinggalan gol terlebih dahulu. Gol yang diciptakan Boaz pun terjadi karena skill individu Boaz itu sendiri dan “dibantu” oleh kesalahan pemain belakang Oman dalam menjaga pergerakan Boaz. Dengan level permainan lawan yang berada di atas timnas kita, bukan berarti permainan kita menjadi buruk. Perbedaan level hanya menghasilkan perbedaan jumlah gol yang diciptakan masih-masing tim. Bukannya perbedaan penampilan yang teramat jauh. Bila dicermati, possession ball Indonesia pun semakin menurun yang artinya Oman semakin menguasai pertandingan.

Buruknya permainan Indonesia bahkan membuat salah seorang penonton nekat memasuki lapangan pertandingan saat permainan masih berlangsung. Boleh jadi itu karena akumulasi kekecewaan selama menyaksikan timnas Merah Putih bertanding. Kekesalan dia terjadi karena kecintaan dia terhadap tim Merah Putih yang bermain buruk walaupun diluapkan dengan cara yang salah. Tapi mungkin kejadian itu bisa membuat kita sedikit terhibur. Seperti hujan yang membasahi bumi setelah sekian lama kekeringan. Tapi setelah itu kita harus kembali pada kenyataan. Gelora Bung Karno pun tidak mampu memberikan tuah sebagai medan pertempuran. Ini (bukan) kandang kita. Ada yang salah dengan persepakbolaan kita.

Hujan rintik mulai membasahi lereng pegunungan Bromo saat kami sampai di hotel. Udara yang dingin semakin menjadi-jadi. Kulangkahkan kakiku keluar dari jip yang membawa kami. Tak lama kemudian seseorang mendatangi kami. “Ban depan mobilnya kehabisan angin mas”, kata Yoyok. Kulihat ban yang dia maksud. Dan memang sudah betul-betul kehabisan angin. Sebetulnya ban kiri depan ini memang sudah tidak beres sebelum kami berangkat kemari. Semula kupikir tidak terlalu parah. Mungkin udara yang sangat dingin membuat angin di dalam ban cepat habis. Segera aku dan Habibi membongkar ban untuk menggantinya dengan ban cadangan. Kami harus berlomba dengan hujan yang mulai turun dengan deras. Tak sampai dua puluh menit kami sudah selesai mengganti ban. Selain oleh keringat, kaosku kini dibasahi oleh air hujan. Tapi tak mengapa karena aku memang berniat mandi setelah pulang dari melihat sunrise.

Bruk. Tasku mengeluarkan suara menghentak saat kuletakkan di atas kursi. Semua sudah selesai packing. Hujan pun sudah mulai reda. Kami mulai memindahkan barang-barang ke dalam mobil. Kulihat Nadra sedang menemui penjaga hotel untuk menyelesaikan pembayaran. Sebenarnya agak berat juga meninggalkan tempat ini. Rasanya masih teramat kurang untuk tinggal di sini hanya dalam waktu semalam. Tapi bagaimanapun juga kami harus kembali pulang. Mobil perlahan meninggalkan halaman hotel. Pelan-pelan roda mobil berputar menuruni jalanan yang curam dan licin karena hujan. Suasana di dalam mobil sangat tenang. Semua orang merasa lelah. Semua orang ingin menikmati pemandangan indah sebelum akhirnya mobil mencapai jalan besar dan bergerak kembali menuju Jogja.

Lima belas jam adalah waktu yang kami butuhkan untuk kembali ke Jogja. Dalam waktu normal, sebenarnya hanya membutuhkan waktu dua belas jam saja. Tetapi ada beberapa kejadian yang menghabiskan waktu kami. Aku mengemudikan mobil nonstop dari Bromo ke Jogja melalui jalur selatan. Jalanan yang melalui pegunungan yang sepi dan gelap. Rasa capek yang hinggap di tubuhku tidak aku hiraukan karena aku ingin secepatnya sampai ke rumah. Habibi yang sedari awal sudah tertidur masih tetap menikmati mimpinya. Nadra yang berjanji untuk menemaniku ternyata tertidur juga hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit sejak dia mengucapkan janji. Saat ini aku juga tidak mungkin membangunkan Habibi dan meminta untuk digantikan karena dia tidak tahu jalan. Akhirnya aku menguatkan diri hingga lampu-lampu kota Jogja nampak dari kejauhan. I am home. Sungguh menyenangkan. Sebuah petualangan yang hebat bersama tim yang hebat. Kurasa kami tidak akan kembali lagi dalam waktu yang cukup lama. Setidaknya sampai kami benar-benar rindu akan kuasa Tuhan yang dilukiskan dalam indahnya Bromo. Terima kasih. (habis)


The Bromo Experiences (4)

Sebuah bunyi-bunyian mengganggu tidurku. Aku masih belum sepenuhnya bangun ketika menyadari bahwa itu adalah bunyi alarm dari handphone-ku. Jam 02.30 di pagi hari. Malas rasanya untuk beranjak dari tempat tidur. Tapi aku harus segera bersiap-siap. Kami akan dijemput satu jam lagi. Kulihat Habibi di tempat tidur sebelah yang baru saja membuka matanya. Kemudian kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu, aku mengganti pakaianku dengan kaos yang bergambar tokoh wayang Bimasena alias Werkudoro. Kaos ini kubeli bersama Habibi dan Nadra. Masing-masing memiliki gambar yang berbeda. Gatotkaca menjadi pilihan Habibi dan Srikandi menjadi representasi dari Nadra. Aku sengaja tidak mandi pagi ini karena nanti kami akan berjalan mendaki gunung yang sudah tentu akan memeras keringat. Tak lupa aku meminum setengah botol M-150 sebelum aku keluar kamar. Keadaan di luar hotel sangat ramai. Banyak orang sudah berdatangan. Rupanya orang-orang ini memang sengaja datang untuk melihat sunrise saja. Kebanyakan berasal dari Surabaya. Mereka berangkat tengah malam dan perjalanan memakan waktu sekitar tiga jam. Pantaslah tidak banyak orang yang menginap di kawasan gunung Bromo ini. Tak lama kemudian Nadra keluar dari kamarnya dan disusul oleh Habibi yang sudah siap dengan jaket sewaannya. Tepat pukul 03.30 kami kemudian menaiki jip yang sudah menunggu di luar hotel sedari tadi.

Guncangan di dalam jip terasa cukup keras walaupun kami berjalan di atas aspal yang lumayan rata. Ini adalah kenyamanan yang wajar untuk sebuah jip. Aku dan Habibi yang duduk di kursi belakang harus memegang kursi di depan kami agar tidak terlempar di dalam jip. Setelah beberapa saat, jip mulai berjalan turun menuju sebuah dataran yang dipenuhi oleh kabut tebal. Aku sama sekali tidak bisa melihat apa yang ada di sekeliling kendaraan kami. Jarak pandang mungkin hanya sejauh satu meter saja. Sopir jip pun harus melihat arah tujuan dengan mendongakkan kepalanya keluar jendela. Lampu-lampu yang ada pun seakan tiada gunanya. Paling-paling hanya sebagai penanda bahwa disitu ada sebuah kendaraan. Kulihat tonggak-tonggak yang terbuat dari beton berjajar di tepi kiri dari jalan yang kami lalui. Awalnya aku tidak mengerti apa fungsi dari tonggak-tonggak tersebut. Apakah ada jurang di sebelah kiri jalan ini? Mengingat bahwa lokasi di daerah ini merupakan pegunungan. Tapi sesaat kemudian aku menyadari bahwa tonggak-tonggak tersebut berfungsi sebagai penunjuk arah. Dengan adanya kabut yang begitu tebal, tonggak-tonggak ini pun menjadi sesuatu yang amat penting dibandingkan lampu sejuta watt.

Dua puluh menit adalah waktu yang kami butuhkan untuk melintasi padang kabut tersebut. Kendaraan kami kemudian berhenti sejenak. Si sopir tampak sibuk memindahkan tuas persneling. Rupanya dia mengganti sistem persneling dari 2WD menjadi 4WD alias keempat rodanya bisa bergerak bersamaan. Hal ini berarti kami akan mulai mendaki lereng pegunungan. Jalanan yang kami lalui merupakan jalan pegunungan paling ekstrim yang pernah aku lalui. Sangat-sangat curam. Di beberapa ruas jalan, kemiringan dapat mencapai 20 derajat seperti yang terukur dalam inclinometer yang terletak di dashboard jip ini. Aku dan Habibi kembali harus memegang erat kursi di depan kami. Benar-benar serasa ingin jatuh terbalik. Menegangkan sekaligus menyenangkan. Setelah lebih kurang lima belas menit menit berjalan mendaki, kurasakan jalanan sudah mulai landai. Dari kejauhan langit sudah mulai berubah warna menjadi biru kehitaman. Kualihkan pandanganku ke bawah. Tampak iring-iringan jip yang sedang melintasi padang kabut yang telah kami lalui. Mungkin ada sekitar lebih dari sepuluh jip yang berjalan di belakang kami. Tak lama kemudian kami sudah mencapai lokasi. Sudah banyak kendaraan yang memarkirkan kendaraannya di tepi jalan. Maklum saja, tidak ada area parkir di atas sini. Si sopir mengingatkan kami untuk mencatat nomor plat jip yang kami tumpangi agar tidak bingung saat pulang nanti. Kami kemudian harus berjalan kaki selama lima menit untuk mencapai lokasi melihat sunrise. Fiuh…sudah banyak orang ternyata. Tampak pula wisatawan asing yang berada di antara orang-orang di sana. Dengan sigap, aku segera mencari lokasi terbaik untuk mengambil gambar. Tripod dan kamera sudah aku siapkan. Tinggal menunggu sang mentari untuk merekah di ufuk timur.

Langit kembali berubah. Sekarang tak lagi biru kehitaman. Tetapi semburat oranye sudah ikut menghiasi cerahnya pagi di puncak Penanjakan. Sungguh sebuah pemandangan yang hanya bisa kunikmati di dalam hati. Sangat sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Kulihat padang kabut yang kami lalui tadi. Dan juga gunung Bromo dan gunung Batok yang menyembul di antara pekatnya kabut pagi. Aku serasa ingin berteriak sekeras mungkin. Inilah ciptaan Sang Ilahi yang tiada tandingannya. Perlahan tapi pasti, sinar mentari sudah mulai menyala. Dan dalam sekejap si penguasa siang ini menampakkan dirinya bagaikan sebuah bola yang menyembul dari dalam air. Langit kembali berubah bagaikan sekumpulan aurora di sepanjang garis cakrawala. Sesaat bentuk matahari mengingatkan aku akan kuning telur mata sapi. Sungguh mirip. Kami pun segera mengambil gambar sebelum terlambat. Tak puas-puasnya aku memuji keindahan alam ini. Aku betul-betul beruntung bisa lahir dan hidup di negeri yang sangat indah ini, Indonesia.

Jam di tanganku menunjukkan pukul 04.40 di pagi hari saat matahari keluar dari sarangnya. Tak ingin rasanya bagi diriku untuk meninggalkan tempat ini. Benar-benar sebuah tempat yang aku inginkan. Tak banyak orang, penuh keindahan, dan menyejukkan hati. Kulihat kedua temanku. Mereka masih terpana dengan indahnya alam ini. Tanpa kami sadari, para pengunjung lainnya sudah meninggalkan tempat ini. Namun masih berat rasanya kami untuk mengangkat kaki dari sini. Bila aku mempunyai Pintu Kemana Saja milik Doraemon, tentunya setiap pagi aku akan datang kesini. Hangatnya sinar mentari menemani langkah kami yang berjalan kembali ke jip. Perjalanan turun kembali ke padang di bawah terasa lebih cepat. Mungkin karena kabut sudah mulai menipis dan pandangan menjadi lebih leluasa. Selama perjalanan turun, kulihat banyak pepohonan yang hangus terbakar. Itu ulah beberapa orang dengan maksud yang tidak jelas, menurut penjelasan si sopir. Tak lama kemudian kami hampir sampai di area parkir kendaraan di tengah padang pasir. Beberapa ojek kuda mendekati kami. Tapi kami sengaja tidak menyewa kuda karena ingin merasakan berjalan kaki hingga ke puncak gunung Bromo yang kami lihat dari atas tadi. Kami harus berjalan melintasi padang pasir sejauh lebih dari satu kilometer. Setelah itu, kami harus mendaki lereng gunung yang entah berapa jauh jaraknya. Sebanyak tiga kali kami harus berhenti untuk menarik nafas. Betul-betul membuat betis ini menjadi kekar. Kulihat banyak orang yang memilih untuk naik kuda. Mungkin hanya kami bertiga saja yang memilih untuk berjalan kaki. Selain tentunya si pemilik kuda yang harus menuntun kuda mereka masing-masing.

Sangat lelah. Berjalan di atas pasir dan mendaki gunung membuatku serasa ingin pingsan. Ditambah lagi sinar mentari yang  mulai menyengat walau jam masih menunjukkan pukul 06.05 pagi. Kutengadahkan kepalaku. Sebuah “ujian” terakhir harus kami hadapi sebelum berada di lereng kawah Bromo. Sebuah undak-undakan yang memiliki sekitar 250 anak tangga. Itu artinya aku harus mengangkat badanku sebanyak 250 kali juga. Haah! Membayangkan saja sudah membuatku kehabisan nafas. Dengan keringat yang bercucuran karena perjalanan awal tadi, kami pun mulai menaiki anak tangga. Mau tak mau kami harus berhenti sebanyak dua kali untuk mencegah terjadinya pingsan karena kekurangan oksigen. Saat berhenti sejenak, seorang bapak-bapak menyapaku saat dia berjalan menuruni tangga. “Ayo mas sedikit lagi. Masak ngga kuat sih.” Huh! Ingin rasanya kudorong orang itu biar terguling hingga dasar tangga. Aku yakin orang itu tadi naik kuda hingga bawah tangga. Makanya dia kuat menaiki tangga karena tenaga dia masih fresh. Coba dulu dong jalan dan mendaki sejauh lebih dari dua kilometer baru kemudian ngomong seperti itu. Sambil menggerutu dalam hati aku kembali menaiki tangga dengan nafas yang tersisa.

Lega rasanya saat kakiku menapakkan kaki di anak tangga terakhir. Aku heran kenapa aku bisa kehabisan nafas seperti ini. Kulihat di sekitar. Aku baru menyadari kalau kita ini berada di atas pegunungan. Berhubung gunung Bromo terletak di padang pasir yang luas, jadi seolah-olah mengaburkan kenyataan bahwa kita sudah berada di dataran tinggi semenjak di padang pasir. Hmm. Pantaslah aku mudah capek. Oksigen di pegunungan sangat tipis. Membuat kami susah untuk benafas. Bisa kubayangkan pemain bola yang harus bertanding di Wamena, Papua, yang memiliki ketinggian kurang lebih sama. Bau belerang langsung menyengat hidungku. Asap putih tebal keluar dari mulut kawah yang kemudian bergerak mengikuti arah angin. Ternyata begini rasanya di puncak sebuah gunung. Mata bisa memandang luas di kejauhan. Seolah-olah tidak ada yang bisa menghalangi. Garis-garis bekas aliran lava tampak terukir jelas di lereng gunung Bromo. Pun demikian dengan si “tetangga” yaitu gunung Batok. Walaupun keringat mengalir deras, tapi kami puas. Sangat puas. Tak lupa kami mengambil gambar sebelum kembali berjalan menuruni tangga. Tepat pukul 08.00 kami sampai di kendaraan kami. Hanya 30 menit waktu yang kami butuhkan untuk berjalan kembali. Sepuluh menit lebih cepat daripada waktu kami berangkat tadi. Dengan peluh yang membasahi sekujur tubuhku, kami kemudian berjalan kembali menuju hotel dengan sebuah kenangan yang sangat indah tertanam di benak kami masing-masing. (bersambung)


The Bromo Experiences (3)

Jalanan semakin menanjak. Untung kendaraan ini bisa aku andalkan. Sepanjang perjalanan kulihat di sekitar. Aku rasa tidak banyak tanaman sayur-sayuran layaknya di dataran tinggi lainnya semisal di Dieng. Mungkin karena tanahnya yang tidak cocok untuk tanaman sayuran. Kebanyakan memang hanya kentang yang ditanam di sepanjang lereng-lereng bukit. Bentuk lereng bukit yang dibuat menjadi terasiring pun menambah keindahan pemandangan selain berfungsi untuk mengurangi erosi dan lahan pertanian. Tak lama kemudian, kendaraan kami dihentikan oleh beberapa orang tepat di depan gerbang gunung Bromo. Orang-orang itu menjelaskan bahwa kendaraan umum hanya bisa sampai di sini. Untuk menuju kawah Bromo, padang pasir, atau Penanjakan (lokasi melihat sunrise), harus menggunakan jip karena kondisi jalan yang tidak memungkinkan bagi kendaraan biasa. Jadilah kami memarkirkan kendaraan di sebuah penginapan milik pemda Probolinggo sekaligus menyewa kamar. Harga per kamar dengan double bed hanya sebesar 200 ribu saja. Sebenarnya masih ada banyak hotel yang berlokasi tepat menghadap gunung Bromo. Tapi tentu saja lebih mahal. Kisaran harga bisa mencapai 400 – 600 ribu per malam. Jadilah kami menginap di penginapan pemda ini.

Jam masih menunjukkan pukul 10.30 siang hari saat kami merampungkan segala macam urusan yang berkaitan tentang perjalanan besok. Salahsatunya adalah menyewa jip seharga 400 ribu per kendaraan. Satu jip (Toyota Hardtop) mampu menampung lima penumpang. Yoyok, salahsatu dari pengurus paguyuban jip, mengatakan bahwa ada sekitar 152 jip yang beredar di kawasan gunung Bromo ini. Terkadang aku juga merasa lucu. Bayangkan saja, dalam satu wilayah, semua kendaraannya memiliki jenis yang sama. Hanya dibedakan dari plat nomor karena beberapa jip mempunyai warna yang sama. Dan orang-orang di wilayah itu mampu mengenali siapa pemilik masing-masing jip tersebut. Hebat deh. Setelah mengucapkan salam, kami pun beranjak ke kamar masing-masing untuk istirahat. Setelah membereskan barang, aku langsung tertidur. Terlebih lagi dengan udara yang begitu dingin menusuk hingga ke tulang. Pemanas air yang ada di kamar mandi pun seolah-olah hanya sebagai hiasan. Seluruh badanku terasa mengeras karena membeku disiram air sedingin es. Padahal saat itu hari masih siang. Tak terbayang bagaimana jika di malam hari.

Pukul 4 sore aku terbangun. Lumayan juga bisa tidur cukup lama. Kulihat keadaan di luar kamar. Tampak hujan rintik-rintik disertai kabut putih pekat yang mulai menyelimuti daerah ini. Brrr. Sudah bisa kubayangkan betapa dinginnya di luar sana. Setelah mencuci muka dengan air sedingin es, aku kemudian melangkahkan kaki keluar kamar. Sebetulnya aku tidak terlalu kaget dengan keadaan seperti ini. Selama di Jogja, aku sering pergi ke daerah yang bernama Kaliurang. Sebuah daerah berhawa dingin yang berada di kaki gunung Merapi. Aku sering pergi kesana di malam hari dan pulang sebelum subuh. Tapi hal yang membedakan adalah begitu tebalnya kabut yang turun di daerah ini. Tapi hal itu tidak menyurutkan niat bagi orang-orang yang sedang berkumpul di depan gerbang hotel. Rupanya halaman hotel ini memang dijadikan lokasi transit sebelum mendaki ke gunung Bromo. Sejenak kulihat di sekitar. Tak ada kendaraan lain selain mobilku. Apa karena bukan musim liburan ya? Entahlah. Aku kembali masuk ke dalam kamar. Kusiapkan peralatan mandi dengan tak lupa menyiapkan fisik juga untuk menghadapi sengatan dinginnya air.

Segar. Badan terasa dingin tapi nikmat. Setelah mengenakan pakaian, aku kembali keluar kamar. Aku bertanya dimana rumah makan terdekat ke salah seorang dari orang-orang di luar tadi. Ternyata di seberang hotel terdapat sebuah rumah makan kecil yang menyediakan beberapa menu sederhana semisal nasi rawon dan soto ayam. Aku kemudian mengajak Habibi dan Nadra untuk mencari makan. Kulihat mereka berdua keluar kamar dengan langkah gontai. Tak satupun dari mereka yang berani untuk mandi. Terutama Habibi yang semenjak masuk ke dalam kamar langsung “mengurung” diri di bawah selimut. Tapi kata “makan” seolah-olah menjadi mantera yang mujarab untuk meyeret mereka menuju rumah makan di seberang. Aku kemudian memesan nasi rawon. Bagiku nasinya tak cukup banyak. Terlebih lagi iklim yang begitu dingin akan semakin mempercepat proses kelaparan. Oleh karena itu tak lupa aku beli juga dua bungkus roti untuk dimakan di kamar hotel nanti. Sayup-sayup kudengar azan Maghrib dari kejauhan yang mengiringi langkah kami menuju hotel. Tak ada yang bisa kami lakukan malam ini. Kami hanya bisa istirahat untuk mempersiapkan esok hari. Kedua temanku langsung menuju kamar. Sedangkan aku masih berada di luar untuk sekedar menikmati suasana senja. Tak ada langit merah. Hanya kabut putih yang semakin tebal dan gerimis yang belum juga berhenti. Kemudian kulangkahkan kakiku untuk memasuki kamarku.

Selepas Isya, aku hanya menonton televisi yang ada di dalam kamar. Kulihat Habibi masih “bersarang” di bawah selimut. Sedikit rasa bosan melanda hatiku. Aku pun memilih untuk keluar kamar dan duduk di teras depan. Malam itu, makin banyak orang yang berkumpul di depan hotel. Salah satu dari mereka berjalan mendekatiku seraya membuka penutup kotak yang tampak berjajar di teras. Awalnya aku tidak menyadari kotak-kotak tersebut. Ternyata isinya adalah barang dagangan berupa topi gunung (kupluk), syal, dan sarung tangan. Aku yang gemar memakai kupluk kemudian bertanya berapa harganya. Orang itu menjawab “Dua puluh ribu.” Kutawar sepuluh ribu saja tetapi dia tidak mau. Akhirnya disepakati ambil jalan tengah yaitu lima belas ribu. Kupluk yang dijual boleh dikatakan sangat tebal. Dan ada satu kupluk yang warnanya lain daripada yang lain. Serta merta kuambil uang dan kubayar lunas. Sangat nyaman. Itulah perasaan pertama yang muncul saat aku mengenakannya. Kupanggil Habibi dan Nadra. Mereka pun dengan antusiasnya memilih apa yang mau dibeli. Dipilihlah sepasang sarung tangan untuk Habibi dan sebuah syal untuk Nadra. Harga yang diberikan pun sebenarnya cukup murah. Oleh karena itu aku pun tak perlu berpikir panjang saat mengeluarkan uang. Setelah itu, mereka berdua kembali ke kamar. Aku masih di luar untuk sekedar mengobrol dengan bapak penjual tadi. Banyak hal yang kami obrolkan hingga larut malam dan aku kemudian undur diri. Kami harus bangun pagi-pagi untuk melihat sunrise dari puncak gunung. Hmm…tak sabar rasanya. (bersambung)

The Bromo Experiences (2)

Sekitar satu jam lebih perjalanan dari Mojokerto, kami sudah memasuki daerah Gempol. Daerah yang mendadak populer berkat si lumpur Lapindo. Mataku mencari-cari papan penunjuk arah menuju kota berikutnya yaitu Pasuruan. Tak mudah memang. Minimnya petunjuk jalan membuatku pening. Terlebih lagi, Nadra yang berperan sebagai navigator tidak kuasa untuk membaca tulisan di papan petunjuk arah dari kejauhan. Mau tak mau aku juga harus aktif mencari papan penunjuk arah. Setelah melalui keruwetan yang entah disengaja atau tidak, akhirnya kami bisa menemukan jalan menuju Pasuruan dimana sebelumnya harus tersesat masuk ke dalam area perindustrian yang tak jelas namanya. Lega rasanya ketika gapura penanda bahwa kita sudah memasuki wilayah Pasuruan sudah terlewati. Aku pernah membaca ada jalur pendakian ke Bromo yang melalui kota Pasuruan ini. Tetapi aku tak tahu dimana. Kami berjalan hanya berbekal peta bonus dari sebuah majalah edisi lebaran lalu. Tak jelas dimana jalan dan arah yang harus dituju. Kulihat Habibi sudah mulai kecapekan. Aku pun menawarkan diri untuk menggantikan mengingat dia sudah hampir delapan jam mengemudi. Tentu saja waktu tempuh lebih dari itu karena Habibi harus “mencoba” toilet di berbagai SPBU sepanjang perjalanan. Hahaha.

Sejenak setelah aku bertukar posisi dengan Habibi, dengan cepatnya dia tertidur di kursi belakang. Rupanya dia benar-benar tidak tahan lagi menahan kantuk yang tampaknya cukup hebat mendera matanya. Atau mungkin juga dengan tertidur, dia mampu meredam “ledakan” yang mungkin masih berlangsung di dalam perutnya. Who knows? Sepanjang semuanya masih menikmati perjalanan, maka tak ada yang perlu dirisaukan. Setelah aku mengemudi, apa yang aku khawatirkan akhirnya terjadi. Tak hanya Habibi, Nadra yang bertugas sebagai “co-pilot” pun akhirnya ikut tertidur. Hal ini pernah kualami ketika aku dan ayahku pergi ke Surabaya. Hampir di sepanjang perjalanan ayahku tertidur dan aku harus mengemudi sendirian sambil ditemani lengkingan suara Axl Rose dari tape mobil. Sungguh sebuah keadaan yang menjebak.

Dari kejauhan aku melihat gapura selamat jalan dari kabupaten Pasuruan. Mobil kami kemudian melintasi sebuah jembatan pendek yang di ujung jembatan kulihat sebuah gapura selamat datang di kabupaten Probolinggo. Jadi jembatan inilah yang memisahkan teritori kedua kabupaten ini. Kepalaku kemudian celingukan kesana kemari. Aku mencari rumah makan yang sekiranya cukup ramai sebagai pertanda bahwa menu di tempat itu digemari banyak orang. Kulihat banyak rumah makan yang cukup ramai tapi berada di kanan jalan. Aku malas untuk memotong jalan. Aku berusaha mencari yang di sebelah kiri sehingga akan lebih mudah. Hanya berjarak sekitar dua kilometer dari gapura selamat datang, ada sebuah rumah makan yang cukup besar dan ramai. Tak perlu berpikir panjang, aku pun segera menekuk stir mobil untuk memasuki halaman rumah makan tersebut. Bersamaan dengan diparkirnya kendaraan yang aku kemudikan, di saat itulah Habibi dan Nadra terbangun. Mungkin radar dalam perut mereka memberitahukan bahwa mereka sudah berada di wilayah yang memungkinkan untuk memanjakan lidah dan perut.

Asin. Terlalu asin. Itu komentar Nadra tentang masakan yang dia makan. Bagiku sih tidak ada masalah. Yang penting perut bisa terisi penuh sebelum kami naik ke atas gunung. Walaupun tempat wisata populer seantero dunia, tapi sepertinya tidak banyak rumah makan di sekitar gunung Bromo. Selesai mengisi perut, kami pun beranjak pergi. Aku sempat bertanya sebentar kepada tukang parkir tentang jalan menuju Bromo dari rumah makan itu. Sepengetahuanku berdasarkan peta bonus itu, jalan yang menuju Bromo tidaklah begitu jauh dari rumah makan itu. “Tak sampai dua kilometer lagi nanti ada papan petunjuk arah ke Bromo. Belok ke arah kanan.” Begitu jawab si tukang parkir sembari memandu kendaraan kami keluar dari halaman rumah makan.

Gunung Bromo. Sebuah papan petunjuk mengarahkanku untuk berbelok ke kanan keluar dari jalan utama seperti perkataan tukang parkir tadi. Kulihat sekilas batu kilometer yang ada di tepi jalan. Masih lebih dari 40 km lagi untuk sampai ke gunung Bromo. Cukup Jauh. Sepanjang perjalanan, aku rasa hanya kamilah satu-satunya yang melewati jalan ini. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena bukan musim liburan. Atau ada jalur lainnya. Atau sebuah alasan lainnya. Jalan yang berkelok-kelok dan naik-turun tidak membuatku gentar. Aku sudah terbiasa. Malah aku sangat menyukai. Tapi tentu saja tidak bagi penumpang yang berada di kursi paling belakang. Perut akan terguncang dengan hebatnya. Kulihat Nadra yang tak henti-hentinya mengambil gambar dengan kamera Canon-ku. Tak jelas komentar apa yang keluar dari mulut si Nadra tentang pemandangan yang dia lihat. Selalu banyak bicara dan komentar. Khas orang-orang yang berasal dari Padang. Sedangkan Habibi masih sibuk dengan iPhone-nya. Dia lebih suka untuk mendengarkan musik dan duduk diam.

Tak lama kemudian sampailah kami di Sukapura. Sebuah pedesaan di kaki gunung dengan pemandangan sekitar bagaikan lukisan. Walau sebenarnya lukisan itu berdasarkan alam nyata. Begitu indah. Perjalanan jauh kami serasa terbayar walaupun belum sampai di tujuan utama. Pun begitu dengan Nadra yang semakin menjadi-jadi dalam mengomentari pemandangan sekitar. Betul-betul menunjukkan kuasa Sang Ilahi. Dari kejauhan kulihat kami akan memasuki daerah Ngadisari. Pedesaan yang berada di pegunungan Bromo. Udara dingin sudah mulai menyergap. Seketika itu pula aku matikan AC dan membuka jendela. Kuhirup udara yang kemudian membersihkan isi dari paru-paru-ku. Sungguh segar. Mataku kemudian terpaku pada sebuah gerbang dengan tulisan: Selamat Datang di Taman Nasional Gunung Bromo. accueillir les amis! (bersambung)

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.